infomalangcom – Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Gunung api tersebut tercatat mengalami erupsi pada Minggu malam, 6 September 2026, dengan kolom abu vulkanik yang teramati membumbung hingga sekitar 500 meter di atas puncak.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan bahwa erupsi terjadi pada pukul 21.37 WITA. Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi sekitar 32 detik.
“Terjadi erupsi G. Ili Lewotolok pada hari Minggu, 06 September 2026, pukul 21:37 WITA tinggi kolom abu teramati kurang lebih 500 meter di atas puncak. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 32 detik,” tulis keterangan resmi Badan Geologi melalui akun media sosial X.
Ratusan Letusan Tercatat Setiap Hari, Status Tetap Level II
Peningkatan aktivitas Gunung Ili Lewotolok bukan hanya terjadi pada malam itu saja. Berdasarkan catatan Pos Pengamatan Gunung Api, pada Jumat, 4 September 2026, tercatat sebanyak 378 kali letusan dalam periode 24 jam, dengan tinggi kolom abu berkisar antara 200 hingga 600 meter di atas puncak.
Sehari berikutnya, Sabtu, 5 September 2026, gunung ini kembali mencatat 311 kali letusan dengan ketinggian kolom abu berkisar 300 hingga 500 meter.
Secara kumulatif, Gunung Ili Lewotolok dilaporkan telah mengalami 1.873 kali erupsi dalam kurun lima hari terakhir.
Selain aktivitas erupsi, petugas turut mengamati adanya guguran material dengan jarak luncur mencapai 700 meter dari puncak, dengan arah luncuran menuju tenggara.
Baca Juga: Kisah Pilu Sempurna, Orang Utan yang Terdampak Asap Karhutla Akhirnya Mati
Meski frekuensi letusan tergolong tinggi, status aktivitas Gunung Ili Lewotolok hingga saat ini masih berada pada Level II atau Waspada.
Pengamat Gunung Api Ile Lewotolok, Stanislaus Ara Kian, menjelaskan bahwa pada status tersebut, masyarakat di sekitar kawasan gunung, termasuk pendaki dan wisatawan, diimbau untuk tidak memasuki maupun melakukan aktivitas di dalam radius dua kilometer dari pusat aktivitas gunung.
“Masyarakat juga diimbau menutup tempat penampungan air bersih agar terhindar dari paparan abu vulkanik,” katanya.
Selain radius dua kilometer, larangan aktivitas juga diperluas hingga tiga kilometer khusus untuk sektor selatan dan tenggara dari pusat aktivitas gunung, mengingat sektor tersebut dinilai lebih rawan terhadap material erupsi dan guguran lava.
Badan Geologi turut mengingatkan masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok untuk mewaspadai potensi bahaya guguran atau longsoran lava serta awan panas yang dapat terjadi di sektor selatan dan tenggara, sektor barat, maupun sektor timur laut gunung tersebut.
Guna mengantisipasi dampak paparan abu vulkanik terhadap kesehatan, masyarakat diimbau menggunakan masker pelindung mulut dan hidung, serta perlengkapan pelindung mata dan kulit lainnya untuk menghindari gangguan pernapasan atau infeksi saluran pernapasan akut.
Pemerintah daerah dan masyarakat sekitar diminta untuk terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok yang berada di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, maupun langsung dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung, guna memperoleh informasi terbaru terkait perkembangan aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Gunung Ili Lewotolok memang dikenal sebagai salah satu gunung api aktif yang kerap menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dari waktu ke waktu, dengan riwayat kenaikan status hingga Level III atau Siaga pada periode sebelumnya akibat lonjakan aktivitas erupsi yang signifikan.
Informasi lengkap dan terkini mengenai status seluruh gunung api di Indonesia dapat diakses melalui laman resmi Badan Geologi Kementerian ESDM.
Dengan masih tingginya frekuensi letusan yang terjadi belakangan ini, masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok diimbau untuk tetap waspada dan disiplin mengikuti seluruh arahan serta rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang, guna meminimalkan risiko dampak yang mungkin timbul akibat aktivitas vulkanik yang masih berlangsung hingga saat ini.
Baca Juga: Menhut Bekukan Izin Lima Perusahaan di Kalbar Terkait Karhutla














