Infomalangcom – Ramadan sering disebut sebagai bulan penuh berkah, tetapi di balik itu ada tantangan nyata yang jarang dibahas secara jujur: emosi yang naik turun saat lapar dan lelah.
Banyak orang merasa lebih mudah tersinggung, kurang sabar, atau cepat kehilangan fokus ketika pola makan dan tidur berubah drastis.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa puasa memang dapat memengaruhi suasana hati dan respons emosional seseorang.
Karena itu, memahami faktor ilmiah dan strategi pengelolaannya menjadi kunci agar Ramadan benar-benar berjalan tanpa drama.
Perubahan Emosi Selama Ramadan Menurut Penelitian
Beberapa studi ilmiah meneliti dampak puasa terhadap intensitas emosi. Penelitian yang dipublikasikan di PubMed pada 2019 menunjukkan adanya perubahan pada perasaan positif dan negatif selama Ramadan, meskipun hasilnya bervariasi tergantung kondisi individu dan lingkungannya.
Studi lain yang juga terdaftar di PubMed menemukan bahwa puasa dapat memengaruhi respons emosional yang diukur melalui pendekatan psikofisiologis, termasuk perubahan pada pemrosesan rangsangan emosional.
Penelitian terbaru yang diterbitkan di Frontiers in Psychology pada 2025 mengamati mahasiswa kedokteran sebelum, selama, dan setelah Ramadan.
Hasilnya menunjukkan adanya fluktuasi mood dan kecemasan, terutama pada fase awal puasa ketika tubuh masih beradaptasi.
Namun, setelah fase penyesuaian, sebagian partisipan melaporkan peningkatan kesejahteraan psikologis. Temuan-temuan ini memperkuat satu kesimpulan penting: perubahan emosi saat puasa adalah hal yang wajar secara biologis dan psikologis.
Tantangannya bukan menghindari perubahan itu, melainkan mengelolanya dengan bijak.
Faktor Fisiologis: Lapar, Lelah, dan Kurang Tidur
Saat berpuasa, tubuh mengalami perubahan kadar gula darah, ritme tidur, dan pola hormon. Penurunan asupan energi dalam waktu lama dapat membuat sebagian orang merasa mudah marah atau sulit berkonsentrasi.
Studi randomized controlled trial yang dipublikasikan melalui Springer menunjukkan bahwa modifikasi pola puasa tertentu dapat memengaruhi kesejahteraan mental dan indikator stres.
Kurang tidur juga berperan besar. Aktivitas sahur dan ibadah malam sering kali membuat durasi tidur berkurang. Kurang tidur diketahui dalam berbagai literatur psikologi sebagai faktor yang dapat menurunkan kontrol emosi dan meningkatkan iritabilitas.
Wawancara psikolog dalam pemberitaan Kompas TV menekankan bahwa puasa menjadi momentum belajar mengendalikan emosi, terutama jika didukung oleh lingkungan sosial yang positif.
Artinya, faktor biologis memang ada, tetapi dukungan sosial dan kesadaran diri dapat membantu menstabilkan kondisi emosional.
Baca Juga: H-1 Ramadan, Persiapan Cepat tapi Tetap Bermakna
Puasa sebagai Latihan Regulasi Emosi
Menariknya, beberapa penelitian dan artikel menyebutkan bahwa puasa bukan hanya memicu perubahan emosi, tetapi juga melatih pengendalian diri. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal akademik Raden Fatah menunjukkan bahwa praktik puasa sunnah dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan mengontrol emosi.
Artikel di El Shinta juga menyoroti puasa sebagai latihan nyata untuk menahan amarah dan memperkuat kesabaran. Dari perspektif psikologi, ini sejalan dengan konsep self regulation, yaitu kemampuan individu untuk mengatur respons terhadap dorongan internal maupun eksternal.
Dengan kata lain, Ramadan bisa menjadi laboratorium emosional. Setiap rasa lapar dan lelah adalah kesempatan untuk mengasah kesabaran. Jika disadari sebagai proses pembelajaran, tekanan emosional justru berubah menjadi sarana penguatan karakter.
Strategi Praktis Mengelola Emosi Saat Puasa
Mengelola emosi selama Ramadan membutuhkan pendekatan yang realistis. Liputan6 dalam salah satu artikelnya menyarankan pentingnya menjaga keseimbangan pikiran dan hati melalui pola makan bergizi saat sahur dan berbuka.
Asupan nutrisi yang tepat membantu menjaga stabilitas energi dan mencegah lonjakan emosi akibat penurunan gula darah drastis.
Merdeka juga menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan fisik dan emosional dengan mengatur aktivitas harian agar tidak berlebihan.
Mengurangi beban yang tidak perlu dapat menekan risiko kelelahan berlebihan. Blog gaya hidup yang membahas pengendalian emosi saat puasa menekankan pentingnya manajemen tidur dan hidrasi.
Tidur yang cukup serta konsumsi cairan yang memadai membantu tubuh tetap stabil secara fisik, yang pada akhirnya berpengaruh pada kestabilan emosi.
Selain itu, dukungan sosial terbukti berperan penting. Berinteraksi dengan keluarga atau teman yang suportif dapat membantu meredakan stres dan mencegah konflik yang tidak perlu.
Ramadan Tanpa Drama Bukan Mitos
Ramadan tanpa drama bukanlah angan-angan. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa perubahan emosi saat puasa adalah respons alami tubuh terhadap perubahan pola makan dan tidur.
Namun, studi juga menunjukkan bahwa puasa dapat menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan mental dan kemampuan regulasi emosi.
Dengan memahami faktor fisiologis, memperkuat kontrol diri, menjaga nutrisi dan istirahat, serta membangun dukungan sosial yang sehat, setiap individu dapat menjalani Ramadan dengan lebih tenang.
Emosi mungkin tetap naik turun, tetapi dengan kesadaran dan strategi yang tepat, Ramadan dapat menjadi bulan pembelajaran emosional yang memperkuat karakter, bukan memicu konflik.
Baca Juga: Ramadan sebagai Waktu Detoks Mental dan Emosional di Tengah Tekanan Hidup Modern













