infomalangcom – Pemerintah Kota Batu memperkuat langkah antisipatif terhadap potensi peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) dengan mengintensifkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta menggerakkan kampanye 3M Plus secara masif di tingkat kelurahan dan desa.
Upaya ini dilakukan menyusul tren peningkatan kasus DBD yang umumnya terjadi saat musim hujan, ketika populasi nyamuk Aedes aegypti berkembang lebih cepat akibat banyaknya genangan air.
DBD masih menjadi salah satu penyakit menular prioritas di Indonesia. Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Indonesia mencatat puluhan ribu kasus DBD setiap tahun dengan puncak kasus biasanya terjadi pada kuartal pertama dan kedua.
Curah hujan yang tinggi serta perubahan cuaca ekstrem menjadi faktor utama meningkatnya populasi vektor penyebab DBD.
Tren DBD dan Risiko Musim Hujan
Wilayah Kota Batu yang berada di dataran tinggi memiliki curah hujan relatif tinggi pada musim penghujan.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan tempat perindukan nyamuk, terutama di lingkungan permukiman padat, selokan yang tidak lancar, serta wadah penampungan air rumah tangga.
Secara nasional, laporan Profil Kesehatan Indonesia yang diterbitkan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa angka incidence rate (IR) DBD fluktuatif setiap tahun, namun cenderung meningkat saat musim hujan.
Pemerintah pusat menargetkan penurunan angka kematian akibat DBD melalui penguatan deteksi dini dan pengendalian vektor berbasis masyarakat.
Selain faktor lingkungan, mobilitas penduduk dan kepadatan wilayah juga berkontribusi terhadap penyebaran virus dengue.
Sebagai kota wisata, Batu memiliki tingkat kunjungan wisatawan yang cukup tinggi, sehingga pengendalian DBD menjadi perhatian penting untuk menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat serta pengunjung.
Baca Juga : Gunung Semeru Kembali Erupsi 5 Kali dalam Sehari, Abu Capai 1 Km
Penguatan PSN sebagai Strategi Utama
Pemkot Batu menegaskan bahwa strategi utama pencegahan DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Langkah ini dinilai paling efektif karena menyasar langsung pada siklus hidup nyamuk.
Fogging atau pengasapan hanya membunuh nyamuk dewasa dan bersifat sementara, sementara telur dan jentik tetap bisa berkembang jika sumber genangan air tidak dibersihkan.
Pedoman pengendalian dengue dari World Health Organization menekankan bahwa pengendalian vektor berbasis komunitas adalah pendekatan paling berkelanjutan. Artinya, keberhasilan penanganan DBD sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat.
Di Kota Batu, PSN dilakukan secara rutin minimal satu minggu sekali melalui kegiatan gotong royong di tingkat RT dan RW.
Kader jumantik (juru pemantau jentik) juga diterjunkan untuk memantau tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, seperti bak mandi, talang air, pot tanaman, hingga barang bekas yang menampung air hujan.
Gerakan 3M Plus Diperkuat
Gerakan 3M Plus menjadi bagian penting dari strategi pencegahan. Konsep 3M meliputi:
Menguras tempat penampungan air secara rutin
Menutup rapat tempat penampungan air
Mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air
Sementara “Plus” mencakup berbagai langkah tambahan seperti menggunakan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi, memelihara ikan pemakan jentik, menanam tanaman pengusir nyamuk, hingga menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah.
Pemkot Batu mengintegrasikan kampanye 3M Plus melalui sekolah, posyandu, fasilitas kesehatan, serta media sosial resmi pemerintah daerah.
Edukasi juga difokuskan pada pengenalan gejala awal DBD seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, mual, serta munculnya bintik merah pada kulit.
Penanganan cepat di fasilitas kesehatan sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti dengue shock syndrome.
Kolaborasi Lintas Sektor
Upaya pengendalian DBD di Batu tidak hanya melibatkan Dinas Kesehatan, tetapi juga lintas sektor. Dinas Pendidikan berperan dalam sosialisasi di sekolah-sekolah, Dinas Lingkungan Hidup memastikan kebersihan lingkungan publik, sementara perangkat kecamatan dan desa mengoordinasikan kegiatan PSN di tingkat komunitas.
Sebagai kota yang mengandalkan sektor pariwisata, kawasan wisata dan penginapan juga menjadi perhatian khusus.
Lingkungan destinasi wisata harus dipastikan bebas dari potensi sarang nyamuk guna menjaga citra kota sebagai tujuan wisata yang aman dan sehat.
Pemerintah daerah juga mengoptimalkan sistem pelaporan kasus melalui puskesmas agar respons penanganan dapat dilakukan lebih cepat ketika ditemukan pasien positif DBD.
Jika ditemukan kasus dalam satu wilayah, investigasi epidemiologi akan dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Target Penurunan Kasus
Dengan penguatan PSN dan Gerakan 3M Plus, Pemkot Batu menargetkan penurunan angka kasus DBD dibandingkan periode sebelumnya.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan dan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Pemerintah menegaskan bahwa pencegahan DBD bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Upaya sederhana seperti rutin menguras bak mandi dan memastikan tidak ada genangan air di sekitar rumah dapat memberikan dampak besar dalam memutus rantai penularan.
Melalui pendekatan preventif, edukatif, dan kolaboratif, Kota Batu optimistis mampu menekan potensi lonjakan DBD selama musim hujan. Partisipasi aktif warga menjadi kunci agar ancaman DBD dapat dikendalikan secara berkelanjutan.
Baca Juga : Gelaran Kontes Kambing Mapec Solidarity di Malang Disambut Meriah Ribuan Pengunjung










