Breaking

Dehidrasi Terselubung, Tanda-Tanda yang Sering Diabaikan

Ahnaf muafa

19 February 2026

Dehidrasi Terselubung, Tanda-Tanda yang Sering Diabaikan
Infomalangcom - Banyak orang merasa baik-baik saja, padahal tubuhnya sebenarnya kekurangan cairan. Tidak ada rasa haus berlebihan, tidak pingsan, tidak lemas ekstrem.

Infomalangcom – Banyak orang merasa baik-baik saja, padahal tubuhnya sebenarnya kekurangan cairan. Tidak ada rasa haus berlebihan, tidak pingsan, tidak lemas ekstrem.

Namun di balik kondisi yang terlihat normal itu, tubuh bisa saja sedang mengalami dehidrasi terselubung, yaitu kekurangan cairan ringan hingga sedang yang sering tidak disadari.

Dehidrasi ringan kerap dianggap sepele karena gejalanya tidak dramatis. Padahal, menurut Mayo Clinic, dehidrasi terjadi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang masuk, sehingga fungsi normal tubuh mulai terganggu.

Kondisi ini bisa memengaruhi konsentrasi, energi, suasana hati, bahkan performa kerja dan belajar. Dalam jangka panjang, kebiasaan mengabaikan asupan cairan dapat berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.

Apa Itu Dehidrasi dan Mengapa Bisa Tidak Terasa?

Secara umum, dehidrasi adalah kondisi ketika tubuh kekurangan cairan untuk menjalankan fungsi normalnya. Manual MSD Versi Konsumen menjelaskan bahwa cairan berperan penting dalam menjaga suhu tubuh, sirkulasi darah, dan fungsi organ.

Dehidrasi akut biasanya mudah dikenali karena ditandai rasa haus hebat, lemas berat, atau bahkan pusing hebat. Sebaliknya, dehidrasi ringan atau kronis sering tidak terasa jelas.

Tubuh memang memiliki mekanisme rasa haus, tetapi sinyal ini tidak selalu muncul tepat waktu. Pada sebagian orang, terutama lansia, sensasi haus bisa melemah.

Beberapa faktor meningkatkan risiko dehidrasi terselubung. Cuaca panas dan kelembapan tinggi di wilayah tropis seperti Indonesia mempercepat penguapan cairan melalui keringat.

Aktivitas fisik yang tinggi, kebiasaan minum kopi atau teh manis tanpa diimbangi air putih, serta kurang konsumsi buah dan sayur juga berkontribusi. Pada bulan puasa, risiko ini meningkat karena asupan cairan terbatas pada waktu tertentu.

Tanda-Tanda Dehidrasi yang Sering Diabaikan

Sakit kepala ringan tapi sering, Kekurangan cairan dapat memengaruhi aliran darah dan keseimbangan elektrolit, yang memicu sakit kepala.

Banyak orang mengira ini hanya karena stres atau kurang tidur, padahal asupan cairan yang tidak cukup bisa menjadi pemicu.

Mudah lelah dan sulit konsentrasi, Menurut informasi dari Mayo Clinic, dehidrasi dapat memengaruhi fungsi otak.

Bahkan kekurangan cairan ringan dapat menurunkan fokus dan membuat tubuh terasa cepat lelah. Dalam konteks puasa, dr. Nadia yang dikutip Kompas Health menyebutkan bahwa kurang cairan dapat membuat seseorang merasa lemas dan sulit berkonsentrasi.

Kulit terasa kering atau kusam, Cairan membantu menjaga elastisitas kulit. Ketika tubuh kekurangan cairan, kulit dapat terlihat lebih kering dan kurang segar.

Ini bukan hanya soal kosmetik, tetapi tanda bahwa tubuh membutuhkan hidrasi yang lebih baik.

Bibir pecah-pecah, Bibir adalah salah satu bagian tubuh yang cepat menunjukkan tanda kekurangan cairan. Kondisi ini sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi sinyal awal dehidrasi ringan.

Urine berwarna lebih gelap, Warna urine merupakan indikator sederhana status hidrasi. dr. Decsa Medika Hertanto, SpPD, menjelaskan bahwa urine yang lebih gelap dan frekuensi buang air kecil yang berkurang dapat menjadi tanda dehidrasi saat puasa.

Mood mudah berubah atau mudah marah, Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dapat memengaruhi fungsi saraf dan hormon. dr. Saddam Ismail menyebutkan bahwa kekurangan elektrolit di iklim tropis dapat menyebabkan kelelahan dan pusing, yang berkontribusi pada perubahan suasana hati.

Baca Juga: Kesalahan Umum Saat Sahur yang Bikin Cepat Lapar di Siang Hari

Dampak Jangka Panjang Jika Terus Diabaikan

Mengabaikan dehidrasi ringan bukan keputusan bijak. Penurunan performa kognitif dapat terjadi jika otak tidak mendapatkan hidrasi yang cukup.

Dalam jangka panjang, kekurangan cairan juga dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal karena organ ini bergantung pada cairan untuk menyaring limbah tubuh.

Gangguan pencernaan seperti sembelit juga sering berkaitan dengan kurangnya asupan cairan. Selain itu, pada cuaca panas, risiko heat exhaustion meningkat jika tubuh tidak terhidrasi dengan baik. Kondisi ini dapat membahayakan, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan.

Siapa yang Paling Berisiko Mengalami Dehidrasi Terselubung?

Pelajar dan pekerja yang duduk lama di ruangan ber-AC sering tidak merasa haus, padahal udara kering dapat meningkatkan kehilangan cairan.

Orang yang lebih sering mengonsumsi kopi atau teh manis dibanding air putih juga berisiko karena kafein memiliki efek diuretik ringan.

Mereka yang berpuasa perlu lebih waspada. Keterbatasan waktu minum membuat strategi hidrasi menjadi penting. Lansia termasuk kelompok rentan karena mekanisme rasa haus yang melemah seiring usia.

Cara Mencegah Dehidrasi Tanpa Ribet

Biasakan minum sebelum merasa haus. Jadikan warna urine sebagai indikator sederhana; warna yang lebih jernih biasanya menunjukkan hidrasi yang cukup.

Konsumsi buah tinggi air seperti semangka, jeruk, dan timun dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan. Mengatur jadwal minum setiap satu hingga dua jam juga efektif, terutama bagi pekerja kantoran. Kurangi konsumsi minuman berkafein berlebihan dan imbangi dengan air putih.

Saat puasa, distribusikan asupan cairan antara berbuka dan sahur agar kebutuhan harian tetap terpenuhi. Dehidrasi terselubung bukan kondisi dramatis, tetapi dampaknya nyata. Kesadaran terhadap tanda-tanda kecil dapat membantu mencegah gangguan kesehatan yang lebih serius.

Baca Juga: Kenapa Ramadan Harusnya Bikin Lebih Tenang, Bukan Lebih Sensitif?

Author Image

Author

Ahnaf muafa