Bulan Ramadan di Indonesia tidak hanya identik dengan kolak sebagai menu berbuka puasa. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki makanan khas yang selalu hadir saat Ramadan.
Ragam kuliner ini bukan sekadar pengisi perut setelah seharian berpuasa, tetapi juga bagian dari tradisi dan identitas budaya masyarakat setempat.
Berdasarkan catatan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, kuliner tradisional menjadi salah satu daya tarik utama wisata budaya dan religi di Indonesia, termasuk saat Ramadan.
Berikut sembilan makanan khas Ramadan dari berbagai daerah di Indonesia yang wajib dicoba.
Kanji Rumbi dari Aceh
Kanji rumbi merupakan bubur khas Aceh yang populer saat Ramadan. Hidangan ini terbuat dari beras, santan, dan aneka rempah seperti kapulaga, kayu manis, dan daun pandan.
Biasanya ditambah potongan daging sapi atau ayam. Di Aceh, kanji rumbi kerap dibagikan gratis di masjid sebagai bagian dari tradisi berbagi.
Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi simbol kebersamaan masyarakat Aceh saat berbuka puasa.
Bubur Kampiun dari Sumatera Barat
Berasal dari Sumatera Barat, bubur kampiun terdiri dari campuran beberapa jenis bubur seperti bubur sumsum, bubur kacang hijau, ketan hitam, dan kolak pisang.
Kuliner ini dikenal sebagai menu andalan berbuka di berbagai daerah di Padang. Kombinasi rasa manis dan tekstur yang beragam membuat bubur kampiun digemari banyak orang saat Ramadan.
Mie Glosor dari Bogor
Mie glosor adalah kuliner khas Ramadan dari Bogor, Jawa Barat. Mie berwarna kuning cerah ini terbuat dari tepung aci dan disajikan dengan tumisan sayur serta sambal oncom.
Teksturnya kenyal dan ringan, cocok sebagai hidangan pembuka sebelum menyantap makanan utama. Mie glosor mudah ditemukan di pasar takjil selama Ramadan.
Kicak dari Yogyakarta
Kicak merupakan makanan khas Ramadan dari Yogyakarta. Terbuat dari beras ketan yang dihaluskan, dicampur kelapa parut dan nangka, kicak memiliki cita rasa manis legit.
Kuliner ini biasanya dijual di kawasan Kauman, terutama menjelang waktu berbuka puasa. Kicak menjadi bagian dari tradisi Ramadan yang sudah ada sejak masa Kesultanan Yogyakarta.
Sotong Pangkong dari Pontianak
Di Pontianak, Kalimantan Barat, sotong pangkong menjadi jajanan favorit saat Ramadan. Sotong kering dipanggang lalu dipukul hingga empuk, kemudian disajikan dengan saus kacang atau sambal pedas manis. Hidangan ini hanya mudah ditemukan saat Ramadan dan menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat setempat.
Bongko Kopyor dari Gresik
Bongko kopyor adalah makanan khas Gresik, Jawa Timur, yang sering hadir saat berbuka puasa. Terbuat dari roti tawar, santan, gula, dan daging kelapa muda, hidangan ini dibungkus daun pisang lalu dikukus. Teksturnya lembut dengan rasa manis gurih yang menyegarkan setelah seharian berpuasa.
Es Pisang Ijo dari Makassar
Beralih ke Sulawesi Selatan, es pisang ijo menjadi menu populer saat Ramadan di Makassar. Pisang matang dibalut adonan tepung berwarna hijau, disajikan dengan bubur sumsum, sirup merah, dan es serut. Kombinasi manis dan segarnya menjadikan es pisang ijo pilihan favorit untuk berbuka puasa.
Barongko dari Bugis
Masih dari Sulawesi Selatan, barongko merupakan kue tradisional suku Bugis yang terbuat dari pisang, santan, telur, dan gula. Adonan dibungkus daun pisang lalu dikukus hingga matang. Teksturnya lembut seperti puding dengan rasa manis alami dari pisang. Barongko sering disajikan sebagai hidangan penutup saat berbuka.
Ulat Sagu dari Papua
Di wilayah timur Indonesia, tepatnya Papua, ulat sagu menjadi makanan tradisional yang juga dikonsumsi saat Ramadan oleh sebagian masyarakat. Ulat sagu kaya protein dan biasanya dimakan mentah atau dibakar.
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional, sagu merupakan salah satu pangan lokal penting di Indonesia timur, sehingga berbagai olahannya, termasuk ulat sagu, menjadi bagian dari tradisi kuliner setempat.
Keberagaman kuliner khas Ramadan ini menunjukkan betapa kayanya budaya Indonesia. Setiap daerah memiliki cara unik dalam menyambut waktu berbuka puasa, mulai dari makanan manis hingga hidangan gurih penuh rempah.
Selain memperkaya pengalaman kuliner, mencicipi makanan khas Ramadan dari berbagai daerah juga menjadi cara mengenal tradisi dan sejarah lokal.
Dengan semakin berkembangnya wisata kuliner, berbagai makanan khas ini kini lebih mudah ditemukan di luar daerah asalnya. Meski demikian, menikmati langsung di daerah asal tetap memberikan pengalaman autentik yang berbeda.
Ramadan pun menjadi momen tepat untuk menjelajahi kekayaan rasa Nusantara yang tak hanya sebatas kolak, tetapi juga beragam hidangan khas dari Sabang sampai Merauke.
Baca Juga :Puaskan Selera! 10 Tempat Makan All You Can Eat di Surabaya yang Halal dan Terjangkau












