Infomalangcom – Penentuan awal bulan Ramadan selalu menjadi perhatian utama umat Islam di Indonesia, terutama dengan peran krusial BMKG dalam memberikan data astronomis yang valid.
Di Malang, Stasiun Geofisika Malang telah mengonfirmasi hasil pengamatan hilal untuk penentuan 1 Ramadan 1447 H, yang menjadi acuan penting bagi pemerintah dalam menetapkan tanggal ibadah.
Peran BMKG Stasiun Geofisika Malang dalam Penentuan 1 Ramadan
BMKG Stasiun Geofisika Malang memiliki tugas pokok dalam pelayanan tanda waktu, salah satunya adalah pengamatan hilal secara langsung.
Stasiun ini menjadi garda terdepan dalam mengumpulkan data visual dan astronomis di wilayah Jawa Timur. Selain pengamatan lapangan, mereka juga melakukan perhitungan hisab untuk memproduksi data teknis yang mendukung proses penetapan resmi awal bulan Islam.
Dengan lokasi strategis di Malang, data yang dihasilkan menjadi rujukan bagi otoritas agama setempat dan nasional.
BMKG Malang tidak hanya melakukan pengamatan rutin, tapi juga mengembangkan metodologi untuk meningkatkan akurasi deteksi hilal, sehingga kontribusinya dalam penentuan kalender Islam terus diakui.
Hasil Pengamatan Rukyatul Hilal pada 17 Februari 2026
Sesi pengamatan rukyatul hilal digelar di Pendopo Panji, Kepanjen, Kabupaten Malang, pada sore Selasa, 17 Februari 2026.
Tim BMKG Malang melakukan pengamatan visual menggunakan alat optik yang sensitif di lokasi yang tinggi dan bebas dari polusi cahaya.
Namun, setelah memantau langit hingga matahari terbenam, hilal tidak berhasil terlihat dengan mata telanjang maupun melalui telescope.
Kondisi cuaca yang mendukung tidak cukup karena faktor astronomis menjadi penghalang utama. Hasil ini segera dikonfirmasi kepada seluruh pengamat di wilayah Jawa Timur untuk konsistensi data.
Data Teknis Astronomis yang Mendapatkan
Data hisab yang dihitung BMKG Malang menunjukkan ketinggian hilal hanya mencapai di bawah 1,162 derajat saat matahari terbenam.
Sudut elongasi, yang mengukur jarak angular hilal dari matahari, hanya 1,63 derajat. Angka-angk ini jauh di bawah syarat minimum untuk visibilitas hilal.
Ketinggian yang rendah membuat hilal berada di bawah ufuk saat cahaya matahari masih cukup terang, sehingga tidak mungkin terlihat.
Data teknis ini dihitung menggunakan perangkat lunak astronomis terkalibrasi dan diverifikasi dengan beberapa model visibilitas internasional.
Baca Juga: 125 Ribu Warga Malang Kehilangan Status PBI JKN Ini Penyebabnya
Alasan Ketidakterlihatan Hilal: Kriteria MABIMS
Kriteria MABIMS, yang menjadi standar penetapan awal bulan di Asia Tenggara, mensyaratkan ketinggian minimal hilal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat pada saat terbenam matahari.
Hasil pengamatan BMKG Malang jelas tidak memenuhi kedua syarat tersebut. Ketinggian 1,162 derajat berarti hilal masih berada di bawah horizon secara geometris, sementara elongasi 1,63 derajat menunjukkan hilal terlalu dekat dengan matahari.
Kondisi ini membuat cahaya matahari menyilaukan dan menyembunyikan hilal yang sangat tipis dan pendek. Kriteria MABIMS sendiri dirancang untuk memastikan hilal benar-benar terlihat secara visual, bukan hanya secara teoretis ada.
Proses Penetapan Resmi oleh Pemerintah
Berdasarkan laporan BMKG Malang dan hasil tabliq dari berbagai wilayah, Kementerian Agama menetapkan bahwa bulan Sya’ban genap 30 hari melalui prinsip istikmal.
Keputusan resmi ini diumumkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Proses penetapan ini mengikuti mekanisme yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Agama, di mana data BMKG menjadi salah satu pertimbangan teknis utama.
Penetapan pemerintah mengutamakan konsensus antara data hisab dan kemampuan pengamatan visual di seluruh Indonesia, meskipun pada kasus ini hilal tidak terlihat di mana pun.
Tindak Lanjut Pengamatan setelah Penetapan
Meskipun keputusan sudah diambil, BMKG Stasiun Geofisika Malang tetap melaksanakan kewajiban pengamatan lanjutan pada Rabu, 18 Februari 2026.
Pengamatan ini dilakukan sebagai bagian dari tugas pokok pelayanan tanda waktu dan untuk memverifikasi ulang kondisi langit.
Data dari pengamatan lanjutan ini penting untuk arsip dan evaluasi metodologi di masa mendatang. Praktik ini menunjukkan komitmen BMKG dalam menjaga akurasi dan konsistensi data, sekaligus mendukung penelitian astronomi Islam yang terus berkembang di Indonesia.
Signifikansi Data BMKG untuk Kalender Islam
Data yang dihasilkan BMKG Malang menjadi rujukan ilmiah yang diandalkan dalam proses penentuan awal bulan Islam.
Hasil pengamatan dan perhitungannya sering dikutip oleh Majelis Ulama Indonesia dan other religious authorities.
Kolaborasi antara rukyat (pengamatan visual) dan hisab (perhitungan astronomis) yang dilakukan BMKG Malang menjadi model ideal dalam menentukan kalender Hijriah.
Dengan menyediakan data lokal yang valid, BMKG membantu mengurangi perbedaan penentuan bulan dan meningkatkan kekhusyukan ibadah umat Islam di Malang dan seluruh Indonesia.
Baca Juga: Mau Magang 2026 Ini Syarat yang Harus Kamu Siapkan dari Sekarang










