MALANG – Hujan yang mengguyur kawasan Balai Kota Malang tidak menghentikan Komunitas Donatur Kolektif membagikan makanan dan minuman gratis kepada peserta aksi, Rabu (28/10/2026). Hingga pukul 14.00 WIB, donasi yang terkumpul untuk kegiatan ini mencapai lebih dari Rp11 juta pada aksi hari ini saja.
Pembagian konsumsi berlangsung di tengah aksi yang digelar Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu di depan Balai Kota Malang. Massa aksi membawa enam tuntutan dan satu seruan. Tuntutan pertama meminta pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, memulihkan korban, serta mencabut izin dan menjatuhkan sanksi kepada perusahaan.
Tuntutan kedua menyangkut penurunan harga bahan pokok, pajak, serta biaya pendidikan dan kesehatan, termasuk pemenuhan pasokan BBM untuk rakyat. Tuntutan ketiga meminta lapangan kerja yang layak, kenaikan upah, dan penghapusan sistem kontrak serta alih daya. Tuntutan keempat meminta pemberian tanah, modal, dan teknologi bagi petani, nelayan, dan kaum miskin kota.
Tuntutan kelima mendesak penghentian penjarahan anggaran, evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan pembubaran Koperasi Desa Merah Putih. Tuntutan keenam meminta militer dikembalikan ke barak, pelanggar HAM berat diadili, dan pembangunan Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) dibubarkan. Selain itu, massa menyerukan pembentukan komite perlawanan rakyat.
Di tengah aksi, sejumlah peserta aksi tampak menerima makanan dan minuman dari relawan meski hujan turun di sekitar lokasi. Salah satu relawan Komunitas Donatur Kolektif, Azelia, mengatakan seluruh kebutuhan konsumsi dibeli dari dana yang dihimpun masyarakat. Relawan tidak mencatat secara pasti jumlah porsi yang sudah dibagikan.
Donatur dari Berbagai Daerah
Menurut Azelia, donasi tidak hanya datang dari warga Malang, tetapi juga dari masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Banyak di antara mereka tidak bisa hadir langsung karena terkendala waktu atau pekerjaan.
“Kami merasa ada kesamaan nilai yang diperjuangkan. Dan bukan cuma kami sebenarnya, donatur kolektif ini kan isinya tiga ibu-ibu ya sebenarnya, tapi ada banyak masyarakat Indonesia yang punya kesamaan aspirasi tapi mereka nggak memungkinkan untuk turun ke sini, mungkin karena waktu, mungkin karena pekerjaan, tapi mereka peduli dan berdonasi,” ujar Azelia.

Kelompok yang digerakkan tiga orang ibu ini menempatkan diri sebagai penghubung antara donatur dan peserta aksi di lapangan.
“Jadi, kami menjembatani itu, kepedulian rakyat Indonesia dengan mereka yang turun ke lapangan,” katanya.
Kali Keempat di Balai Kota
Kegiatan ini merupakan kali keempat kelompok tersebut memberikan dukungan serupa dalam aksi di Balai Kota Malang. Bagi Azelia, dukungan tidak selalu harus diberikan dengan turun langsung menyampaikan aspirasi. Donasi menjadi salah satu cara bagi warga yang peduli untuk tetap berkontribusi.
Soal alasan relawan tetap bertahan di tengah hujan, Azelia menyebut semangat peserta aksi sebagai pendorongnya.
“Kalau mereka aja semangat, kita harus lebih semangat lagi karena mereka aja menyampaikan aspirasi ya. Kita support dari belakang juga pasti akan jauh lebih semangat lagi,” tutur Azelia.
Penulis: Fuad Baswarudin
Editor: Handoyo Tejo Wasito
Malang Daily
Malang Daily
Nasional
News
Cek Malang
Cek Malang