Infomalangcom – Mengantuk meski merasa sudah tidur cukup sering membuat banyak orang bertanya-tanya. Secara umum, orang dewasa membutuhkan waktu tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam per malam.
Namun, kenyataannya tidak sedikit yang tetap merasa lelah, sulit fokus, bahkan kehilangan produktivitas walau jam tidur sudah terpenuhi.
Berdasarkan berbagai laporan kesehatan dan gaya hidup yang kerap diangkat media lokal, fenomena ini semakin sering dialami masyarakat perkotaan akibat pola hidup modern.
Kondisi tersebut tidak selalu berkaitan dengan durasi tidur, melainkan kualitas tidur serta faktor kesehatan lainnya. Berikut lima alasan yang jarang disadari mengapa rasa kantuk tetap muncul meski waktu istirahat sudah cukup.
Kualitas Tidur yang Buruk
Durasi tidur yang panjang tidak selalu menjamin tubuh benar-benar beristirahat. Kualitas tidur berperan besar dalam proses pemulihan fisik dan mental.
Tidur yang sering terbangun di malam hari, lingkungan kamar yang bising, atau paparan cahaya berlebih dapat mengganggu fase tidur dalam.
Padahal, fase tidur dalam atau deep sleep sangat penting untuk memperbaiki sel tubuh dan mengembalikan energi.
Selain itu, kebiasaan bermain ponsel sebelum tidur juga dapat menurunkan kualitas istirahat. Cahaya biru dari layar gawai menekan produksi hormon melatonin yang berfungsi mengatur siklus tidur. Akibatnya, tubuh memang tertidur, tetapi tidak mencapai kualitas istirahat yang optimal.
Gangguan Tidur yang Tidak Disadari
Beberapa orang mengalami gangguan tidur tanpa menyadarinya. Salah satu yang paling umum adalah sleep apnea, yaitu kondisi ketika pernapasan berhenti sementara saat tidur.
Gangguan ini membuat otak kekurangan oksigen dan memicu tubuh terbangun berulang kali dalam waktu singkat, meskipun penderitanya tidak selalu sadar.
Selain sleep apnea, insomnia ringan atau gangguan ritme sirkadian juga dapat menjadi penyebab. Ritme sirkadian adalah jam biologis tubuh yang mengatur kapan harus tidur dan bangun.
Jika jadwal tidur tidak konsisten setiap hari, tubuh menjadi sulit menyesuaikan diri sehingga kualitas istirahat menurun. Akibatnya, rasa kantuk tetap muncul meskipun jam tidur terlihat cukup.
Baca Juga : Kaya Vitamin dan Serat, Ini Kandungan Nutrisi Penting dalam Buah
Kurangnya Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik memiliki peran penting dalam menjaga kualitas energi harian. Tubuh yang jarang bergerak cenderung merasa lebih lelah dan lesu. Kurang olahraga dapat memperlambat metabolisme serta menurunkan sirkulasi oksigen ke seluruh tubuh.
Banyak pekerja yang menghabiskan waktu berjam-jam duduk di depan komputer tanpa diselingi peregangan. Kondisi ini membuat otot tegang dan aliran darah tidak optimal.
Meski sudah tidur cukup, tubuh tetap terasa berat saat bangun. Olahraga ringan seperti berjalan kaki tiga puluh menit per hari dapat membantu meningkatkan stamina dan kualitas tidur secara keseluruhan.
Pola Makan yang Tidak Seimbang
Asupan nutrisi juga memengaruhi tingkat energi. Konsumsi makanan tinggi gula sederhana dapat memberikan energi instan, tetapi efeknya cepat hilang dan digantikan rasa lemas.
Begitu pula dengan kebiasaan melewatkan sarapan atau makan tidak teratur, yang membuat kadar gula darah tidak stabil.
Kekurangan zat besi, vitamin D, atau vitamin B12 juga sering dikaitkan dengan kelelahan berkepanjangan. Tubuh membutuhkan nutrisi tersebut untuk memproduksi sel darah merah dan menjaga fungsi saraf. Jika kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi, rasa kantuk akan lebih mudah muncul meskipun waktu tidur sudah ideal.
Stres dan Beban Mental Berlebih
Kesehatan mental memiliki hubungan erat dengan kualitas energi harian. Stres yang berkepanjangan dapat meningkatkan hormon kortisol dalam tubuh. Kadar kortisol yang tinggi mengganggu pola tidur dan membuat pikiran sulit benar-benar rileks saat malam hari.
Beban pikiran yang terus aktif juga membuat otak tetap bekerja meskipun tubuh sedang beristirahat. Hal ini menyebabkan seseorang bangun dalam kondisi tidak segar.
Dalam beberapa kasus, kecemasan ringan hingga depresi dapat memicu rasa lelah terus-menerus. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara pekerjaan, istirahat, dan waktu relaksasi sangat penting untuk mencegah kantuk berlebihan.
Selain kelima faktor di atas, kebiasaan mengonsumsi kafein berlebihan atau kurang minum air putih juga dapat memengaruhi tingkat energi.
Tubuh yang mengalami dehidrasi ringan sekalipun bisa menunjukkan gejala lemas dan sulit konsentrasi. Mengatur gaya hidup sehat menjadi langkah awal yang bisa dilakukan sebelum memutuskan berkonsultasi lebih lanjut dengan tenaga medis.
Memahami bahwa rasa mengantuk tidak hanya dipengaruhi oleh lamanya tidur adalah kunci utama. Dengan memperbaiki kualitas istirahat, menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta mengelola stres, tubuh akan lebih siap menjalani aktivitas harian tanpa rasa lelah berlebihan.
Baca Juga : Dampak Hujan Es di Dua Kecamatan Jombang dan Imbauan Cuaca Ekstrem










