Breaking

UIN Maliki Malang Kukuhkan 11 Guru Besar, Peran Akademisi Jadi Sorotan

UIN Maliki Malang Kukuhkan 11 Guru Besar, Peran Akademisi Jadi Sorotan
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang atau UIN Maliki Malang kembali memperkuat jajaran akademiknya melalui pengukuhan 11 guru besar dari berbagai bidang keilmuan.

Infomalangcom – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang atau UIN Maliki Malang kembali memperkuat jajaran akademiknya melalui pengukuhan 11 guru besar dari berbagai bidang keilmuan.

Pengukuhan tersebut menjadi salah satu momentum penting bagi perguruan tinggi karena guru besar tidak hanya memperoleh pencapaian akademik tertinggi, tetapi juga mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Pengukuhan 11 guru besar tersebut berlangsung pada Selasa, 20 Januari 2026, dalam Rapat Terbuka Senat UIN Maliki Malang.

Kegiatan berlangsung di Aula Rektorat lantai 5 dan dipimpin oleh Ketua Senat UIN Maliki Malang, Prof. Dr. H. Nur Ali, M.Pd.

Sebelas akademisi yang dikukuhkan berasal dari sejumlah bidang, mulai dari pendidikan, bahasa, hukum, psikologi hingga kajian Islam.

Sebelas Guru Besar Berasal dari Beragam Keilmuan

Pengukuhan tersebut memperlihatkan keberagaman bidang keilmuan yang berkembang di UIN Maliki Malang. Sebelas guru besar yang dikukuhkan mencakup Prof. Dr. H. Abdul Bashith, M.Si. dalam bidang Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Prof. Dr. H. Moh. Padil, M.Pd.I. dalam Kebijakan Pendidikan Islam, serta Prof. Dr. H. M. Faisol, M.Ag. dalam bidang Sastra Arab.

Selain itu terdapat Prof. Dr. M. Fahim Tharaba, M.Pd. di bidang Manajemen Mutu Pendidikan Islam, Prof. Dr. Danial Hilmi, S.Hum., M.Pd. dalam Teknologi Pembelajaran Bahasa Arab, dan Prof. Dr. H. Muhammad Walid, MA dalam Kepemimpinan Pendidikan Islam.

Guru besar lainnya adalah Prof. Dr. Khoirul Hidayah, MH dalam Hukum Ekonomi, Prof. Dr. Siti Mahmudah, M.Si. dalam Psikologi Sosial, Prof. Dr. Muhammad Asrori, M.Ag. dalam Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Prof. H. Aunur Rofiq, Lc., M.Ag., Ph.D. dalam Tafsir Tematik, serta Prof. Dr. H. M. Lutfi Mustofa, M.Ag. dalam Pemikiran Islam Indonesia.

Guru Besar Bukan Sekadar Gelar Akademik

Pengukuhan profesor menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa pencapaian akademik tidak berhenti pada pemberian gelar.

Ketua Senat UIN Maliki Malang menekankan bahwa posisi guru besar membawa tanggung jawab keilmuan yang lebih besar.

Seorang guru besar diharapkan tetap produktif dalam menghasilkan karya ilmiah sekaligus mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan pendidikan dan masyarakat.

Peran tersebut menjadi semakin penting karena perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyampaikan pengetahuan, tetapi juga sebagai pusat pengembangan pemikiran dan solusi terhadap berbagai persoalan.

Menurut pemberitaan JATIMTIMES, Rektor UIN Maliki Malang juga menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pembentukan karakter dan nilai.

Dosen diharapkan mampu menjalankan peran sebagai pendidik sekaligus teladan bagi mahasiswa.

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang: https://old.uin-malang.ac.id/w/3713427161/12

Peran Akademisi Semakin Penting di Era Perubahan

Perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan masyarakat membuat dunia pendidikan tinggi menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Perguruan tinggi dituntut menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan.

Dalam kondisi tersebut, guru besar memiliki peran strategis dalam mengembangkan pemikiran baru. Keilmuan yang dimiliki dapat digunakan untuk menghasilkan penelitian, memperkuat pembelajaran, serta memberikan kontribusi terhadap persoalan yang berkembang di masyarakat.

Keberadaan profesor dari berbagai disiplin juga memungkinkan terjadinya pengembangan ilmu yang lebih luas. Bidang pendidikan, hukum, psikologi, bahasa, ekonomi, dan kajian Islam memiliki persoalan masing-masing, tetapi dapat saling berhubungan ketika digunakan untuk memahami kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.

Penguatan Akademik UIN Maliki Malang

Pengukuhan 11 guru besar sekaligus menjadi bagian dari penguatan kapasitas akademik UIN Maliki Malang. Berdasarkan informasi kampus, pengukuhan tersebut berada pada rentang pengukuhan guru besar ke-87 hingga ke-98 di lingkungan UIN Maliki Malang.

Penambahan guru besar dapat memperkuat lingkungan akademik karena profesor memiliki tanggung jawab dalam penelitian, pengembangan ilmu, pembimbingan mahasiswa, serta kontribusi terhadap kehidupan akademik kampus.

UIN Maliki Malang juga terus mengembangkan reputasinya sebagai perguruan tinggi yang memiliki orientasi internasional.

Dalam sambutan pengukuhan, rektor menyinggung meningkatnya minat mahasiswa asing dari berbagai kawasan serta pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat internasional terhadap kampus.

Ilmu Pengetahuan Harus Memberikan Manfaat

Keberadaan guru besar pada akhirnya tidak hanya dapat diukur dari jumlah profesor yang dimiliki sebuah perguruan tinggi.

Hal yang lebih penting adalah bagaimana keilmuan tersebut memberikan manfaat bagi mahasiswa, institusi, masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Guru besar memiliki kesempatan besar untuk menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Hasil penelitian dapat menjadi bahan pengembangan kebijakan, inovasi pendidikan, maupun solusi terhadap persoalan sosial dan ekonomi.

Karena itu, pengukuhan profesor seharusnya menjadi awal dari tanggung jawab baru. Gelar akademik dapat menjadi pengakuan atas perjalanan keilmuan seseorang, tetapi kontribusi setelah mendapatkan gelar tersebut menjadi bagian yang tidak kalah penting.

baca juga: SD Muhammadiyah 1 Kota Malang Kembali Ukir Prestasi di ME Awards

Pendidikan dan Keteladanan Berjalan Bersama

Pesan mengenai keteladanan juga menjadi bagian penting dalam momentum pengukuhan guru besar UIN Maliki Malang.

Pendidikan tinggi membutuhkan sosok akademisi yang tidak hanya menguasai bidang keilmuan, tetapi juga mampu menjadi contoh bagi mahasiswa.

Hubungan antara dosen dan mahasiswa juga perlu dibangun melalui proses pembelajaran yang lebih manusiawi. Pengetahuan dapat disampaikan melalui berbagai metode, tetapi nilai, karakter, dan keteladanan membutuhkan proses yang lebih panjang.

Dengan demikian, guru besar mempunyai posisi penting dalam membangun lingkungan akademik yang sehat. Mereka dapat berperan sebagai peneliti, pengajar, pembimbing sekaligus figur yang memberikan inspirasi kepada generasi mahasiswa.

Pengukuhan 11 guru besar UIN Maliki Malang pada awal 2026 menjadi salah satu tanda penguatan kapasitas akademik kampus.

Keberagaman bidang keilmuan yang dimiliki para profesor memberikan peluang bagi kampus untuk terus mengembangkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Namun, pencapaian tersebut juga membawa tanggung jawab yang lebih besar. Guru besar tidak cukup hanya mempertahankan produktivitas akademik, tetapi perlu memastikan ilmu yang dikembangkan dapat memberikan manfaat nyata.

Dengan semakin kuatnya jajaran akademik, UIN Maliki Malang memiliki peluang untuk memperluas kontribusinya dalam dunia pendidikan tinggi.

Peran guru besar menjadi penting dalam menjaga kualitas pembelajaran, mengembangkan penelitian, membimbing mahasiswa, serta menghadirkan pemikiran yang relevan dengan perubahan zaman.

baca juga: Estetika Humanisme di Era Society 5.0: Analisis Kritis Kesiapan SDM dan Dehumanisasi Algoritmis pada Sektor Gig Economy di Indonesia