Infomalangcom – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa dampak besar dalam dunia digital, termasuk pada pembuatan gambar dan foto.
Dalam beberapa waktu terakhir, laporan dari berbagai pemberitaan teknologi dan literasi digital menyoroti semakin maraknya foto buatan AI yang beredar di media sosial.
Gambar-gambar tersebut kerap tampak realistis dan meyakinkan, sehingga tidak sedikit pengguna internet yang kesulitan membedakan mana foto asli dan mana hasil rekayasa teknologi.
Fenomena ini menjadi perhatian karena foto buatan AI berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi palsu, membentuk opini yang menyesatkan, hingga memicu kepanikan publik.
Oleh sebab itu, penting bagi masyarakat untuk memahami ciri-ciri foto hasil kecerdasan buatan agar tidak mudah terjebak dalam arus disinformasi.
Perkembangan Teknologi AI dalam Pembuatan Gambar
Teknologi generatif berbasis AI kini mampu menciptakan gambar dengan detail tinggi hanya melalui perintah teks.
Sistem ini bekerja dengan mempelajari jutaan referensi visual, lalu menghasilkan gambar baru yang terlihat alami. Kemampuan tersebut membuat foto buatan AI semakin sulit dikenali secara kasat mata.
Dalam sejumlah laporan literasi digital, pakar teknologi menyebut bahwa kemudahan akses terhadap aplikasi pembuat gambar AI membuat siapa pun dapat memproduksi konten visual tanpa keahlian fotografi. Kondisi ini mempercepat penyebaran foto manipulatif di berbagai platform media sosial.
Ciri Visual yang Perlu Diperhatikan
Salah satu cara mengenali foto buatan AI adalah dengan memperhatikan detail kecil yang sering kali tampak tidak konsisten. ‘
Misalnya, bentuk jari tangan yang berlebihan atau tidak proporsional, bayangan yang tidak sesuai arah cahaya, serta latar belakang yang terlihat kabur secara tidak wajar.
Selain itu, teks atau tulisan yang muncul dalam gambar sering kali terlihat tidak jelas atau memiliki ejaan yang keliru.
AI generatif masih kerap mengalami kesulitan dalam merender huruf dengan presisi sempurna, sehingga bagian ini bisa menjadi indikator penting.
Ekspresi wajah dalam foto AI juga terkadang terlihat terlalu simetris atau memiliki detail kulit yang sangat halus tanpa pori-pori alami.
Pada beberapa kasus, aksesori seperti kacamata atau anting tampak menyatu dengan kulit atau memiliki bentuk yang tidak logis.
Baca Juga : Polres Malang Edukasi Pelajar Lewat Sosialisasi Operasi Keselamatan Semeru
Periksa Sumber dan Konteks Unggahan
Selain menganalisis tampilan visual, pengguna media sosial juga perlu memeriksa sumber unggahan. Foto yang berasal dari akun anonim, tanpa keterangan lokasi jelas, atau tidak dilengkapi informasi waktu pengambilan patut dicermati lebih lanjut.
Banyak foto buatan AI digunakan untuk mendukung narasi tertentu, terutama dalam isu sensitif seperti bencana, politik, atau konflik sosial.
Dalam beberapa pemberitaan nasional, dijelaskan bahwa foto manipulatif sering dipakai untuk memperkuat klaim yang belum tentu benar.
Oleh karena itu, memeriksa konteks dan melakukan pencarian balik gambar melalui mesin pencari dapat membantu memastikan keaslian foto.
Dampak Penyebaran Foto AI terhadap Informasi Publik
Maraknya foto buatan AI di media sosial berdampak langsung pada kualitas informasi yang diterima masyarakat. Ketika gambar palsu tersebar luas, publik dapat dengan mudah terpengaruh secara emosional.
Foto yang menyentuh atau mengejutkan sering kali lebih cepat viral dibandingkan klarifikasi atau fakta yang sebenarnya.
Dampak lainnya adalah menurunnya tingkat kepercayaan terhadap konten digital secara umum. Jika masyarakat sulit membedakan antara foto asli dan rekayasa, maka kepercayaan terhadap media sosial sebagai sumber informasi dapat tergerus.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, media, dan komunitas literasi digital dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat.
Peran Literasi Digital dalam Menghadapi Foto AI
Menghadapi perkembangan teknologi AI, literasi digital menjadi kunci utama. Edukasi kepada masyarakat mengenai cara mengenali manipulasi visual perlu terus ditingkatkan.
Beberapa pakar komunikasi digital menyarankan agar pengguna tidak langsung membagikan foto yang belum terverifikasi kebenarannya.
Selain itu, penting untuk membiasakan diri bersikap kritis terhadap konten yang memicu emosi kuat. Jika sebuah foto terasa terlalu dramatis atau tidak masuk akal, langkah terbaik adalah melakukan pengecekan tambahan sebelum mempercayainya.
Dengan memahami ciri foto buatan AI yang beredar di media sosial, masyarakat dapat lebih bijak dalam menyaring informasi visual.
Kemampuan mengenali manipulasi gambar bukan hanya melindungi diri sendiri dari hoaks, tetapi juga membantu menjaga ruang digital tetap aman dan bertanggung jawab.
Baca Juga : Ritual Antar Dewa di Eng An Kiong, Bersihkan 36 Rupang Sambut Tahun Baru Imlek











