Infomalangcom – Puasa Ramadhan adalah ibadah wajib yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Namun, selain rukun dan syarat sah, terdapat berbagai amalan sunnah yang dianjurkan untuk menyempurnakan kualitas puasa.
Sunnah berarti sesuatu yang dicontohkan dan dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ. Mengamalkannya bukan kewajiban, tetapi menunjukkan kesungguhan dalam mengikuti tuntunan beliau.
Dengan memahami amalan sunnah ini, seorang muslim dapat menjalani Ramadhan secara lebih optimal, tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga meningkatkan kualitas spiritual dan sosial.
1. Sahur
Sahur adalah makan atau minum pada waktu malam sebelum terbit fajar dengan niat berpuasa. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa dalam sahur terdapat keberkahan, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim.
Keberkahan tersebut mencakup kekuatan fisik untuk menjalani puasa dan pahala karena mengikuti sunnah. Selain itu, sahur membantu menjaga stamina sehingga ibadah lain seperti shalat dan membaca Al-Qur’an tetap dapat dilakukan dengan baik sepanjang hari.
2. Mengakhirkan Waktu Sahur
Mengakhirkan sahur hingga mendekati waktu Subuh merupakan bagian dari sunnah. Dalam hadis sahih dijelaskan bahwa jarak antara sahur Nabi dan azan Subuh sekitar waktu membaca lima puluh ayat Al-Qur’an.
Batas berhenti makan adalah terbit fajar, bukan waktu imsak yang sering dijadikan batas tambahan di sebagian masyarakat.
Dengan mengakhirkan sahur, tubuh memperoleh asupan energi lebih dekat ke waktu puasa dimulai, sehingga daya tahan fisik lebih terjaga.
3. Menyegerakan Berbuka Puasa
Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk segera berbuka ketika matahari telah terbenam. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.
Batas berbuka yang benar adalah masuknya waktu Maghrib. Menunda berbuka tanpa alasan syar’i tidak dianjurkan karena bertentangan dengan tuntunan Nabi.
Sunnah ini juga menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang seimbang dan tidak memberatkan.
Baca Juga: Bolehkah Ngaji Lewat HP? Ini Hukum dan Adab Membaca Al-Qur’an Digital
4. Berbuka dengan Kurma atau Air
Nabi ﷺ berbuka dengan kurma segar. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan kurma kering, dan jika tidak ada, maka dengan air. Praktik ini diriwayatkan dalam hadis yang dinilai hasan sahih.
Kurma mengandung gula alami yang cepat diserap tubuh, sehingga membantu memulihkan energi. Jika kurma tidak tersedia, air sudah cukup untuk membatalkan puasa.
Sunnah ini menekankan kesederhanaan dan menghindari sikap berlebihan saat berbuka.
5. Membaca Doa Ketika Berbuka
Membaca doa saat berbuka termasuk sunnah yang dianjurkan. Di antara doa yang diriwayatkan adalah doa yang dibaca setelah berbuka sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Dawud.
Waktu berbuka termasuk saat yang mustajab untuk berdoa. Doa berbuka mengandung makna syukur atas nikmat dan pengakuan bahwa kekuatan berpuasa berasal dari Allah.
Membiasakan doa saat berbuka membantu menjaga dimensi spiritual puasa.
6. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an
Ramadhan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. Rasulullah ﷺ bertadarus bersama Jibril setiap Ramadhan.
Tradisi memperbanyak tilawah menjadi bagian penting dari amalan sunnah. Membaca, memahami, dan merenungkan Al-Qur’an selama Ramadhan memperdalam hubungan seorang muslim dengan wahyu.
Target realistis seperti khatam satu kali selama sebulan dapat menjadi langkah yang terukur.
7. Memperbanyak Sedekah
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan dan semakin dermawan pada bulan Ramadhan. Sedekah bisa berupa makanan berbuka, bantuan finansial, atau dukungan lainnya kepada yang membutuhkan.
Puasa menumbuhkan empati terhadap orang yang merasakan kekurangan. Dengan bersedekah, nilai sosial puasa semakin terasa dan memperkuat solidaritas dalam masyarakat.
8. Menjaga Lisan dan Perilaku
Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan dan perilaku. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Allah tidak membutuhkan orang yang berpuasa jika ia tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk.
Menjaga diri dari ghibah, fitnah, dan ucapan kasar menjadi bagian dari kesempurnaan puasa. Tanpa akhlak yang baik, pahala puasa dapat berkurang.
9. I’tikaf di Sepuluh Hari Terakhir
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat ibadah. Rasulullah ﷺ melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadar.
Praktik ini diriwayatkan dalam hadis sahih. I’tikaf membantu meningkatkan fokus ibadah, menjauhkan diri dari kesibukan dunia, dan memperkuat kedekatan spiritual dengan Allah pada akhir Ramadhan.
10. Memperbanyak Doa dan Istighfar
Orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak hingga ia berbuka. Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk memperbanyak doa dan istighfar.
Taubat yang tulus menunjukkan kesadaran atas kekurangan diri dan keinginan untuk memperbaiki kualitas hidup.
Doa dan istighfar memperkuat hubungan spiritual serta menjadikan puasa lebih bermakna daripada sekadar kewajiban tahunan.
Baca Juga: Perbedaan Tadarus dan Tilawah Saat Ramadan yang Perlu Kamu Ketahui










