Breaking

IHSG Tertekan Pasar Global, Dampak Konflik AS-Iran-Israel Terhadap Ekonomi Indonesia

Fahrezi

3 March 2026

IHSG Tertekan Pasar Global, Dampak Konflik AS-Iran-Israel Terhadap Ekonomi Indonesia
IHSG Tertekan Pasar Global, Dampak Konflik AS-Iran-Israel Terhadap Ekonomi Indonesia

Infomalangcom – Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang stabilitas finansial dalam negeri.

Eskalasi yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel bukan sekadar konflik regional, melainkan gelombang kejut yang membuat IHSG tertekan pasar global terhadap ekonomi Indonesia.

Ketika instabilitas meningkat, aliran modal cenderung keluar dari negara berkembang menuju aset yang lebih aman, menciptakan tekanan ganda pada indeks saham dan nilai tukar Rupiah.

Dinamika IHSG di Tengah Badai Geopolitik

Pasar modal Indonesia menunjukkan kerentanan yang signifikan terhadap sentimen risk-off global. Saat tensi militer meningkat, investor institusi cenderung melakukan aksi jual masif untuk mengamankan likuiditas.

Penurunan IHSG yang menyentuh level psikologis di angka 8.000 mencerminkan kepanikan pasar yang dipicu oleh kekhawatiran terganggunya rantai pasok energi dunia.

Secara teknikal, sektor infrastruktur dan barang konsumsi menjadi yang paling menderita. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan sektor tersebut pada bahan baku impor yang harganya melonjak akibat pelemahan mata uang.

Di sisi lain, indeks sektoral energi justru sering kali bergerak anomali dengan menunjukkan penguatan, didorong oleh ekspektasi kenaikan margin keuntungan emiten minyak dan gas di tengah kelangkaan suplai global.

Baca Juga : Meninggalnya Try Sutrisno, Sosok Wapres ke-6 RI dan Warisan yang Ditinggalkan

Dampak Makro: Rupiah dan Inflasi Impor

Hubungan antara IHSG tertekan pasar global terhadap ekonomi Indonesia sangat erat dengan posisi Rupiah. Konflik di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi 20% distribusi minyak dunia, secara langsung mengerek harga minyak mentah (Crude Oil). Bagi Indonesia yang berstatus net oil importer, kenaikan harga minyak adalah beban ganda.

Pertama, pelemahan Rupiah hingga melampaui Rp16.800 per Dolar AS meningkatkan biaya pengadaan BBM dan listrik. Kedua, fenomena imported inflation mulai merayap ke pasar domestik.

Ketika biaya logistik laut internasional naik karena premi asuransi perang yang mahal, harga barang-barang manufaktur di dalam negeri ikut terkerek naik.

Kondisi ini memaksa Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer) guna menjaga daya tarik aset domestik dan menekan laju inflasi.

Ketahanan Sektor Riil dan Investasi

Di tingkat riil, para pelaku usaha kini mulai mengadopsi sikap wait and see. Ekspansi pabrik atau peluncuran lini produk baru sering kali tertunda karena tingginya biaya pinjaman.

Namun, Indonesia memiliki bantalan berupa konsumsi domestik yang kuat. Jika daya beli masyarakat mampu terjaga melalui intervensi subsidi yang tepat sasaran, dampak kontraksi ekonomi dapat diminimalisir.

Bagi investor strategis, koreksi tajam di pasar saham justru sering kali dianggap sebagai peluang “diskon”. Saham-saham perbankan blue-chip yang memiliki fundamental kuat biasanya menjadi target akumulasi saat harga terkoreksi dalam, dengan asumsi bahwa pemulihan ekonomi akan terjadi segera setelah ketegangan geopolitik mereda.

Bukti dan Referensi Terpercaya

Untuk memahami lebih dalam mengenai bagaimana konflik global memengaruhi pasar modal secara sistemik, Anda dapat merujuk pada analisis mendalam dari lembaga keuangan internasional dan otoritas pasar modal. Berikut adalah referensi yang memperkuat data mengenai pergerakan pasar:

  • Analisis Skenario Ekonomi Global: Pantau laporan rutin dari IMF (International Monetary Fund) mengenai prospek ekonomi dunia di tengah konflik Timur Tengah.
  • Pergerakan Real-Time: Untuk melihat korelasi harga minyak dunia dan indeks saham, Anda dapat mengakses data di Bloomberg Markets.
  • Diskusi Pakar: Simak ulasan mengenai strategi investasi saat krisis melalui kanal CNBC Indonesia TV yang rutin membahas dampak geopolitik terhadap IHSG.

Transmisi Risiko ke APBN Indonesia

Pemerintah menghadapi dilema besar dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Setiap kenaikan harga minyak mentah dunia di atas asumsi makro akan memperlebar defisit jika subsidi energi tidak disesuaikan.

Namun, menaikkan harga BBM di tengah tren IHSG tertekan pasar global terhadap ekonomi Indonesia dapat memicu efek domino pada penurunan daya beli masyarakat luas.

Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci utama untuk menavigasi ekonomi Indonesia keluar dari zona merah yang diciptakan oleh konflik AS-Iran-Israel tersebut.

Baca Juga : Hasil Uji Dinkes Kota Malang, 98,8 Persen Takjil di Pasaran Aman untuk Dikonsumsi

Author Image

Author

Fahrezi