Breaking

Wisata Bromo Tutup Total, Bertepatan dengan Kegiatan Adat Wulan Kapitu

Wisata Bromo Tutup Total, Bertepatan dengan Kegiatan Adat Wulan Kapitu
Kawasan wisata Gunung Bromo ditutup sementara pada 17–18 Januari 2026. Penutupan tersebut dilakukan bertepatan dengan akhir Wulan Kapitu dalam kalender adat masyarakat Tengger.

Infomalangcom – Kawasan wisata Gunung Bromo ditutup sementara pada 17–18 Januari 2026. Penutupan tersebut dilakukan bertepatan dengan akhir Wulan Kapitu dalam kalender adat masyarakat Tengger.

Kebijakan ini diterapkan oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan budaya masyarakat Tengger.

Penutupan mencakup aktivitas wisata dan kendaraan bermotor di kawasan Kaldera Tengger.

Penutupan tersebut bukan karena gangguan keamanan maupun kondisi cuaca, melainkan berkaitan dengan pelaksanaan ritual adat yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Tengger.

Penutupan Berlangsung Dua Hari

Berdasarkan pengumuman Balai Besar TNBTS, penutupan pada akhir Wulan Kapitu dimulai Jumat, 17 Januari 2026 pukul 15.00 WIB.

Kawasan wisata kemudian kembali dibuka pada Senin, 19 Januari 2026 pukul 00.01 WIB. Dengan demikian, wisatawan tidak dapat melakukan aktivitas wisata di kawasan Kaldera Tengger selama periode penutupan tersebut.

Kebijakan ini sebelumnya juga diterapkan pada awal Wulan Kapitu. Pada periode tersebut, kawasan Bromo ditutup pada 18–19 Desember 2025 dan dibuka kembali pada 20 Desember 2025 dini hari.

Berkaitan dengan Ritual Megeng atau Pati Geni

Penutupan akhir Wulan Kapitu bertepatan dengan pelaksanaan ritual Megeng atau Pati Geni masyarakat Tengger.

Wulan Kapitu merupakan salah satu bagian penting dalam kalender adat masyarakat Tengger. Selama periode tersebut, masyarakat menjalankan berbagai ketentuan adat untuk menjaga ketenangan dan kesakralan ritual.

Paruman Dukun Pandita Kawasan Tengger juga menetapkan sejumlah aturan selama pelaksanaan Megeng atau Pati Geni. Ketentuan tersebut antara lain berkaitan dengan aktivitas masyarakat dan penggunaan fasilitas di kawasan permukiman.

Karena itu, penutupan kawasan wisata menjadi bagian dari upaya memberikan ruang kepada masyarakat untuk menjalankan tradisi tanpa terganggu aktivitas wisata.

JATIMTIMESAkhir Wulan Kapitu, Wisata Bromo Ditutup 17–18 Januari 2026

Akses Kendaraan Juga Dibatasi

Penutupan tidak hanya berlaku bagi wisatawan yang hendak menikmati pemandangan Bromo. Kendaraan bermotor menuju kawasan Kaldera Tengger juga dibatasi dari sejumlah jalur masuk.

Dari arah Pasuruan, kendaraan dibatasi hingga Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari. Sementara dari arah Malang dan Lumajang, batas kendaraan berada di Jemplang, Desa Ngadas, Kabupaten Malang.

Untuk jalur Probolinggo, kendaraan dibatasi hingga Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura. Pembatasan tersebut dilakukan agar kawasan Kaldera Tengger benar-benar dapat digunakan untuk pelaksanaan kegiatan adat.

Tidak Semua Destinasi di Sekitar Bromo Ditutup

Meskipun kawasan Kaldera Tengger ditutup, terdapat destinasi yang masih dapat dikunjungi pada periode tersebut.

Balai Besar TNBTS menyebut akses menuju Ranu Regulo dan jalur pendakian Ranu Kumbolo tetap dibuka melalui pintu masuk dari Malang dan Lumajang.

Namun, akses tersebut tetap dapat ditutup sewaktu-waktu apabila terjadi kondisi darurat. Wisatawan perlu memperhatikan informasi terbaru sebelum melakukan perjalanan.

Hal ini menunjukkan bahwa penutupan pada akhir Wulan Kapitu difokuskan pada kawasan dan aktivitas yang berkaitan langsung dengan Kaldera Tengger.

Menghormati Adat Masyarakat Tengger

Penutupan Bromo menjadi salah satu contoh bagaimana aktivitas pariwisata dapat menyesuaikan diri dengan tradisi masyarakat setempat.

Masyarakat Tengger memiliki berbagai tradisi yang masih dijaga hingga sekarang. Ketika ritual adat berlangsung, kegiatan wisata perlu mengikuti ketentuan yang ditetapkan agar nilai budaya tetap terlindungi.

Balai Besar TNBTS mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk menghormati pelaksanaan Wulan Kapitu. Sikap tersebut penting karena kawasan Bromo bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual bagi masyarakat Tengger.

Wisatawan Perlu Memperhatikan Jadwal

Wisatawan yang ingin berkunjung ke Bromo perlu memperhatikan jadwal penutupan sebelum menentukan perjalanan.

Informasi mengenai pembatasan akses sebaiknya diperiksa melalui kanal resmi TNBTS agar tidak terjadi kesalahan ketika berada di perjalanan.

Bagi wisatawan yang telah merencanakan perjalanan pada tanggal penutupan, penyesuaian jadwal menjadi pilihan yang lebih aman.

Wisatawan juga dapat mempertimbangkan destinasi lain yang tetap dibuka selama periode tersebut.

Informasi resmi mengenai jadwal penutupan menjadi penting terutama bagi pelaku jasa wisata, seperti penyedia jeep, agen perjalanan, maupun pengelola penginapan.

Penutupan Menjadi Bagian dari Pengelolaan Wisata

Penutupan kawasan wisata untuk kepentingan adat menunjukkan bahwa pengelolaan destinasi tidak selalu berorientasi pada jumlah kunjungan.

Ada kondisi tertentu ketika kawasan perlu memberikan ruang bagi kegiatan budaya masyarakat. Kebijakan tersebut dapat menjadi bagian dari pengelolaan pariwisata yang mempertimbangkan kepentingan lingkungan, masyarakat, dan budaya.

Bagi wisatawan, kondisi tersebut juga menjadi kesempatan untuk memahami bahwa perjalanan ke sebuah destinasi tidak hanya berkaitan dengan menikmati pemandangan.

Menghormati aturan dan tradisi masyarakat setempat merupakan bagian dari pengalaman wisata yang bertanggung jawab.

Bromo Kembali Dibuka Setelah Ritual

Setelah pelaksanaan akhir Wulan Kapitu selesai, kawasan wisata Bromo dijadwalkan kembali dibuka pada 19 Januari 2026 pukul 00.01 WIB.

Pembukaan kembali memungkinkan aktivitas wisata dan kendaraan bermotor menuju kawasan Kaldera Tengger kembali berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Wisatawan yang hendak berkunjung setelah pembukaan tetap disarankan mengecek kondisi terbaru karena operasional kawasan taman nasional dapat berubah berdasarkan situasi tertentu.

baca juga: Rekomendasi 6 Hotel Bintang Lima di Bali yang Cocok untuk Staycation

Menjaga Wisata dan Budaya Secara Bersamaan

Penutupan Bromo selama akhir Wulan Kapitu memperlihatkan adanya keseimbangan antara kepentingan pariwisata dan penghormatan terhadap budaya lokal.

Bagi masyarakat Tengger, Wulan Kapitu merupakan bagian dari tradisi yang perlu dijaga. Sementara bagi wisatawan, kebijakan penutupan menjadi pengingat bahwa setiap destinasi memiliki aturan dan karakter budaya yang harus dihormati.

Dengan memahami jadwal dan alasan penutupan, wisatawan dapat merencanakan perjalanan secara lebih baik sekaligus ikut menjaga hubungan positif antara kegiatan pariwisata dan kehidupan masyarakat lokal.

baca juga: Sumber Maron, Destinasi Wisata Alam di Malang dengan Air Jernih dan Suasana Asri