Breaking

3 Cara Praktis Menjaga dan Mengelola Energi Selama Puasa Ramadan

3 Cara Praktis Menjaga dan Mengelola Energi Selama Puasa Ramadan
3 Cara Praktis Menjaga dan Mengelola Energi Selama Puasa Ramadan

Infomalangcom – Bulan Ramadan menjadi momen istimewa yang dijalani umat Muslim dengan penuh kesadaran spiritual sekaligus tantangan fisik.

Perubahan pola makan dan waktu istirahat membuat tubuh harus beradaptasi agar tetap kuat menjalani aktivitas harian.

Di berbagai daerah, termasuk wilayah Malang dan sekitarnya, ritme kehidupan selama Ramadan tetap berjalan dinamis.

Aktivitas pasar takjil, pekerjaan kantor, kegiatan belajar mengajar, hingga agenda sosial masyarakat tetap berlangsung seperti biasa.

Kondisi ini menuntut setiap individu untuk mampu menjaga dan mengelola energi secara tepat agar tidak mudah lemas, mengantuk, atau kehilangan fokus.

Puasa yang dijalani dengan strategi yang benar justru dapat meningkatkan kualitas kesehatan sekaligus produktivitas.

Mengoptimalkan Kualitas Sahur sebagai Sumber Energi Utama

Sahur bukan sekadar makan sebelum imsak, tetapi merupakan fondasi utama energi selama berpuasa. Banyak orang masih menganggap sahur sebagai formalitas, sehingga memilih makanan instan atau tinggi gula yang memang cepat memberikan rasa kenyang, namun tidak bertahan lama.

Padahal, tubuh membutuhkan asupan yang mampu dilepaskan secara bertahap agar energi stabil sepanjang hari.

Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang rebus, oatmeal, atau roti gandum lebih dianjurkan karena proses cernanya lebih lambat.

Jenis makanan ini membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan mencegah rasa lemas menjelang siang. Protein juga sangat penting untuk mempertahankan daya tahan tubuh.

Telur, ayam tanpa lemak, ikan, tahu, dan tempe dapat menjadi pilihan sumber protein yang mudah didapat dan terjangkau.

Selain itu, konsumsi sayur dan buah saat sahur membantu memenuhi kebutuhan serat serta vitamin. Serat berperan dalam menjaga sistem pencernaan tetap sehat dan mengurangi risiko gangguan lambung selama puasa.

Buah dengan kandungan air tinggi seperti semangka, melon, atau pepaya juga membantu menjaga hidrasi tubuh.

Hal yang tidak kalah penting adalah kecukupan cairan. Minumlah air putih secara bertahap, bukan sekaligus dalam jumlah besar.

Hindari minuman berkafein berlebihan karena dapat memicu dehidrasi. Dengan pola sahur yang tepat, tubuh memiliki cadangan energi yang cukup untuk menghadapi aktivitas hingga waktu berbuka.

Baca Juga : Cabai Tak Lagi Pedas di Harga, Ayam di Malang Kian Menggigit

Mengatur Ritme Aktivitas dan Menjaga Keseimbangan Istirahat

Energi yang terjaga tidak hanya bergantung pada makanan, tetapi juga pada cara seseorang mengatur aktivitasnya.

Selama Ramadan, banyak orang tetap bekerja penuh waktu, mengikuti kegiatan sekolah, bahkan menghadiri acara sosial di malam hari. Tanpa pengaturan yang baik, tubuh bisa mengalami kelelahan berlebihan.

Waktu pagi biasanya menjadi periode paling produktif karena energi masih stabil. Manfaatkan jam-jam awal untuk menyelesaikan tugas penting atau pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Menjelang siang dan sore hari, sebaiknya kurangi aktivitas fisik berat agar tidak mempercepat rasa lelah.

Istirahat singkat atau power nap selama 15 hingga 20 menit dapat membantu memulihkan fokus dan meningkatkan kewaspadaan.

Tidur singkat ini tidak membuat tubuh terasa berat, tetapi cukup untuk memberi kesempatan otak beristirahat. Jika memungkinkan, atur jadwal tidur malam lebih awal agar total waktu istirahat tetap terpenuhi meski harus bangun sahur.

Mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur juga membantu meningkatkan kualitas istirahat. Paparan cahaya biru dari layar dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang mengatur rasa kantuk.

Dengan tidur yang cukup dan berkualitas, tubuh mampu memperbaiki sel-sel yang lelah dan menjaga daya tahan selama berpuasa.

Mengontrol Pola Berbuka agar Energi Stabil hingga Malam

Momen berbuka sering kali menjadi ajang “balas dendam” setelah menahan lapar dan haus seharian. Padahal, makan berlebihan justru membuat sistem pencernaan bekerja terlalu keras dan menyebabkan rasa kantuk. Untuk menjaga energi tetap stabil, berbukalah secara bertahap.

Awali dengan air putih untuk mengganti cairan yang hilang. Konsumsi kurma atau makanan manis alami dalam jumlah wajar untuk mengembalikan kadar gula darah. Hindari langsung menyantap makanan berat dalam porsi besar karena dapat memicu gangguan pencernaan.

Setelah jeda singkat, lanjutkan dengan menu utama yang seimbang antara karbohidrat, protein, lemak sehat, dan serat.

Pilih metode memasak yang lebih sehat seperti merebus, mengukus, atau memanggang dibandingkan menggoreng.

Terlalu banyak makanan berminyak dapat membuat tubuh terasa berat dan mengurangi semangat beribadah di malam hari.

Jika masih merasa lapar setelah tarawih, tambahkan camilan sehat seperti buah, kacang-kacangan, atau yogurt rendah gula.

Pola makan yang teratur dan tidak berlebihan membantu tubuh menyiapkan energi kembali untuk sahur keesokan hari.

Menjaga dan mengelola energi selama Ramadan membutuhkan kedisiplinan serta kesadaran terhadap kebutuhan tubuh.

Dengan memperhatikan kualitas sahur, mengatur aktivitas harian, serta mengontrol pola berbuka, puasa dapat dijalani dengan lebih nyaman dan produktif.

Pendekatan yang konsisten bukan hanya membantu menjaga kebugaran, tetapi juga menjadikan Ramadan sebagai momentum membangun gaya hidup yang lebih sehat dan seimbang.

Baca Juga : UKMPPG 2026 di UIN Malang Diikuti 7.998 Peserta, Ujian Berjalan Lancar Tanpa Kendala Jaringan