Breaking

Buka Puasa Tanpa Kalap, Pola Makan yang Tepat agar Tubuh Tidak ‘Kaget’

Ahnaf muafa

19 February 2026

Buka Puasa Tanpa Kalap, Pola Makan yang Tepat agar Tubuh Tidak ‘Kaget’
Infomalangcom - Azan magrib berkumandang, meja penuh gorengan, es manis, dan makanan berat sudah menunggu.

Infomalangcom – Azan magrib berkumandang, meja penuh gorengan, es manis, dan makanan berat sudah menunggu.

Banyak orang mengaku ingin berbuka secukupnya, tetapi kenyataannya justru “balas dendam” setelah seharian menahan lapar dan haus.

Fenomena kalap saat azan bukan sekadar soal kurang kontrol diri, melainkan juga respons biologis tubuh yang sudah berpuasa sekitar 13 jam.

Tanpa pola makan yang tepat, tubuh bisa terasa kaget, lemas, bahkan mengantuk berat setelah berbuka. Memahami apa yang terjadi di dalam tubuh menjadi kunci agar buka puasa tetap nikmat tanpa efek samping.

Apa yang Terjadi pada Tubuh Setelah 13 Jam Tanpa Makan

Selama berpuasa, tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman dalam waktu yang cukup panjang. Menurut berbagai panduan kesehatan tentang puasa Ramadan, tubuh akan menggunakan cadangan energi dari glikogen yang tersimpan di hati dan otot.

Ketika cadangan ini menurun, kadar gula darah ikut turun. Inilah sebabnya banyak orang merasa lemas, sulit konsentrasi, atau mudah emosi menjelang waktu berbuka.

Selain itu, lambung berada dalam kondisi relatif kosong. Produksi asam lambung tetap berjalan, meskipun tidak ada makanan yang masuk.

Ketika makanan berat langsung dikonsumsi dalam jumlah besar, sistem pencernaan yang sebelumnya “istirahat” dipaksa bekerja keras secara tiba-tiba.

Kondisi ini bisa memicu rasa begah, nyeri, atau mual. Sejumlah sumber kesehatan juga menekankan bahwa tubuh memerlukan transisi yang bertahap dari kondisi puasa menuju kondisi makan normal.

Gula Darah Rendah dan Dampaknya

Gula darah yang menurun selama puasa sebenarnya merupakan respons normal. Namun, ketika berbuka dengan makanan atau minuman sangat manis dalam jumlah besar, gula darah dapat melonjak cepat.

Lonjakan ini memang memberi sensasi energi instan, tetapi tidak bertahan lama. Setelah itu, kadar gula bisa turun kembali secara drastis sehingga tubuh terasa lemas atau mengantuk.

Pola lonjakan dan penurunan gula darah ini juga berkaitan dengan rasa kantuk saat tarawih. Tubuh yang menerima asupan tinggi gula dan lemak sekaligus akan mengalihkan banyak aliran darah ke sistem pencernaan.

Akibatnya, muncul rasa berat dan mengantuk. Itulah sebabnya sejumlah panduan kesehatan menyarankan untuk tidak langsung mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak saat berbuka.

Baca Juga: Puasa bagi Penderita Diabetes, Aturan Aman yang Perlu Dipahami

Risiko Makan Berat Sekaligus

Langsung menyantap nasi, lauk berlemak, gorengan, dan minuman manis dalam satu waktu bisa meningkatkan risiko gangguan pencernaan.

Beberapa sumber kesehatan menyoroti kemungkinan kembung, refluks asam, hingga kenaikan berat badan bila pola ini dilakukan terus-menerus selama Ramadan.

Selain itu, makan berlebihan dalam satu waktu membuat kalori yang masuk sulit terkontrol. Padahal, tujuan puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih pengendalian diri.

Jika setiap hari berbuka dengan pola yang sama, manfaat kesehatan dari puasa bisa berkurang.

Strategi Dua Tahap agar Tubuh Tidak Kaget

Untuk menghindari tubuh kaget, strategi dua tahap saat berbuka bisa diterapkan. Tahap pertama dilakukan tepat saat azan magrib. Tahap kedua dilakukan setelah salat magrib atau tarawih.

Tahap pertama sebaiknya diisi dengan makanan ringan dan mudah dicerna. Air putih menjadi pilihan utama untuk mengatasi dehidrasi.

Kurma sering dianjurkan karena mengandung gula alami yang cepat diserap tubuh, sehingga membantu menaikkan gula darah secara bertahap.

Beberapa panduan kesehatan internasional juga menyarankan buah segar atau sup ringan sebagai pembuka agar lambung beradaptasi perlahan.

Setelah memberi jeda sekitar 10 sampai 20 menit, tahap kedua bisa dilakukan dengan makan utama. Pada tahap ini, pilihlah makanan seimbang yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta sayur.

Karbohidrat kompleks membantu menjaga kestabilan energi, sementara protein dan serat memberi rasa kenyang lebih lama. Porsi tetap perlu dikontrol agar tidak berlebihan.

Belajar dari Praktik Berbuka Sederhana

Praktik berbuka sederhana juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang dikenal berbuka dengan kurma dan air sebelum melaksanakan salat.

Kebiasaan ini selaras dengan prinsip kesehatan modern yang menekankan transisi bertahap bagi tubuh setelah berpuasa.

Dengan memulai dari yang ringan, sistem pencernaan diberi waktu untuk “bangun” tanpa beban berlebihan. Buka puasa tanpa kalap bukan berarti menahan diri secara ekstrem, melainkan mengatur pola makan dengan sadar.

Memahami kondisi gula darah yang menurun, lambung yang kosong, serta risiko lonjakan gula membantu kita membuat keputusan yang lebih bijak.

Dengan strategi dua tahap dan pilihan makanan seimbang, tubuh dapat beradaptasi secara perlahan sehingga ibadah malam tetap terasa ringan dan energi tetap terjaga sepanjang Ramadan.

Baca Juga: Kesalahan Umum Saat Sahur yang Bikin Cepat Lapar di Siang Hari

Author Image

Author

Ahnaf muafa