Infomalangcom – Ramadan selalu identik dengan meningkatnya interaksi umat Islam dengan Al-Qur’an. Di masjid, musala, hingga rumah, kegiatan membaca Al-Qur’an menjadi lebih intens.
Namun, masih banyak yang menyamakan tadarus dan tilawah, padahal keduanya memiliki perbedaan dari sisi makna, tujuan, dan pelaksanaannya.
Memahami perbedaan ini penting agar ibadah selama Ramadan tidak sekadar rutinitas, tetapi juga bermakna.
Pengertian Tadarus dalam Islam
Kata tadarus berasal dari bahasa Arab darasa yang berarti mempelajari atau menelaah. Dalam bentuk tafa’ul menjadi tadarasa, maknanya berkembang menjadi saling belajar atau saling mengkaji.
Secara istilah, tadarus Al-Qur’an dipahami sebagai kegiatan membaca Al-Qur’an secara bersama-sama, disertai proses saling menyimak dan memperbaiki bacaan.
Dalam praktik Ramadan, tadarus sering dilakukan setelah salat tarawih atau pada waktu tertentu di masjid. Peserta biasanya bergiliran membaca ayat, sementara yang lain menyimak dan mengoreksi jika ada kesalahan tajwid.
Penelitian tentang pembiasaan tadarus menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya melatih kelancaran membaca, tetapi juga membentuk kedisiplinan dan karakter religius peserta didik.
Tujuan utama tadarus bukan sekadar menghabiskan halaman, melainkan memahami dan memperdalam isi Al-Qur’an.
Dalam kajian berbasis tadabbur, tadarus bahkan diarahkan untuk merenungi makna ayat agar pesan yang terkandung di dalamnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian Tilawah dalam Islam
Tilawah berasal dari kata tala–yatlu yang berarti membaca atau mengikuti. Dalam konteks Al-Qur’an, tilawah merujuk pada aktivitas membaca ayat-ayat suci dengan tartil, sesuai kaidah tajwid dan adab yang benar.
Fokusnya ada pada ketepatan pelafalan, panjang pendek bacaan, serta makhraj huruf. Tilawah dapat dilakukan secara individu maupun di hadapan publik.
Dalam salat tarawih, imam melakukan tilawah ketika membaca ayat Al-Qur’an. Dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an, tilawah menjadi bentuk seni baca Al-Qur’an yang menekankan keindahan suara dan ketepatan hukum bacaan.
Kajian mengenai metode tilawah dan tadabbur menjelaskan bahwa tilawah yang baik menjadi pintu masuk untuk memahami Al-Qur’an secara lebih mendalam.
Tanpa bacaan yang benar, makna ayat bisa berubah. Karena itu, tilawah menekankan kualitas dan ketepatan sebagai prioritas utama.
Baca Juga: Apa yang Dimaksud Tadarus Al-Qur’an dan Mengapa Dianjurkan di Bulan Ramadhan?
Perbedaan Tadarus dan Tilawah dari Segi Tujuan
Perbedaan paling mendasar terletak pada orientasinya. Tadarus bersifat dua arah dan menekankan interaksi serta pembelajaran bersama.
Peserta tidak hanya membaca, tetapi juga saling mengoreksi dan memahami. Sebaliknya, tilawah berfokus pada membaca dengan baik dan benar.
Orientasinya adalah kualitas bacaan sesuai tajwid. Dalam konteks Ramadan, remaja masjid sering mengadakan tadarus untuk mencapai target khatam, sementara lomba tilawah menilai aspek ketepatan dan keindahan bacaan.
Dengan kata lain, tadarus lebih menekankan proses belajar kolektif, sedangkan tilawah menitikberatkan pada kualitas teknis bacaan.
Perbedaan dari Segi Cara Pelaksanaan
Dalam tadarus, pelaksanaannya biasanya bergiliran. Setiap peserta membaca beberapa ayat, lalu yang lain menyimak. Jika terjadi kesalahan, koreksi dilakukan secara langsung.
Suasana cenderung santai namun tetap khidmat. Tilawah umumnya dilakukan oleh satu orang pembaca, sementara yang lain mendengarkan.
Dalam forum resmi seperti lomba atau acara keagamaan, tilawah berlangsung lebih formal dan terstruktur. Aspek adab, irama, dan tajwid diperhatikan secara detail.
Penelitian tentang metode tadarus bil tajwid menunjukkan bahwa penerapan tajwid dalam tadarus dapat meningkatkan kemampuan membaca peserta.
Hal ini memperlihatkan bahwa meskipun berbeda, keduanya memiliki titik temu dalam praktiknya.
Perbedaan dari Segi Konteks Ramadan
Ramadan menjadi momentum utama tadarus. Tradisi membaca Al-Qur’an bersama pada malam hari sudah mengakar di berbagai daerah. Target khatam satu atau beberapa kali selama Ramadan menjadi motivasi kolektif.
Tilawah juga hadir dalam Ramadan, terutama dalam salat tarawih ketika imam membaca ayat panjang. Selain itu, beberapa daerah menyelenggarakan lomba tilawah sebagai syiar Islam.
Keduanya berperan dalam meningkatkan kualitas ibadah. Tadarus memperkuat kebersamaan dan pemahaman, sementara tilawah menjaga ketepatan bacaan dalam ibadah ritual.
Apakah Tadarus dan Tilawah Bisa Dilakukan Bersamaan?
Dalam praktiknya, tadarus yang baik tetap menerapkan tajwid, sehingga mengandung unsur tilawah. Sebaliknya, tilawah yang disertai pemahaman mendalam mendekati semangat tadarus.
Keduanya saling melengkapi. Tilawah memastikan bacaan benar, sedangkan tadarus memperkaya pemahaman. Menggabungkan keduanya akan membuat interaksi dengan Al-Qur’an selama Ramadan menjadi lebih utuh.
Kesalahan Umum dalam Memahami Tadarus dan Tilawah
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap keduanya sama persis. Padahal, meskipun sama-sama membaca Al-Qur’an, orientasi dan cara pelaksanaannya berbeda.
Ada pula kecenderungan mengejar kuantitas tanpa memperhatikan kualitas bacaan. Target khatam menjadi fokus utama, sementara tajwid dan pemahaman terabaikan. Sebaliknya, ada yang terlalu fokus pada suara indah tetapi kurang memahami makna.
Meluruskan persepsi ini penting agar Ramadan tidak sekadar menjadi ajang membaca cepat, melainkan momentum memperbaiki bacaan sekaligus memperdalam makna Al-Qur’an.
Baca Juga: Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar, Sama atau Berbeda? Ini Penjelasan yang Tepat












