Infomalangcom – Fenomena hujan es melanda dua kecamatan di Kabupaten Jombang dan mengejutkan warga setempat. Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan hujan lebat dan angin kencang pada sore hari, sehingga menimbulkan kepanikan sekaligus kerusakan ringan di sejumlah rumah warga.
Hujan es merupakan fenomena cuaca ekstrem yang tergolong jarang terjadi di wilayah dataran rendah Jawa Timur, termasuk Jombang.
Kejadian ini pun menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah daerah karena berkaitan dengan kondisi atmosfer yang tidak stabil.
Menurut penjelasan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG, hujan es dapat terjadi ketika awan cumulonimbus berkembang sangat tinggi akibat pemanasan kuat di permukaan bumi.
Butiran es terbentuk dari uap air yang membeku di lapisan atmosfer atas sebelum akhirnya jatuh ke permukaan ketika ukuran dan beratnya cukup besar. Fenomena ini umumnya berlangsung singkat, antara lima hingga lima belas menit.
Kronologi dan Wilayah Terdampak
Berdasarkan laporan warga dan aparat desa, hujan es turun bersamaan dengan intensitas hujan deras dan angin kencang.
Dua kecamatan yang terdampak mengalami kondisi serupa, yakni suara benturan butiran es di atap rumah dan kendaraan. Beberapa genteng dilaporkan retak serta daun tanaman rusak akibat tertimpa es.
Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Jombang melakukan pendataan cepat untuk memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka serius.
Hasil sementara menunjukkan kerusakan bersifat ringan dan tersebar di beberapa titik permukiman warga. Aparat juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Baca Juga : Challenge 30 Hari Ramadan untuk Menjadi Versi Diri yang Lebih Baik
Penyebab Hujan Es Menurut BMKG
BMKG menjelaskan bahwa hujan es biasanya dipicu oleh pertumbuhan awan cumulonimbus yang intens akibat kombinasi suhu panas di siang hari dan kelembapan udara tinggi.
Di wilayah Jawa Timur, kondisi peralihan musim atau pancaroba sering memicu cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir.
Data klimatologi BMKG menunjukkan bahwa periode pancaroba umumnya terjadi pada Maret–April dan September–November.
Pada fase ini, perbedaan suhu udara antara siang dan malam cukup signifikan sehingga memicu pembentukan awan konvektif yang tinggi. Meski jarang, hujan es dapat muncul di berbagai daerah Indonesia saat kondisi atmosfer mendukung.
BMKG juga menegaskan bahwa hujan es bukan pertanda fenomena supranatural, melainkan murni proses ilmiah di atmosfer. Edukasi ini penting untuk mencegah kesalahpahaman di masyarakat.
Dampak terhadap Masyarakat dan Lingkungan
Walaupun berlangsung singkat, hujan es dapat menimbulkan dampak fisik pada bangunan ringan, atap rumah berbahan asbes, serta tanaman pertanian.
Beberapa warga mengaku khawatir karena suara benturan cukup keras dan tidak biasa. Namun hingga laporan terakhir, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Selain kerusakan fisik, dampak psikologis juga dirasakan sebagian warga yang belum pernah mengalami kejadian serupa. Oleh sebab itu, pemerintah daerah dan aparat setempat berupaya memberikan penjelasan ilmiah agar masyarakat tetap tenang.
Secara ekonomi, kerugian yang ditimbulkan relatif kecil dibandingkan bencana besar seperti banjir atau angin puting beliung.
Namun demikian, kesiapsiagaan tetap diperlukan mengingat perubahan iklim global meningkatkan potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
Imbauan Resmi dan Langkah Antisipasi
BMKG mengimbau masyarakat untuk memantau informasi cuaca resmi melalui kanal komunikasi yang tersedia. Jika terjadi hujan lebat disertai angin kencang dan petir, warga disarankan berlindung di dalam bangunan yang kokoh dan menjauhi pohon besar atau papan reklame.
BPBD Kabupaten Jombang juga meminta masyarakat memastikan atap rumah dalam kondisi baik serta memangkas ranting pohon yang berpotensi tumbang saat angin kencang.
Kesiapsiagaan keluarga, seperti menyimpan nomor darurat dan mengikuti arahan aparat, menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko.
Fenomena hujan es di dua kecamatan Jombang menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem dapat terjadi kapan saja. Dengan pemahaman ilmiah yang benar serta koordinasi antara pemerintah dan masyarakat, dampak kejadian serupa dapat ditekan seminimal mungkin.
Edukasi mengenai perubahan cuaca dan kesiapan menghadapi bencana menjadi kunci menjaga keselamatan bersama di tengah dinamika iklim yang semakin tidak menentu.
Baca Juga : Atasi Banjir Kota Malang, Puguh DPRD Jatim Siapkan 4 Strategi












