Infomalangcom – Sahur bukan sekadar formalitas sebelum puasa dimulai. Makan di waktu dini hari berperan penting dalam menjaga energi, konsentrasi, dan kestabilan gula darah sepanjang hari.
Namun, banyak orang masih melakukan kesalahan saat sahur yang justru membuat tubuh cepat lapar, lemas, bahkan sulit fokus.
Berdasarkan berbagai sumber kesehatan dan penjelasan ahli gizi, pola makan yang kurang tepat saat sahur dapat memengaruhi daya tahan tubuh selama berpuasa.
Berikut beberapa kesalahan umum yang perlu dihindari agar puasa tetap lancar dan tubuh tetap bertenaga.
Terlalu Banyak Mengonsumsi Karbohidrat Sederhana
Salah satu kesalahan paling umum adalah mengandalkan makanan tinggi karbohidrat sederhana seperti nasi putih dalam porsi besar tanpa kombinasi gizi seimbang.
Karbohidrat sederhana memang cepat memberikan rasa kenyang, tetapi juga cepat dicerna tubuh. Akibatnya, kadar gula darah naik dengan cepat lalu turun drastis, sehingga rasa lapar datang lebih awal.
Menurut penjelasan ahli gizi yang dikutip Kompas.com, bukan nasi yang sepenuhnya menjadi masalah, melainkan komposisi dan porsinya.
Jika hanya mengonsumsi nasi tanpa protein, serat, dan lemak sehat, energi tidak akan bertahan lama. Karbohidrat kompleks seperti oatmeal atau roti gandum, serta tambahan protein seperti telur dan tahu, dapat membantu rasa kenyang lebih lama.
Kurang Asupan Protein dan Serat
Protein dan serat memiliki peran penting dalam memperlambat proses pencernaan sehingga tubuh merasa kenyang lebih lama.
Banyak orang fokus pada makanan yang mengenyangkan secara instan, tetapi melupakan kandungan zat gizi yang mendukung daya tahan energi.
Sumber dari KlikDokter dan beberapa media kesehatan lainnya menyebutkan bahwa sahur idealnya mengandung kombinasi karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, dan serat.
Protein dapat diperoleh dari telur, ayam, ikan, tempe, atau kacang-kacangan. Sementara serat bisa didapat dari sayur dan buah. Tanpa dua komponen ini, tubuh lebih cepat mengirim sinyal lapar meski waktu belum terlalu siang.
Baca Juga: Ramadan Tanpa Drama, Mengelola Emosi Saat Lapar dan Lelah
Mengonsumsi Makanan Tinggi Garam dan Gorengan
Makanan asin dan berminyak memang terasa menggugah selera saat sahur, tetapi efeknya tidak selalu baik bagi tubuh yang akan berpuasa seharian.
Konsumsi garam berlebihan dapat meningkatkan rasa haus, sedangkan gorengan tinggi lemak jenuh cenderung membuat pencernaan bekerja lebih berat.
Beberapa artikel kesehatan Ramadan menyoroti bahwa makanan tinggi lemak dan garam bisa mempercepat dehidrasi. Ketika tubuh kekurangan cairan, rasa lemas dan lapar bisa muncul lebih cepat.
Oleh karena itu, mengurangi makanan yang terlalu asin serta memilih metode memasak yang lebih sehat seperti merebus atau mengukus menjadi pilihan yang lebih bijak.
Melewatkan Sahur atau Makan Terlalu Awal
Sebagian orang memilih melewatkan sahur karena sulit bangun atau merasa tidak lapar. Ada juga yang makan terlalu awal lalu kembali tidur.
Padahal, dari sisi medis, melewatkan sahur dapat menyebabkan tubuh kekurangan cadangan energi. Lembaga kesehatan yang dikutip dalam situs resmi MUI menjelaskan bahwa sahur membantu menjaga kestabilan metabolisme selama puasa.
Jika sahur dilewatkan, tubuh lebih cepat kehabisan energi dan risiko lemas meningkat. Makan mendekati waktu imsak juga membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama dibanding makan terlalu dini.
Kurang Minum Air Putih
Kesalahan berikutnya adalah tidak memenuhi kebutuhan cairan saat sahur. Tubuh membutuhkan hidrasi yang cukup agar fungsi organ tetap optimal selama puasa.
Kurang minum dapat menyebabkan dehidrasi ringan yang sering disalahartikan sebagai rasa lapar. Beberapa pakar nutrisi menyarankan pola minum yang cukup saat sahur, misalnya dua hingga tiga gelas air putih sebelum imsak.
Cairan membantu menjaga volume darah dan mendukung proses metabolisme. Hindari minuman berkafein berlebihan karena dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil dan mempercepat kehilangan cairan.
Tidak Mengatur Pola Tidur
Meski bukan bagian langsung dari makanan, pola tidur memengaruhi rasa lapar dan energi saat puasa. Kurang tidur dapat memicu perubahan hormon yang mengatur rasa lapar, sehingga seseorang merasa ingin makan lebih cepat.
Beberapa referensi kesehatan Ramadan menjelaskan bahwa kualitas tidur yang buruk dapat mengganggu keseimbangan hormon ghrelin dan leptin.
Akibatnya, tubuh lebih mudah merasa lapar dan lelah. Mengatur waktu tidur yang cukup sebelum dan sesudah sahur menjadi bagian penting dari persiapan puasa yang sehat.
Menjaga kualitas sahur berarti memperhatikan komposisi makanan, waktu makan, serta kebutuhan cairan dan istirahat.
Puasa yang lancar bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga tentang strategi nutrisi yang tepat. Dengan menghindari kesalahan umum saat sahur, tubuh dapat mempertahankan energi lebih stabil hingga waktu berbuka tiba.
Baca Juga: Ramadan di Era Digital, Tantangan Menjaga Iman di Tengah Godaan Informasi











