Infomalangcom – Pemandangan kabel yang menjuntai tidak beraturan di atas jalan sudah lama menjadi bagian dari lanskap perkotaan di Malang.
Namun kondisi ini bukan sekadar persoalan visual, melainkan juga menyimpan risiko nyata terhadap keselamatan masyarakat dan kelestarian kawasan bersejarah.
Pemerintah Kota Malang kini mulai mendorong penataan kabel secara sistematis, meski harus menghadapi berbagai tantangan besar yang tidak sederhana.
Latar Belakang Masalah Kabel Semrawut
Kabel yang melintang di udara berasal dari berbagai jaringan, mulai dari listrik, internet, hingga televisi. Dalam praktiknya, pemasangan sering dilakukan tanpa koordinasi yang rapi, sehingga menciptakan tumpukan kabel yang saling bertumpuk dan terlihat semrawut.
Kondisi ini paling terlihat di kawasan padat aktivitas, termasuk area bersejarah seperti Kayutangan Heritage dan koridor Jalan Ijen. Padahal kawasan tersebut memiliki nilai budaya tinggi yang seharusnya dijaga dari gangguan visual.
Selain merusak estetika kota, kabel yang menjuntai rendah juga berisiko tersangkut kendaraan besar seperti truk atau bus. Hal ini dapat memicu kecelakaan lalu lintas yang membahayakan pengguna jalan.
Tidak hanya itu, potensi korsleting akibat gesekan kabel juga menjadi ancaman serius. Jika terjadi percikan api, risiko kebakaran di area padat bangunan menjadi sangat tinggi.
Masalah ini menjadikan penataan kabel sebagai kebutuhan mendesak, bukan sekadar proyek kosmetik kota.
Zona Prioritas Penataan Kabel
Pemerintah Kota Malang memilih pendekatan bertahap dalam menata kabel udara. Kawasan prioritas ditentukan berdasarkan nilai strategis, baik dari sisi pariwisata maupun kepadatan aktivitas.
Kayutangan Heritage menjadi proyek percontohan utama dalam program ini. Di kawasan ini, kabel mulai dipindahkan ke dalam sistem ducting atau saluran bawah tanah.
Langkah ini bertujuan mengembalikan tampilan asli kawasan yang selama ini terganggu oleh kabel udara. Selain itu, Jalan Ijen juga masuk dalam daftar prioritas.
Kawasan ini dikenal sebagai area cagar budaya dengan arsitektur klasik yang masih terjaga. Penataan dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu aktivitas warga sekitar.
Area lain seperti Alun-Alun Kota Malang dan jalan protokol juga direncanakan menjadi bagian dari tahap berikutnya. Strategi ini memungkinkan proses berjalan lebih terkontrol dan meminimalkan dampak sosial serta ekonomi.
Pendekatan bertahap ini menunjukkan bahwa penataan tidak hanya soal teknis, tetapi juga harus mempertimbangkan kenyamanan masyarakat dan keberlangsungan aktivitas kota.
Operasi Penertiban “Potong Kabel”
Selain proyek besar seperti ducting, pemerintah juga menjalankan langkah cepat melalui operasi penertiban kabel. Program ini dikenal dengan istilah “potong kabel” dan melibatkan berbagai pihak, termasuk dinas terkait dan penyedia layanan.
Fokus utama operasi ini adalah membersihkan kabel ilegal atau yang sudah tidak digunakan. Kabel mati yang dibiarkan menggantung justru menambah risiko dan memperburuk tampilan kota.
Untuk kabel yang masih aktif, dilakukan penataan ulang dengan metode bundling. Kabel diikat secara rapi agar tidak menjuntai sembarangan dan tetap aman digunakan.
Langkah ini memang bersifat sementara, tetapi cukup efektif untuk mengurangi risiko langsung di lapangan. Setidaknya, kondisi yang sebelumnya berbahaya bisa dikendalikan sambil menunggu solusi jangka panjang.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan masalah tidak bisa hanya menunggu proyek besar selesai, tetapi juga membutuhkan tindakan cepat yang langsung terasa dampaknya.
Baca Juga: DPRD Kabupaten Malang Minta Pemkab Turun Tangan Atasi Masalah MBG
Kendala Besar dalam Pelaksanaan
Meski terlihat sederhana di permukaan, penataan kabel sebenarnya merupakan proyek kompleks dengan banyak hambatan. Salah satu kendala utama adalah biaya yang sangat besar.
Pembangunan ducting membutuhkan proses panjang, mulai dari penggalian jalan hingga pemasangan infrastruktur bawah tanah.
Biaya ini tidak hanya ditanggung pemerintah, tetapi juga melibatkan operator swasta yang menggunakan jaringan tersebut.
Tanpa skema pembiayaan yang jelas, proyek akan sulit berjalan secara konsisten. Partisipasi aktif dari sektor swasta menjadi kunci keberhasilan program ini.
Selain itu, aspek regulasi juga menjadi tantangan tersendiri. Pemerintah perlu memastikan adanya aturan yang jelas terkait penggunaan lahan bawah tanah, biaya sewa, serta tanggung jawab pemeliharaan.
Masalah lain yang tidak kalah rumit adalah koordinasi antar pihak. Proyek ini melibatkan banyak entitas, mulai dari penyedia internet, operator telekomunikasi, hingga Perusahaan Listrik Negara.
Setiap pihak memiliki kepentingan dan sistem teknis yang berbeda. Menyatukan semua dalam satu sistem ducting membutuhkan komunikasi intensif dan komitmen bersama.
Tanpa koordinasi yang kuat, proyek berisiko mengalami keterlambatan atau bahkan konflik kepentingan yang menghambat pelaksanaan di lapangan.
Arah Penataan Infrastruktur Kota ke Depan
Penataan kabel di Kota Malang bukan hanya soal merapikan tampilan, tetapi bagian dari transformasi infrastruktur menuju kota yang lebih modern dan aman. Sistem kabel bawah tanah menjadi standar baru di banyak kota besar karena lebih efisien dan minim risiko.
Namun, perubahan ini tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan perencanaan matang, pendanaan yang kuat, serta kerja sama lintas sektor.
Jika berhasil dijalankan secara konsisten, penataan ini tidak hanya meningkatkan estetika kota, tetapi juga memperkuat citra Malang sebagai kota wisata yang tertata dan nyaman.
Lebih dari itu, langkah ini menjadi indikator bagaimana sebuah kota mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman tanpa mengorbankan nilai sejarah yang dimiliki.
Baca Juga: Update Kasus Korupsi Indonesia 2026, KPK Ungkap Dugaan Kerugian Negara dan OTT Pejabat Daerah













