Breaking

Masjid di Era Konten, Ibadah atau Latar Belakang Story?

Ahnaf muafa

23 February 2026

Masjid di Era Konten, Ibadah atau Latar Belakang Story?
Infomalangcom - Masjid sejak lama dipahami sebagai ruang sakral tempat umat Islam menunaikan ibadah dan membangun relasi spiritual dengan Tuhan.

Infomalangcom – Masjid sejak lama dipahami sebagai ruang sakral tempat umat Islam menunaikan ibadah dan membangun relasi spiritual dengan Tuhan.

Namun di era media sosial, fungsi itu bersinggungan dengan budaya visual yang begitu dominan. Kamera ponsel selalu siap, dan setiap momen berpotensi menjadi konten.

Pertanyaannya bukan lagi apakah masjid digunakan untuk membuat story, melainkan bagaimana perubahan ini memengaruhi makna ibadah itu sendiri.

Masjid sebagai Ruang Ibadah di Tengah Budaya Visual

Perkembangan media sosial mengubah cara masyarakat memaknai ruang publik, termasuk masjid. Penelitian tentang penggunaan Instagram sebagai media dakwah menunjukkan bahwa banyak masjid kini aktif membagikan informasi kegiatan, kajian, dan dokumentasi aktivitas jamaah melalui akun resmi mereka.

Studi dari jurnal staithawalib mencatat bahwa Instagram dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah dan meningkatkan partisipasi jamaah.

Masjid pun tidak lagi hanya menjadi tempat fisik untuk salat, tetapi juga simbol visual yang merepresentasikan identitas religius. Foto arsitektur megah, saf salat yang rapi, hingga suasana tarawih sering muncul dalam linimasa.

Penelitian dari jurnal ar raniry tentang literasi masjid di Instagram memperlihatkan bahwa media sosial berperan dalam membangun citra dan informasi publik tentang masjid.

Di titik ini muncul perbedaan niat yang perlu dicermati. Beribadah adalah aktivitas personal yang berorientasi pada Tuhan, sedangkan mendokumentasikan momen berorientasi pada audiens.

Keduanya tidak selalu bertentangan, tetapi garis batasnya tipis dan sangat bergantung pada motivasi individu.

Fenomena Story di Masjid dan Budaya Pamer Kebaikan

Tren membagikan momen salat, tarawih, atau kajian di Instagram dan TikTok semakin umum, terutama di kalangan generasi muda.

Studi tentang representasi Islam pada akun media sosial masjid di Indonesia menunjukkan bahwa konten religius dikemas dengan pendekatan visual yang menarik agar mudah diterima pengguna digital.

Di satu sisi, praktik ini dapat dipahami sebagai bentuk syiar. Konten ibadah yang dibagikan bisa menginspirasi orang lain untuk datang ke masjid atau mengikuti kajian.

Penelitian mengenai efektivitas dakwah digital melalui akun Instagram masjid imaduddin menemukan adanya peningkatan pemahaman keagamaan jamaah yang terpapar konten tersebut.

Namun, budaya media sosial juga didorong oleh mekanisme likes, komentar, dan jumlah tayangan. Dampak psikologis validasi sosial tidak bisa diabaikan.

Studi mengenai dampak media sosial terhadap perilaku religius remaja menunjukkan bahwa eksposur konten agama dapat memengaruhi praktik ibadah, tetapi juga berpotensi membentuk motivasi yang bercampur antara spiritual dan sosial.

Ibadah yang Terekam Kamera, Tetap Sah atau Terkikis Makna

Dalam tradisi Islam, keikhlasan merupakan aspek fundamental ibadah. Dokumentasi tidak otomatis merusak niat, tetapi ketika fokus berpindah dari kekhusyukan ke sudut pengambilan gambar, makna ibadah dapat tereduksi.

Penelitian tentang pemanfaatan konten ibadah dan akhlak di media sosial oleh remaja menunjukkan bahwa media digital bisa menjadi sarana edukasi, sekaligus ruang pembentukan identitas.

Batas antara inspirasi dan riya tidak selalu terlihat jelas. Ketika seseorang membagikan momen ibadah untuk mengajak orang lain berbuat baik, itu bisa bernilai positif.

Namun jika orientasinya pada citra diri dan pengakuan sosial, maka esensi spiritualnya berpotensi bergeser. Era konten menuntut refleksi lebih dalam mengenai posisi niat dalam setiap aktivitas yang terdokumentasi.

Baca Juga: Mengurangi Screen Time dan Meningkatkan Kualitas Ibadah di Bulan Ramadan

Perubahan Perilaku Generasi Muda di Masjid

Generasi muda tumbuh dalam budaya visual yang intens. Masjid dapat menjadi ruang refleksi, tetapi juga lokasi estetik yang menarik untuk difoto.

Penelitian tentang potret dakwah digital di era modernisasi menegaskan bahwa media sosial telah menjadi medium utama komunikasi keagamaan generasi sekarang.

Tekanan sosial untuk tampil religius secara online juga muncul secara halus. Konten religius sering mendapat respons positif, sehingga mendorong reproduksi konten serupa.

Pertanyaannya, apakah kebiasaan ini membentuk komitmen jangka panjang atau hanya tren musiman. Jawabannya tidak tunggal dan sangat dipengaruhi oleh pendidikan agama serta literasi digital.

Peran Pengurus Masjid dan Literasi Digital Umat

Pengurus masjid memiliki peran penting dalam menentukan batas etika dokumentasi di area ibadah. Aturan yang jelas dapat membantu menjaga adab tanpa menutup ruang dakwah digital.

Edukasi tentang etika membuat konten di ruang sakral menjadi kebutuhan mendesak di tengah budaya berbagi yang masif.

Media sosial tetap dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah selama nilai kesopanan dan kekhusyukan dijaga. Studi konten dakwah di TikTok menunjukkan bahwa pendekatan kreatif mampu menjangkau audiens luas, tetapi keberhasilan tersebut harus diimbangi dengan pemahaman nilai dasar agama.

Menjaga Ruang Sakral di Tengah Ekonomi Atensi

Ekonomi atensi membuat setiap ruang berpotensi menjadi panggung. Masjid tidak kebal dari logika algoritma. Tantangan terbesarnya adalah menjaga fokus ibadah ketika kamera selalu siap merekam.

Refleksi ini menempatkan masjid dalam ekosistem digital modern sebagai ruang yang perlu dijaga kesakralannya sekaligus dikelola secara adaptif.

Era konten tidak harus menghilangkan makna ibadah, tetapi menuntut kesadaran, niat yang jernih, dan literasi digital yang matang agar masjid tidak sekadar menjadi latar belakang story, melainkan tetap menjadi pusat spiritual umat.

Baca Juga: Challenge 30 Hari Ramadan untuk Menjadi Versi Diri yang Lebih Baik

Author Image

Author

Ahnaf muafa