Infomalangcom – Menjalankan ibadah puasa adalah momen spiritual yang dinantikan banyak umat Muslim, termasuk mereka yang hidup dengan diabetes.
Namun, kondisi medis ini membuat keputusan untuk berpuasa tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Perubahan pola makan dan waktu konsumsi obat selama Ramadan dapat memengaruhi kestabilan kadar gula darah.
Sejumlah laporan kesehatan di media lokal beberapa waktu terakhir juga menekankan pentingnya edukasi dan konsultasi medis sebelum menjalankan puasa, terutama bagi kelompok dengan penyakit kronis.
Oleh karena itu, memahami aturan aman menjadi langkah penting agar ibadah tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan.
Memahami Kondisi dan Tingkat Risiko
Diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi atau menggunakan insulin secara efektif.
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 12 hingga 14 jam, tergantung durasi waktu puasa.
Pada individu sehat, tubuh dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan cadangan energi. Namun pada penderita diabetes, perubahan ini bisa memicu ketidakseimbangan kadar gula darah.
Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah hipoglikemia, yaitu kondisi ketika gula darah turun terlalu rendah, serta hiperglikemia, yaitu gula darah terlalu tinggi.
Selain itu, ada pula risiko dehidrasi dan ketoasidosis diabetik pada kasus tertentu. Tingkat risiko setiap orang berbeda, tergantung pada jenis diabetes, penggunaan insulin, riwayat komplikasi, serta kontrol gula darah sebelumnya.
Karena itu, sebelum Ramadan tiba, penderita diabetes dianjurkan menjalani pemeriksaan kesehatan. Dokter biasanya akan mengklasifikasikan apakah pasien termasuk kategori risiko rendah, sedang, atau tinggi untuk berpuasa. Keputusan ini harus berdasarkan evaluasi medis, bukan semata-mata keinginan pribadi.
Konsultasi Dokter dan Penyesuaian Pengobatan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mengubah dosis obat tanpa arahan tenaga medis. Padahal, pengaturan jadwal konsumsi obat atau insulin sangat krusial selama puasa.
Dokter mungkin akan menyesuaikan waktu minum obat menjadi saat sahur dan berbuka, serta menyesuaikan dosis untuk mencegah penurunan gula darah di siang hari.
Pemantauan gula darah secara berkala tetap diperlukan. Pemeriksaan ini tidak membatalkan puasa dan justru menjadi langkah penting untuk memastikan kondisi tetap aman.
Jika kadar gula darah berada di bawah 70 mg/dL atau di atas 300 mg/dL, penderita diabetes sebaiknya segera membatalkan puasa demi mencegah komplikasi serius.
Edukasi mengenai tanda-tanda darurat juga harus dipahami. Gejala seperti pusing berat, gemetar, keringat dingin, kebingungan, atau rasa sangat haus dapat menjadi sinyal adanya gangguan gula darah yang memerlukan tindakan segera.
Baca Juga : Produktif di Malam Hari? Begini Fakta dan Penjelasan Ilmiahnya
Pengaturan Pola Makan yang Tepat
Keberhasilan puasa bagi penderita diabetes sangat dipengaruhi pola makan saat sahur dan berbuka. Saat sahur, pilih makanan dengan indeks glikemik rendah seperti nasi merah, oatmeal, roti gandum, sayuran, serta protein tanpa lemak seperti telur atau ayam tanpa kulit.
Kombinasi karbohidrat kompleks, protein, dan serat membantu menjaga kadar gula darah lebih stabil sepanjang hari.
Saat berbuka, hindari konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan. Kebiasaan menyantap takjil tinggi gula secara berlebihan dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara tiba-tiba.
Disarankan berbuka dengan air putih dan kurma dalam jumlah terbatas, lalu dilanjutkan makanan utama dengan porsi seimbang.
Penting juga untuk mengatur porsi makan agar tidak berlebihan. Makan dalam jumlah besar sekaligus dapat membebani kerja insulin.
Lebih baik membagi makanan dalam dua tahap, yaitu saat berbuka dan setelah salat tarawih, dengan tetap memperhatikan total kalori harian.
Aktivitas Fisik dan Manajemen Cairan
Aktivitas fisik ringan tetap dianjurkan selama Ramadan. Jalan santai setelah berbuka atau menjelang malam dapat membantu menjaga sensitivitas insulin. Namun, olahraga berat di siang hari sebaiknya dihindari karena berisiko menurunkan gula darah secara drastis.
Kebutuhan cairan juga harus diperhatikan. Minumlah air putih yang cukup antara waktu berbuka hingga sahur untuk mencegah dehidrasi. Hindari minuman berkafein berlebihan karena dapat meningkatkan risiko kehilangan cairan.
Dengan perencanaan matang, pemantauan rutin, serta kepatuhan pada saran medis, sebagian penderita diabetes tetap dapat menjalankan puasa dengan aman.
Kunci utamanya adalah disiplin, kesadaran terhadap kondisi tubuh, dan kesiapan untuk membatalkan puasa jika kesehatan terancam.
Baca Juga : Kesalahan Umum Saat Sahur yang Bikin Cepat Lapar di Siang Hari











