Breaking

Kenapa Ramadan Harusnya Bikin Lebih Tenang, Bukan Lebih Sensitif?

Ahnaf muafa

19 February 2026

Kenapa Ramadan Harusnya Bikin Lebih Tenang, Bukan Lebih Sensitif?
Infomalangcom - Ramadan sering disebut bulan penuh berkah dan ketenangan. Namun di lapangan, realitasnya kadang berbeda.

Infomalangcom – Ramadan sering disebut bulan penuh berkah dan ketenangan. Namun di lapangan, realitasnya kadang berbeda.

Tidak sedikit orang justru terlihat lebih mudah marah saat berpuasa. Antrean panjang menjelang berbuka bisa memicu emosi.

Kemacetan sore hari terasa lebih menyebalkan dari biasanya. Perdebatan kecil di rumah atau kantor bisa melebar hanya karena hal sepele.

Padahal, bukankah Ramadan seharusnya menjadi momen menenangkan diri? Puasa sejatinya bukan alasan untuk menjadi sensitif, melainkan latihan serius untuk mengendalikan emosi dan memperbaiki karakter.

Ramadan sebagai Bulan Pengendalian Diri

Puasa dalam Islam bukan sekadar menahan lapar dan haus sejak fajar hingga magrib. Esensi ibadah ini adalah pengendalian diri secara menyeluruh, termasuk menahan amarah dan reaksi impulsif.

Dalam berbagai ajaran Islam, sabar dan kontrol emosi menjadi bagian penting dari kesempurnaan ibadah. Artinya, Ramadan dirancang sebagai latihan disiplin batin.

Penelitian ilmiah juga mendukung gagasan ini. Studi berjudul The buffering effect of Ramadan fasting on emotions intensity yang dipublikasikan di PubMed menunjukkan bahwa puasa dapat menurunkan intensitas emosi, baik positif maupun negatif.

Artinya, secara psikologis, Ramadan berpotensi menjadi penyeimbang emosi. Kajian lain dalam The Egyptian Journal of Neurology, Psychiatry and Neurosurgery menemukan bahwa setelah Ramadan, terjadi penurunan sensitivitas interpersonal dan kecemasan pada partisipan.

Ini memperkuat pandangan bahwa tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang lebih stabil secara mental dan spiritual.

Kenapa Banyak Orang Justru Lebih Sensitif Saat Puasa?

Fenomena mudah tersinggung saat puasa memang nyata. Namun penjelasannya tidak sesederhana “karena lapar”.

Faktor fisik berperan besar. Perubahan kadar gula darah, kurang tidur akibat sahur, serta perubahan pola makan dapat memengaruhi suasana hati.

Artikel kesehatan dari Johns Hopkins Aramco Healthcare menjelaskan bahwa dehidrasi dan gangguan ritme tidur dapat meningkatkan iritabilitas.

Selain faktor fisik, ada persoalan persiapan mental. Banyak orang memasuki Ramadan tanpa kesiapan psikologis, hanya fokus pada aspek ritual.

Ketika tubuh lelah, emosi tidak terlatih, dan ekspektasi tetap tinggi, ledakan kecil mudah terjadi. Ditambah lagi, ada persepsi keliru bahwa marah saat puasa itu wajar.

Padahal penelitian Impact of fasting on hostility and emotional stability menunjukkan adanya penurunan agresivitas setelah periode puasa.

Ini berarti sensitivitas bukanlah konsekuensi alami puasa, melainkan respons yang belum terkelola.

Baca Juga: Ramadan Tanpa Drama, Mengelola Emosi Saat Lapar dan Lelah

Perbedaan Lapar Fisik dan Lapar Emosional

Lapar fisik adalah respons biologis. Tubuh memberi sinyal membutuhkan energi. Namun sensitif berlebihan sering kali bukan murni karena perut kosong.

Ada unsur ego, kelelahan mental, dan kebiasaan bereaksi cepat tanpa jeda. Puasa justru memperlihatkan area karakter yang belum matang.

Studi Fasting Effects on Emotion Changes dalam proceeding ISETH menemukan adanya perubahan suasana hati selama Ramadan, tetapi juga menunjukkan potensi peningkatan regulasi diri ketika individu memahami tujuan puasanya.

Dengan kata lain, puasa adalah cermin. Jika emosi mudah meledak, kemungkinan besar masalahnya bukan di lapar, tetapi pada kebiasaan merespons.

Bagaimana Ramadan Justru Bisa Membuat Lebih Tenang

Agar Ramadan menjadi sumber ketenangan, diperlukan pendekatan yang sadar. Mengatur pola sahur dengan asupan seimbang dan cukup cairan membantu menjaga stabilitas energi.

Menata waktu tidur mengurangi iritabilitas. Mengurangi konsumsi konten negatif di media sosial juga berperan penting dalam menjaga emosi.

Dari sisi spiritual, memperbanyak refleksi diri dan dzikir dapat membantu membangun kesadaran sebelum bereaksi.

Menurunkan ekspektasi duniawi selama Ramadan juga realistis. Tidak semua target harus dipaksakan dalam kondisi energi terbatas.

Latihan sederhana seperti mengambil jeda beberapa detik sebelum merespons dapat menjadi teknik regulasi emosi yang efektif.

Kajian dalam Effects of Modified Ramadan Fasting on Mental Well-Being menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan psikologis dan kemampuan coping selama periode puasa.

Ini membuktikan bahwa jika dikelola dengan benar, Ramadan dapat menjadi momentum memperkuat ketahanan mental.

Puasa dan Kesehatan Mental

Secara psikologis, puasa dapat berfungsi sebagai latihan mindfulness. Ketika seseorang sadar bahwa dirinya sedang menahan diri, ia belajar mengamati dorongan sebelum menuruti reaksi.

Proses ini melatih jeda antara stimulus dan respons. Kajian Dampak Psikospiritual Puasa Ramadan terhadap Stres, Kecemasan, dan Ketahanan Mental dalam Indonesian Journal of Islamic Studies menyimpulkan bahwa praktik spiritual selama Ramadan berkontribusi pada stabilisasi emosi dan peningkatan ketahanan mental.

Selain itu, psikolog yang diwawancarai oleh ANTARA News menegaskan bahwa puasa adalah ajang latihan besar untuk mengontrol emosi, bukan justru pembenaran untuk bersikap sensitif.

Baca Juga: Ramadan di Era Digital, Tantangan Menjaga Iman di Tengah Godaan Informasi

Author Image

Author

Ahnaf muafa