Infomalangcom – Ramadhan selalu menghadirkan dua istilah yang sering disebut bersamaan, yaitu Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar.
Keduanya sama-sama berkaitan dengan turunnya Al-Qur’an, sehingga tidak sedikit orang mengira bahwa keduanya merujuk pada peristiwa yang sama.
Padahal, jika ditelusuri dari sisi bahasa, dalil Al-Qur’an, serta penjelasan para ulama, terdapat perbedaan konseptual yang cukup mendasar.
Memahami perbedaan ini penting agar umat Islam tidak keliru dalam memaknai sejarah turunnya wahyu sekaligus memahami prioritas ibadah di bulan Ramadhan secara lebih tepat dan proporsional.
Asal-Usul Istilah dan Makna Konseptual
Nuzulul Qur’an secara bahasa berasal dari kata nuzul yang berarti turun. Secara istilah, Nuzulul Qur’an merujuk pada peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad di Gua Hira, yaitu Surah Al-‘Alaq ayat 1–5.
Peristiwa ini menandai dimulainya proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun masa kenabian.
Di Indonesia, Nuzulul Qur’an umumnya diperingati setiap 17 Ramadhan sebagai bentuk penghormatan terhadap momentum awal turunnya wahyu, meskipun penetapan tanggal tersebut lebih bersifat tradisi keagamaan daripada ketetapan tekstual yang pasti.
Sementara itu, Lailatul Qadar terdiri dari kata lailah yang berarti malam dan qadar yang berarti kemuliaan, ukuran, atau ketetapan.
Dalam Al-Qur’an, Lailatul Qadar disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ini diyakini sebagai malam diturunkannya Al-Qur’an dan terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil.
Berbeda dengan Nuzulul Qur’an yang berfokus pada awal turunnya wahyu pertama, Lailatul Qadar menekankan pada kemuliaan malam serta besarnya nilai ibadah di dalamnya.
Dalil Al-Qur’an yang Menjelaskan
Al-Qur’an memberikan penegasan tentang Lailatul Qadar dalam Surah Al-Qadr ayat 1–5 yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan.
Surah Ad-Dukhan ayat 3 juga menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam yang diberkahi. Para mufasir menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut dipahami sebagai penurunan Al-Qur’an secara keseluruhan ke Lauhul Mahfuz atau ke langit dunia sebelum kemudian diturunkan secara berangsur kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril.
Adapun dalil mengenai awal turunnya wahyu terdapat dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 yang menjadi wahyu pertama.
Riwayat hadis sahih menjelaskan bagaimana Malaikat Jibril menyampaikan ayat tersebut kepada Nabi Muhammad di Gua Hira.
Sejak peristiwa itu, wahyu turun secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dakwah dan kondisi sosial umat saat itu.
Proses bertahap ini menunjukkan hikmah ilahi dalam membimbing manusia secara perlahan agar ajaran dapat dipahami dan diamalkan secara optimal.
Baca Juga: Apa yang Dimaksud Tadarus Al-Qur’an dan Mengapa Dianjurkan di Bulan Ramadhan?
Perbedaan Konsep Turunnya Al-Qur’an
Perbedaan utama antara Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar terletak pada tahapan turunnya Al-Qur’an. Para ulama menjelaskan adanya dua tahap penurunan.
Tahap pertama adalah penurunan secara keseluruhan pada malam Lailatul Qadar. Tahap kedua adalah penurunan secara berangsur kepada Nabi Muhammad selama masa kenabian.
Dengan demikian, Nuzulul Qur’an merujuk pada bagian awal dari tahap kedua, yakni turunnya wahyu pertama. Sementara Lailatul Qadar merujuk pada malam yang menjadi momentum penurunan Al-Qur’an sekaligus malam yang memiliki keutamaan ibadah yang sangat besar.
Keduanya berkaitan erat, tetapi tidak identik dan tidak dapat dipertukarkan secara makna.
Mengapa Masyarakat Sering Menyamakan Keduanya?
Kesamaan tema tentang turunnya Al-Qur’an membuat banyak orang menyamakan kedua istilah ini. Kata diturunkan sering dipahami secara sederhana tanpa melihat penjelasan ulama mengenai dua tahap penurunan.
Selain itu, tradisi peringatan 17 Ramadhan kerap dipahami sebagai malam turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan, padahal konteksnya berbeda.
Faktor lain adalah penyederhanaan materi dalam ceramah atau pengajaran agama. Penjelasan yang terlalu ringkas membuat detail teologis tidak tersampaikan dengan utuh.
Akibatnya, masyarakat memahami Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar sebagai peristiwa yang sama hanya karena sama-sama terjadi di bulan Ramadhan dan berkaitan dengan Al-Qur’an.
Implikasi Jika Salah Memahami
Kesalahan memahami perbedaan ini dapat memengaruhi fokus ibadah. Jika seseorang menganggap 17 Ramadhan sebagai malam paling utama secara mutlak, ia bisa mengurangi kesungguhan dalam mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir.
Padahal, anjuran untuk memperbanyak ibadah secara intens justru ditekankan pada periode tersebut. Selain itu, penyempitan makna sejarah wahyu membuat hikmah turunnya Al-Qur’an secara bertahap kurang dipahami.
Proses gradual tersebut menunjukkan kebijaksanaan dalam membimbing umat secara sistematis dan kontekstual.
Tanpa pemahaman yang tepat, Ramadhan berpotensi direduksi menjadi sekadar peringatan seremonial tahunan, bukan momentum refleksi mendalam terhadap sejarah wahyu dan peningkatan kualitas hubungan spiritual dengan Al-Qur’an secara sadar, konsisten, dan bertanggung jawab.
Baca Juga: Bolehkah Ngaji Lewat HP? Ini Hukum dan Adab Membaca Al-Qur’an Digital











