Infomalangcom – Lailatul Qadar merupakan salah satu momen paling agung dalam ajaran Islam. Keutamaannya ditegaskan dalam Al-Qur’an serta diperkuat oleh berbagai hadis sahih dan kajian tafsir klasik maupun kontemporer.
Sejumlah penelitian akademik tentang Surah Al-Qadr juga menyoroti dimensi linguistik, historis, dan spiritual malam ini.
Berikut tujuh keistimewaan Lailatul Qadar berdasarkan sumber primer dan kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
1. Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan
Dalam Surah Al-Qadr ayat 3 disebutkan bahwa malam ini lebih baik dari seribu bulan. Secara matematis, seribu bulan setara dengan sekitar 83 tahun 4 bulan.
Artinya, nilai ibadah pada malam tersebut melampaui ibadah sepanjang usia manusia rata-rata. Kajian tafsir klasik seperti karya ath-Thabari dan al-Qurthubi menjelaskan bahwa keutamaan ini menunjukkan pelipatgandaan pahala secara luar biasa, bukan sekadar simbolik.
Studi linguistik tentang kata qadr dalam jurnal akademik juga menegaskan makna kemuliaan dan ketetapan yang terkandung di dalamnya.
Implikasi spiritualnya jelas: umat Islam didorong untuk memaksimalkan ibadah karena peluang pahala pada malam ini tidak tertandingi.
2. Malam Diturunkannya Al-Qur’an
Surah Al-Qadr ayat 1 menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam tersebut. Para ulama menjelaskan bahwa penurunan itu terjadi secara sekaligus ke Lauh Mahfuzh, lalu diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad selama sekitar 23 tahun.
Proses bertahap ini memiliki hikmah pedagogis dan sosial, menyesuaikan dengan kondisi umat saat itu. Kajian historis dan tafsir akademik menekankan bahwa peristiwa ini menjadi fondasi perubahan peradaban Arab dan dunia.
Dengan demikian, Lailatul Qadar bukan sekadar malam ibadah, tetapi momentum turunnya wahyu yang membentuk sejarah.
3. Malaikat Turun ke Bumi dengan Izin Allah
Ayat keempat Surah Al-Qadr menyatakan bahwa para malaikat dan Ruh turun dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.
Mayoritas mufasir mengidentifikasi Ruh sebagai Malaikat Jibril. Dalam tradisi tafsir, turunnya malaikat menandakan limpahan rahmat dan keberkahan.
Kehadiran malaikat pada malam tersebut menjadi simbol dukungan ilahi bagi hamba yang beribadah. Literatur akademik yang membahas keutamaan malam ini menjelaskan bahwa konsep turunnya malaikat memperkuat dimensi spiritual dan metafisik Lailatul Qadar dalam teologi Islam.
Baca Juga: Antara Zuhud dan Ambisi, Bagaimana Islam Memandang Kekayaan
4. Penuh Kedamaian hingga Terbit Fajar
Ayat terakhir Surah Al-Qadr berbunyi salamun hiya hatta mathla’il fajr, yang berarti malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.
Para ahli tafsir memaknai kata salam sebagai keselamatan dari gangguan dan dominasi keburukan. Penafsiran ini menunjukkan bahwa suasana malam tersebut sarat ketenangan batin dan kedamaian spiritual.
Dibandingkan malam biasa, Lailatul Qadar memiliki nilai sakral yang menjadikannya momentum refleksi, doa, dan kedekatan dengan Tuhan secara intensif.
5. Malam Pengampunan Dosa
Hadis sahih riwayat Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj menyebutkan bahwa siapa pun yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan ihtisab akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Syarat iman menunjukkan keyakinan penuh, sedangkan ihtisab berarti mengharap pahala dari Allah semata. Para ulama menjelaskan bahwa momentum Ramadan memperkuat peluang taubat karena suasana spiritual kolektif yang mendukung perbaikan diri.
Dengan demikian, malam ini menjadi kesempatan nyata untuk memulai lembaran baru.
6. Penetapan Takdir Tahunan
Dalam Surah Ad-Dukhan ayat 4 dijelaskan bahwa pada malam penuh berkah ditetapkan segala urusan yang penuh hikmah.
Banyak mufasir mengaitkan ayat ini dengan Lailatul Qadar. Konsep penetapan takdir tahunan dipahami sebagai rincian ketetapan Allah yang berlaku selama satu tahun ke depan.
Perspektif teologis Islam menekankan bahwa ketetapan tersebut berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah, sekaligus mendorong manusia untuk tetap berikhtiar dan berdoa.
7. Waktu Mustajab untuk Berdoa
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah, ia bertanya doa apa yang dibaca jika menjumpai Lailatul Qadar. Nabi mengajarkan doa memohon ampunan kepada Allah yang Maha Pemaaf.
Anjuran memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan juga ditegaskan dalam berbagai hadis sahih.
Strategi praktisnya meliputi qiyamullail, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, dan i’tikaf pada malam-malam ganjil.
Pendekatan ini sejalan dengan praktik Nabi dan para sahabat dalam menghidupkan malam tersebut secara maksimal.
Baca Juga: Moral Dulu atau Agama Dulu, Mana yang Lebih Mendasar












