Infomalangcom – Bulan Ramadan membawa perubahan besar dalam ritme harian umat Muslim. Jadwal sahur sebelum fajar, ibadah malam seperti tarawih, serta aktivitas sosial setelah berbuka membuat waktu istirahat bergeser. Banyak orang menyadari jam tidur mereka berkurang, namun aktivitas justru meningkat.
Pertanyaannya bukan sekadar apakah kurang tidur itu melelahkan, melainkan bagaimana tubuh dan iman mampu beradaptasi selama sebulan penuh.
Perubahan Pola Tidur Selama Ramadan
Perubahan utama terjadi pada ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Sahur yang dilakukan dini hari memaksa seseorang bangun lebih awal dari biasanya.
Tinjauan sistematis yang dipublikasikan di PubMed menunjukkan bahwa selama Ramadan total waktu tidur rata rata berkurang sekitar satu jam dibandingkan periode sebelum puasa.
Penelitian tersebut juga mencatat peningkatan kantuk di siang hari. Tidur menjadi terfragmentasi. Banyak orang kembali tidur setelah sahur, namun kualitasnya berbeda dibanding tidur malam utuh.
Studi berbasis polisomnografi menemukan adanya perubahan pada fase tidur tertentu, termasuk potensi penurunan proporsi tidur REM. Artinya, meski durasi tampak cukup, kualitas pemulihan tubuh bisa berbeda.
Perbedaan pola tidur juga terlihat antara pelajar, pekerja, dan kelompok lain. Penelitian pada mahasiswa menunjukkan penurunan durasi tidur dan peningkatan gejala insomnia selama Ramadan.
Adaptasi tubuh tetap terjadi, tetapi membutuhkan waktu dan pengaturan kebiasaan yang lebih disiplin.
Dampak Fisik pada Tubuh
Kurang tidur berdampak pada energi dan daya tahan tubuh. Kombinasi puasa dan tidur yang berkurang dapat membuat tubuh terasa lebih cepat lelah, terutama pada minggu awal Ramadan.
Studi terhadap mahasiswa menemukan penurunan kualitas tidur yang berkaitan dengan meningkatnya rasa kantuk dan kelelahan.
Gangguan konsentrasi dan produktivitas juga menjadi tantangan. Penelitian pada atlet mahasiswa menunjukkan adanya peningkatan kantuk di siang hari selama Ramadan.
Hal ini dapat memengaruhi performa akademik maupun pekerjaan jika tidak diantisipasi. Dari sisi metabolisme, puasa sebenarnya memiliki mekanisme adaptif.
Namun kurang tidur yang berkepanjangan dapat mengganggu keseimbangan hormon yang berperan dalam regulasi energi.
Risiko dehidrasi juga meningkat apabila asupan cairan saat sahur dan berbuka tidak mencukupi, sehingga tubuh terasa semakin lemah.
Baca Juga: Challenge 30 Hari Ramadan untuk Menjadi Versi Diri yang Lebih Baik
Dampak Mental dan Emosional
Perubahan pola tidur berpengaruh pada kondisi emosional. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kualitas tidur dan kesejahteraan psikologis selama Ramadan.
Individu dengan tidur yang terganggu cenderung melaporkan peningkatan stres dan perubahan suasana hati. Kesulitan fokus dalam belajar atau bekerja sering kali muncul pada siang hari. Kurang tidur dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan dan kecepatan berpikir.
Namun respons setiap individu berbeda. Ada yang cepat beradaptasi, ada pula yang membutuhkan strategi tambahan seperti tidur singkat di siang hari.
Menariknya, sebagian penelitian juga menemukan bahwa praktik spiritual yang meningkat selama Ramadan dapat memberikan efek positif pada kesejahteraan psikologis.
Artinya, dimensi iman dapat menjadi faktor penyeimbang di tengah kelelahan fisik.
Dimensi Spiritual di Tengah Kelelahan
Ramadan identik dengan peningkatan ibadah malam seperti tarawih dan tadarus. Aktivitas ini sering memangkas waktu tidur, tetapi juga memberikan makna spiritual yang mendalam.
Tantangannya adalah menjaga kekhusyukan saat tubuh sedang lelah. Islam sendiri menekankan keseimbangan. Menjaga kesehatan termasuk bagian dari tanggung jawab pribadi.
Memaksakan diri hingga kelelahan ekstrem demi tuntutan sosial bukanlah tujuan utama ibadah. Spiritualitas yang sehat justru tumbuh dari konsistensi, bukan dari kompetisi kuantitas.
Di tengah perhitungan jam tidur yang berkurang, ada hal yang sering luput dari kesadaran. Manusia bisa menghitung durasi istirahat dengan angka, tetapi kualitas pemulihan tetap berada di luar kendali sepenuhnya.
Tubuh memang mengikuti hukum biologis, namun nikmat tidur dan rasa segar setelah bangun bukan sekadar hasil kalkulasi matematis.
Ada dimensi ketergantungan kepada Tuhan yang memberi kemampuan tubuh untuk beradaptasi. Kesadaran ini membuat Ramadan bukan sekadar soal mengurangi jam istirahat, melainkan belajar percaya bahwa ada keseimbangan yang dijaga oleh Yang Maha Memberi nikmat tidur itu sendiri.
Dalam konteks ini, iman dapat berfungsi sebagai sumber motivasi internal. Rasa tujuan dan makna sering membantu seseorang bertahan menghadapi kelelahan fisik sementara.
Strategi Menjaga Keseimbangan Tubuh dan Iman
Mengatur ulang jadwal tidur menjadi langkah penting. Tidur lebih awal setelah tarawih dapat membantu mengompensasi bangun sahur.
Tidur singkat di siang hari juga terbukti membantu memulihkan kewaspadaan tanpa mengganggu tidur malam secara signifikan.
Prioritas ibadah yang realistis perlu ditetapkan. Konsistensi lebih penting daripada aktivitas berlebihan yang tidak berkelanjutan.
Pola makan sahur dan berbuka yang seimbang, cukup cairan, serta menghindari konsumsi berlebihan menjelang tidur dapat mendukung kualitas istirahat.
Fenomena sosial seperti budaya begadang sering menambah tekanan. Kesadaran bahwa kualitas ibadah lebih penting daripada kuantitas membantu individu membuat keputusan yang lebih sehat.
Pada akhirnya, tubuh dan iman bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua aspek yang perlu dijaga secara bersamaan selama Ramadan.
Baca Juga: Masjid di Era Konten, Ibadah atau Latar Belakang Story?












