infomalangcom – Perubahan tulisan pada sebuah mural di Kota Malang memunculkan perhatian publik.
Mural bertuliskan “Malang The Glory Land” di Jalan Arif Rahman Hakim, Kecamatan Klojen, kini tertutup cat dan menampilkan tulisan “Malang Menyala Bersama”.
Perubahan visual tersebut berkaitan dengan rangkaian Festival Mbois 11 yang mengusung tema Malang Menyala.
Namun, persoalannya kemudian berkembang karena mural lama disebut memiliki nilai historis bagi sebagian Aremania.
Slogan Malang Berubah dan Jadi Perhatian
Mural “Malang The Glory Land” sebelumnya menjadi salah satu tulisan yang dikenal di ruang publik Kota Malang.
Baca Juga : Polres Malang Gandeng Kelompok Tani Tanam 1,2 Ton Bawang Putih di Lahan 1,5 Hektare
Berdasarkan laporan media lokal, mural tersebut telah menghiasi kawasan Jalan Arif Rahman Hakim sejak 2016.
Pada Agustus 2026, mural itu ditutup cat biru dan digantikan tulisan “Malang Menyala Bersama” dengan warna putih dan kuning.
Perubahan tersebut tidak sekadar menarik perhatian karena adanya tulisan baru.
Mural lama dianggap mempunyai kaitan dengan perjalanan identitas komunitas di Malang, terutama bagi kalangan Aremania.
Karena itu, perubahan pada ruang visual kota memunculkan diskusi mengenai bagaimana karya yang sudah lama berada di ruang publik sebaiknya diperlakukan.
“Malang Menyala” Berkaitan dengan Festival Mbois 11
Istilah “Malang Menyala” memang menjadi tema utama Festival Mbois 11 pada 2026.
Situs resmi festival menyebut kegiatan tersebut berlangsung pada 21–23 Agustus 2026 di Stadion Gajayana, Malang.
Festival ini diposisikan sebagai perayaan ekosistem kreatif yang mempertemukan komunitas, industri, akademisi, pemerintah, media, dan berbagai pihak lain.
Malang Creative Fusion sebagai penyelenggara juga menjelaskan bahwa rangkaian Festival Mbois 11 tidak hanya berpusat di panggung utama.
Aktivasi dilakukan di sejumlah ruang publik melalui seni, desain, media arts, budaya, dan kegiatan ekonomi kreatif.
Dengan konteks tersebut, kemunculan tulisan “Malang Menyala Bersama” dapat jelas dilihat sebagai bagian dari semangat kreatif yang sedang dibawa festival tersebut.
Mengapa Mural Lama Menjadi Sorotan?
Perhatian terhadap mural lama muncul karena karya tersebut telah berada di lokasi selama bertahun-tahun.
Dalam laporan Malang Times, perubahan mural disebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan Festival Mbois 11. Mural baru dibuat oleh Malang Creative Fusion.
Di sisi lain, persoalan yang disorot bukan semata soal pergantian tulisan.
Baca Juga : Gunung Bromo Kembali Dibuka 20 Agustus Setelah Penutupan Akibat Kebakaran
Aremania Utas mempertanyakan komunikasi dengan pihak yang sebelumnya menginisiasi atau membuat mural lama.
Humas Aremania Utas Dedi Arisandi menyampaikan bahwa organisasi tersebut menyayangkan tidak adanya klarifikasi atau pemberitahuan sebelum perubahan dilakukan.
Situasi ini menunjukkan bahwa karya di ruang publik dapat mempunyai makna yang lebih luas daripada sekadar tampilan visual.
Ketika sebuah mural sudah melekat dengan ingatan masyarakat selama bertahun-tahun, perubahan terhadapnya berpotensi memunculkan pertanyaan mengenai sejarah, kepemilikan gagasan, dan komunikasi antarpihak.
Aremania Utas Memilih Jalan Dialog
Aremania Utas tidak menyatakan ingin membawa persoalan tersebut menjadi konflik.
Dalam keterangannya kepada Malang Times, organisasi itu mengambil posisi sebagai penengah agar persoalan dapat diselesaikan secara damai dan kekeluargaan.
Dedi Arisandi juga menyebut mural tersebut secara formal bukan milik organisasi Aremania Utas.
Meski begitu, pihaknya merasa mempunyai tanggung jawab moral karena mural tersebut berkaitan dengan identitas Aremania di Malang.
Aremania Utas kemudian meminta adanya klarifikasi terbuka dari pihak yang melakukan perubahan.
Mereka juga berharap persoalan dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik, termasuk pembahasan mengenai langkah terhadap mural tersebut.
“Malang Menyala Bersama” Membawa Pesan Kolaborasi
Di luar polemik mural, konsep “Malang Menyala” yang diusung Festival Mbois 11 memiliki penekanan pada kolaborasi.
Malang Creative Fusion menjelaskan bahwa gerakan tersebut diarahkan untuk menghidupkan ruang publik, mempertemukan talenta lintas generasi, serta menggerakkan ekosistem ekonomi kreatif.
Makna tersebut membuat frasa “Malang Menyala Bersama” dapat dipahami sebagai pesan tentang keterlibatan banyak pihak.
Namun, makna itu tidak otomatis menghapus nilai sejarah yang sudah melekat pada karya sebelumnya.
Keduanya menjadi bagian dari pembicaraan yang berbeda: satu membawa semangat gerakan kreatif saat ini, sedangkan yang lain memiliki jejak historis bagi kelompok tertentu.
Menjaga Kreativitas Sekaligus Menghormati Sejarah
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pengembangan ruang publik membutuhkan komunikasi dengan berbagai pihak yang mempunyai keterikatan terhadap suatu tempat atau karya.
Kreativitas memang dapat memberikan wajah baru bagi kota, tetapi prosesnya juga perlu mempertimbangkan memori kolektif yang sudah terbentuk.
Bagi Kota Malang, perdebatan mengenai “Malang The Glory Land” dan “Malang Menyala Bersama” akhirnya tidak hanya berkaitan dengan sebuah mural.
Persoalan ini menyentuh pertanyaan lebih luas tentang cara kota merawat sejarah, membuka ruang bagi karya baru, dan mempertemukan berbagai komunitas.
Dengan adanya dialog antarpihak, perubahan ruang publik diharapkan tidak berkembang menjadi konflik baru.
Semangat “Malang Menyala” pun dapat berjalan berdampingan dengan penghargaan terhadap karya dan cerita yang lebih dahulu hadir di Kota Malang.
Sumber data:












