Infomalangcom – Puasa dalam Islam bukan sekadar menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Ibadah ini memiliki dimensi spiritual dan akhlak yang jauh lebih dalam. Banyak umat Muslim memahami syarat sah dan pembatal puasa, tetapi kurang memperhatikan adab yang menyempurnakan nilainya.
Padahal, berbagai ulama dan lembaga keislaman menegaskan bahwa kualitas puasa sangat bergantung pada bagaimana seseorang menjaga sikap, lisan, dan perilakunya sepanjang hari.
Apa Itu Adab Puasa dalam Islam?
Adab puasa adalah etika dan tata krama yang menyertai ibadah puasa agar tidak hanya sah secara hukum fikih, tetapi juga bernilai maksimal di sisi Allah.
Rukun puasa berkaitan dengan niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan. Sementara itu, adab menyentuh aspek moral dan spiritual seperti menjaga lisan, pandangan, dan emosi.
IslamWeb menjelaskan bahwa orang yang berpuasa diperintahkan menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa, bukan hanya menahan makan dan minum.
NU Online juga menekankan pentingnya menjauhi ghibah, dusta, dan perbuatan tercela agar pahala puasa tidak berkurang.
Jika seseorang hanya fokus pada sah dan batal tanpa memperhatikan akhlak, puasanya bisa sah secara hukum tetapi kehilangan nilai pembinaan takwa yang menjadi tujuan utama.
Baca Juga: Hubungan Agama dan Politik, Ketika Nilai Spiritual Bertemu Strategi Kekuasaan
10 Adab Puasa dalam Islam yang Sering Dilupakan
1. Meluruskan Niat karena Allah
Puasa bukan tradisi tahunan atau sekadar mengikuti kebiasaan lingkungan. Niat yang ikhlas menjadi fondasi utama. Ulama menekankan bahwa ibadah tanpa keikhlasan rentan tercampur riya dan pencitraan religius. Meluruskan niat berarti memastikan puasa dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah.
2. Menjaga Lisan dari Ghibah dan Ucapan Buruk
IslamWeb dan NU Online sama-sama mengingatkan bahwa ghibah, fitnah, dan debat kasar dapat merusak nilai puasa.
Nabi mengajarkan agar orang yang berpuasa tidak berkata kotor dan tidak membalas provokasi dengan kemarahan. Walau tidak membatalkan secara fikih, perbuatan tersebut dapat mengurangi pahala.
3. Menahan Amarah dan Emosi
Puasa adalah latihan pengendalian diri. Saat diprovokasi di sekolah, tempat kerja, atau media sosial, seorang Muslim dianjurkan merespons dengan tenang.
Dalam beberapa riwayat disebutkan agar orang yang berpuasa mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa ketika menghadapi pertengkaran, sebagai bentuk pengingat diri.
4. Menjaga Pandangan
Menjaga pandangan termasuk adab penting yang sering diabaikan, terutama di era digital. Ulama menjelaskan bahwa mata adalah pintu hati.
Apa yang dilihat dapat memengaruhi kebersihan jiwa. Karena itu, puasa seharusnya menjadi momentum untuk lebih selektif dalam mengakses konten.
5. Tidak Berlebihan Saat Berbuka
Baznas Sukabumi menekankan pentingnya sikap sederhana ketika berbuka. Moderasi dalam makan merupakan bagian dari ajaran Islam.
Berlebihan setelah seharian menahan lapar justru bertentangan dengan semangat pengendalian diri yang dilatih selama puasa.
6. Mengakhirkan Sahur dan Menyegerakan Berbuka
Praktik ini dicontohkan Nabi dan dijelaskan dalam berbagai referensi, termasuk IslamHouse dan tulisan tentang adab puasa klasik.
Mengakhirkan sahur mendekati waktu subuh dan menyegerakan berbuka saat matahari terbenam adalah bagian dari sunnah yang mengandung hikmah spiritual dan kesehatan.
7. Memperbanyak Doa Menjelang Berbuka
Waktu menjelang berbuka dikenal sebagai waktu mustajab untuk berdoa. IslamHouse dan al-Islam.org menjelaskan bahwa doa orang yang berpuasa memiliki kedudukan istimewa.
Oleh karena itu, sebaiknya momen ini diisi dengan doa, bukan sekadar distraksi berlebihan.
8. Mengisi Waktu dengan Ibadah
Tilawah Al-Qur’an, dzikir, dan menghadiri kajian menjadi cara menghidupkan hari-hari puasa. Puasa tidak seharusnya dijadikan alasan untuk bermalas-malasan.
Justru bulan Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an dan peningkatan ibadah.
9. Memperbanyak Sedekah dan Kepedulian Sosial
Sayyid Abdullah al-Haddad dan berbagai referensi lain menekankan anjuran memberi makan orang yang berbuka dan memperbanyak sedekah.
Puasa melatih empati terhadap mereka yang kekurangan. Bentuk kepedulian bisa berupa berbagi makanan, donasi, atau membantu tetangga yang membutuhkan.
10. Menjaga Akhlak Sepanjang Hari
Adab puasa tidak terbatas pada momen tertentu. Konsistensi sikap dari pagi hingga malam menjadi ukuran kualitas ibadah. Puasa bertujuan membentuk karakter yang lebih sabar, jujur, dan peduli.
Jika setelah puasa akhlak tidak berubah, maka perlu ada evaluasi diri.
Baca Juga: Fanatisme Agama, Ketika Iman Berubah Menjadi “Mabuk Keyakinan”










