Breaking

Nilai TKA Masih Rendah, Sekolah di Jatim Didorong Perkuat Pembiasaan Belajar Sejak Awal

Nilai TKA

Infomalang.com – Momen libur akhir tahun kerap dimanfaatkan orang tua untuk mengevaluasi proses belajar anak. Di tengah suasana santai, muncul kembali sorotan terhadap rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik di sejumlah sekolah Jawa Timur.

Banyak pendidik menilai capaian tersebut bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahwa kebiasaan belajar dasar belum terbentuk kuat. Ketika fondasi kurang kokoh, materi yang lebih kompleks sulit diserap secara konsisten.

Karena itu, dorongan untuk memperkuat pembiasaan belajar sejak dini semakin mendapat tempat dalam diskusi pendidikan daerah.

Mengapa Pembiasaan Belajar Menjadi Kunci

Ahli pendidikan menekankan bahwa kebiasaan kecil—membaca setiap hari, merangkum pelajaran, dan mengatur waktu—mempengaruhi kepercayaan diri siswa saat menghadapi evaluasi seperti TKA. Ketika rutinitas tersebut dibangun sejak kelas awal, anak terbiasa berpikir sistematis dan terukur.

Guru pun lebih mudah memetakan kemampuan, karena perkembangan tercatat secara bertahap. Tanpa kebiasaan yang konsisten, program tambahan sering hanya berdampak sesaat. Oleh sebab itu, pembiasaan perlu diintegrasikan dengan kurikulum, bukan dianggap aktivitas sampingan.

Baca Juga : Menyambut Ramadhan, Apa Makna Puasa Sebenarnya?

Peran Sekolah dan Orang Tua

Penguatan budaya belajar tidak mungkin dikerjakan sekolah sendirian. Komunikasi rutin antara wali kelas dan orang tua membantu memantau tugas, kebiasaan membaca, serta kualitas istirahat.

Beberapa sekolah di Jatim mulai mengadakan jurnal belajar harian yang ditandatangani bersama. Langkah sederhana itu menumbuhkan rasa tanggung jawab pada siswa, sekaligus memberi gambaran nyata bagi guru tentang hambatan di rumah.

Sinergi seperti ini berpotensi menekan kecemasan menjelang ujian, karena anak merasa didampingi dan dipahami.

Strategi Pembelajaran yang Relevan

Selain pembiasaan, metode pembelajaran perlu mengikuti kebutuhan zaman. Penggunaan proyek sederhana, simulasi, dan permainan edukatif membuat konsep abstrak terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Siswa dilatih menganalisis masalah, bukan sekadar menghafal jawaban.

Guru yang mengikuti pelatihan pengembangan profesional dapat merancang asesmen formatif, sehingga kesulitan siswa terdeteksi lebih awal. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip penilaian berkelanjutan dan mendukung peningkatan skor TKA secara bertahap.

Pentingnya Evaluasi Berbasis Data

Peningkatan mutu belajar membutuhkan data yang akurat. Sekolah disarankan memanfaatkan hasil TKA sebagai peta jalan, bukan vonis. Dengan menganalisis tren per mata pelajaran, tim guru bisa menetapkan target realistis sekaligus program pendampingan.

Transparansi data yang disampaikan secara positif juga membangun kepercayaan publik. Orang tua memahami arah kebijakan, sementara siswa melihat perkembangan diri dari waktu ke waktu. Pendekatan berbasis data membantu memastikan setiap intervensi memiliki dampak yang terukur.

Harapan ke Depan

Libur akhir tahun menghadirkan momentum refleksi bagi sekolah dan keluarga. Ketika evaluasi dilakukan secara jujur disertai komitmen perbaikan, penurunan nilai bisa berubah menjadi titik balik.

Pemerintah daerah diharapkan terus memperluas pelatihan guru, memperkuat literasi numerasi, dan memfasilitasi bimbingan belajar berbasis komunitas.

Sementara itu, sekolah dapat menumbuhkan budaya menghargai proses, agar anak tidak tertekan hasil sesaat. Kolaborasi semua pihak membuka peluang terciptanya ekosistem belajar yang sehat dan inklusif.

Penutup

Keberhasilan pendidikan tidak lahir secara instan. Dibutuhkan konsistensi, dukungan emosional, serta kepemimpinan sekolah yang mampu menggerakkan budaya belajar positif.

Jika pembiasaan yang baik ditanamkan sejak awal, siswa akan memasuki jenjang berikutnya dengan kesiapan mental dan akademik yang lebih matang. Hasil TKA memang penting, namun yang lebih utama adalah proses membangun karakter disiplin dan rasa ingin tahu.

Dengan fondasi tersebut, prestasi dapat tumbuh berkelanjutan, sekaligus meningkatkan daya saing generasi muda Jatim di masa mendatang.

Tips Praktis untuk Rumah

Bagi orang tua, langkah sederhana bisa dimulai dari jadwal belajar yang pendek namun rutin. Sediakan sudut belajar yang tenang, jauh dari gangguan gawai.

Ajak anak menetapkan tujuan mingguan dan merayakan kemajuan kecil dengan pujian yang proporsional. Diskusikan pelajaran dengan bahasa sehari-hari agar konsep terasa relevan. Bila menemui kesulitan, berkoordinasilah dengan guru lebih awal.

Pendekatan yang suportif membangun motivasi intrinsik, sehingga anak belajar bukan karena takut nilai rendah, melainkan karena ingin berkembang. Langkah kecil hari ini menyiapkan esok cerah.

Baca Juga :Membangun Lingkungan Aman sebagai Solusi Mengurangi Tawuran