Infomalangcom – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 yang jatuh pada tahun 2026, suasana khidmat mulai menyelimuti Kota Malang, khususnya di kawasan Kota Lama.
Sebagai salah satu pusat spiritualitas masyarakat Tionghoa di Jawa Timur, Klenteng Eng An Kiong kembali menggelar tradisi tahunan yang penuh makna filosofis.
Ritual ini bukan sekadar rutinitas kebersihan fisik, melainkan sebuah prosesi sakral yang melibatkan seluruh elemen umat Tri Dharma untuk menyucikan diri sekaligus menghormati para leluhur dan dewa-dewi dalam menyambut Tahun Kuda Api.
Tradisi Sung Sen: Mengantar Laporan ke Langit
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara Sung Sen atau ritual Antar Dewa. Berdasarkan penanggalan lunar, tepat tujuh hari sebelum pergantian tahun, umat berkumpul untuk melepas keberangkatan para suci menuju langit.
Fokus utama dalam tradisi ini adalah Dewa Dapur, yang dipercaya bertugas mencatat segala amal perbuatan manusia di bumi selama setahun penuh.
Dalam kepercayaan Tri Dharma, momen ini merupakan masa di mana interaksi spiritual antara bumi dan langit mencapai puncaknya.
Umat melakukan sembahyang dengan membakar dupa atau hio di altar-altar yang tersedia, mengirimkan doa-doa agar laporan yang dibawa ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa adalah hal-hal positif.
Hal ini bertujuan agar berkah dan kebaikan senantiasa melingkupi umat pada tahun mendatang. Atmosfer di dalam klenteng yang dibangun pada 1825 ini menjadi sangat tenang dan penuh harap selama prosesi pengantaran tersebut berlangsung.
Detail Prosesi Pembersihan 36 Rupang Klenteng Eng An Kiong
Setelah para dewa diyakini telah bertolak ke langit, dimulailah tahap yang paling dinantikan, yaitu pembersihan 36 rupang Klenteng Eng An Kiong.
Secara teologis, saat para dewa tidak berada di tempat, patung-patung atau rupang dianggap dalam keadaan “kosong” secara spiritual, sehingga inilah waktu yang paling tepat untuk melakukan pemeliharaan fisik tanpa mengurangi rasa hormat.
Proses pembersihan ini dilakukan secara gotong royong oleh pengurus yayasan dan jemaat yang telah memenuhi syarat kesucian tertentu.
Tercatat ada sekitar 36 patung dewa yang harus dibersihkan dengan sangat hati-hati, mulai dari rupang Dewa Bumi (Fu Tek Cen Sen) hingga dewa-dewi lainnya yang tersebar di belasan altar. Teknis pembersihannya pun tidak sembarangan:
- Penyikatan Awal: Menggunakan kuas baru untuk menghilangkan debu halus di sela-sela ukiran patung yang rumit.
- Penyucian dengan Air Bunga: Rupang dimandikan menggunakan air yang telah dicampur dengan bunga tujuh rupa atau minyak cendana asli untuk memberikan aroma harum yang menyimbolkan kemurnian.
- Penggantian Busana: Banyak di antara rupang tersebut yang juga mendapatkan jubah atau pakaian baru yang berwarna cerah untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577.
Keterlibatan masyarakat dalam pembersihan ini mencerminkan semangat kekeluargaan yang kuat di Malang. Hal ini sejalan dengan status Klenteng Eng An Kiong sebagai cagar budaya yang menjunjung tinggi toleransi lintas etnis dan agama selama hampir dua abad berdiri.
Baca Juga : Kelenteng Eng An Kiong Malang Siapkan 3.000 Porsi Lontong Sambut Cap Go Meh
Syarat Spiritual dan Makna Metaforis Penyucian
Melaksanakan pembersihan 36 rupang Klenteng Eng An Kiong menuntut kesiapan mental dan fisik bagi siapa saja yang terlibat.
Tradisi turun-temurun mengharuskan para sukarelawan untuk melakukan mandi keramas sebagai simbol pembersihan diri sebelum menyentuh benda-benda sakral.
Bahkan, banyak umat yang memilih untuk menjalani pola makan vegetarian beberapa hari sebelum ritual dimulai guna memastikan jiwa dalam keadaan tenang dan bersih.
Secara metaforis, membersihkan rupang adalah cerminan dari membersihkan hati nurani. Kotoran dan debu yang menempel pada patung diibaratkan sebagai kesalahan, dendam, dan pikiran negatif manusia selama setahun terakhir.
Dengan membersihkan rupang tersebut, umat diingatkan untuk juga melakukan introspeksi diri agar masuk ke tahun Kuda Api dengan semangat yang baru, tulus, dan penuh optimisme.
Klenteng Eng An Kiong sebagai Simbol Akulturasi
Berdiri sejak zaman kolonial, Klenteng Eng An Kiong bukan hanya sekadar bangunan tua di sudut Kota Malang. Tempat ibadah ini adalah jantung dari keberagaman.
Melalui ritual tahunan ini, publik dapat melihat bagaimana nilai-nilai kuno tetap dijaga di tengah modernitas kota.
Bagi para pelancong dan fotografer, momen pembersihan rupang adalah objek visual yang menawan, menampilkan sisi autentik kebudayaan Tionghoa-Indonesia yang masih lestari hingga saat ini.
Keaslian ritual ini dapat diverifikasi melalui dokumentasi sejarah dan liputan media lokal yang konsisten mencatat kegiatan ini setiap tahunnya.
Sebagai referensi tambahan bagi Anda yang ingin melihat visualisasi khidmatnya prosesi ini, Anda dapat mengakses dokumentasi resmi atau liputan jurnalisme melalui kanal berita terpercaya atau platform video seperti YouTube resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang yang seringkali mengunggah keragaman budaya lokal.
Baca Juga : Jelang Imlek, Perajin Lampion di Kota Malang Kebanjiran Pesanan











