Infomalangcom – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, umat Tionghoa di Kota Malang, Jawa Timur, memperkuat persiapan spiritual melalui rangkaian ibadah dan ritual yang digelar di salah satu klenteng tertua di daerah ini.
Klenteng Eng An Kiong menjadi pusat kegiatan keagamaan penting ketika umat berkumpul untuk melaksanakan ritual Song Shen Jie, atau sembahyang mengantar para dewa, diikuti proses pembersihan seluruh patung dewa dan dewi yang dikenal sebagai rupang.
Tradisi ini bukan hanya ritual simbolis, tetapi juga wujud penyucian diri dan tempat ibadah sebagai bentuk persiapan menyambut masuknya tahun baru menurut kalender Imlek.
Sebanyak 36 rupang dibersihkan dalam prosesi ini sebagai bagian dari simbol penyucian, yang dipandang membawa makna spiritual dan harapan baru bagi umat yang ikut serta.
Arti dan Tujuan Ritual Song Shen Jie
Ritual dimulai dengan pelaksanaan Song Shen Jie, sebuah prosesi sembahyang yang memiliki makna mendalam dalam tradisi Tionghoa.
Pada ritual ini, umat berkumpul di klenteng untuk memanjatkan doa dan doa hio kepada para dewa, yang dipercaya naik ke istana langit untuk melaporkan segala perbuatan manusia selama satu tahun terakhir.
Ketua Agama sekaligus Wakil Ketua Umum Yayasan Klenteng Eng An Kiong, Herman Subianto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk persiapan batin dan fisik sebelum memasuki tahun baru yang baru.
Prosesi Song Shen Jie biasanya dilaksanakan pada tanggal 24 bulan kedua belas menurut kalender lunar Tionghoa, tepat satu minggu sebelum perayaan Imlek.
Umat percaya bahwa pada saat ini, para dewa kembali ke langit untuk menyampaikan laporan dan memohon restu bagi kehidupan umat di tahun mendatang.
Ritual ini diikuti dengan hikmat oleh puluhan umat dari Malang dan sekitarnya, yang datang untuk berdoa dan memohon berkah.
Setelah ritual sembahyang selesai, kegiatan tidak berhenti begitu saja. Umat kemudian melanjutkan dengan pembersihan seluruh area klenteng dengan penuh kehati-hatian.
Pembersihan ini sekaligus menjadi bentuk perhatian kepada tempat suci dan benda-benda yang dianggap keramat sebagai bagian dari tradisi yang dihormati.
Pembersihan 36 Rupang di Klenteng Eng An Kiong
Salah satu momen puncak dalam ritual ini adalah pembersihan 36 rupang atau patung dewa dan dewi yang tersebar di berbagai ruang altar klenteng.
Rupang ini dibersihkan secara gotong-royong oleh para pengurus dan umat yang hadir dalam kegiatan tersebut. Jumlah rupang yang dibersihkan, yakni antara 33 hingga 36 patung, mencerminkan jumlah simbol tertentu yang dianggap penting dalam tradisi klenteng.
Pembersihan rupang bukan sekadar mengelap permukaan patung, tetapi juga merupakan simbol penyucian fisik dan spiritual.
Umat percaya bahwa membersihkan patung para dewa dan seluruh area klenteng membantu menyucikan diri sendiri dan lingkungan tempat ibadah sebelum tahun baru tiba.
Langkah ini menjadi bagian dari refleksi spiritual atas semua pengalaman dan perbuatan selama setahun terakhir.
Selain rupang, seluruh ruangan klenteng juga menjadi fokus pembersihan. Dengan kondisi tempat ibadah yang bersih, umat percaya bahwa saat malam pergantian Tahun Baru Imlek, suasana spiritual di klenteng akan lebih khidmat dan mendukung pelaksanaan ibadah selanjutnya.
Baca Juga: Kejadian di Malang Hari Ini, Polisi Selidiki Tabrakan Motor dengan Pejalan Kaki
Partisipasi Umat dan Suasana Khidmat
Ritual ini diikuti oleh puluhan umat, baik dari Kota Malang maupun dari wilayah sekitar. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya dilaksanakan oleh kalangan tertentu, tetapi juga menjadi momen bersama yang mempererat rasa persaudaraan antarumat.
Banyak jemaat yang hadir membawa persembahan hio dan lilin sebagai simbol harapan serta doa kepada Yang Maha Esa.
Suasana khidmat terlihat jelas saat umat berkumpul di klenteng, berlatar asap dupa yang membubung dan lantunan doa yang dipanjatkan secara bersama-sama.
Prosesi ini memberikan rasa tenang dan penuh harapan di tengah persiapan menyambut tahun baru, sekaligus menjadi wujud penghormatan terhadap tradisi leluhur yang terus dipertahankan.
Dalam tradisi keagamaan ini, umat juga saling berbagi peran saat pembersihan berlangsung. Ada yang membersihkan rupang, ada pula yang membantu merapikan ruangan, dan beberapa lainnya membantu memandu prosesi doa.
Partisipasi aktif dari umat menunjukkan bahwa ritual ini tidak hanya soal individual tetapi juga tentang kebersamaan dalam kesakralan.
Makna Simbolis Penyucian Diri dan Tempat Ibadah
Pembersihan rupang dan seluruh area klenteng memiliki makna simbolis yang lebih dalam daripada sekadar kebersihan fisik.
Dalam konteks tradisi Tionghoa, tindakan ini mencerminkan keinginan umat untuk memulai tahun baru dalam keadaan suci, baik secara spiritual maupun lingkungan sekitar.
Ini juga merupakan bentuk rasa syukur atas segala berkah yang telah diterima selama setahun terakhir sekaligus harapan agar tahun baru nanti membawa kebaikan lebih banyak lagi.
Selain itu, ritual ini juga melestarikan warisan budaya yang sudah dilakukan turun-temurun oleh generasi sebelumnya.
Tradisi pembersihan rupang tidak hanya ditemukan di Malang, tetapi juga di banyak klenteng lain di Indonesia menjelang Imlek, sebagai bentuk upaya menjaga keharmonisan antara manusia dan dunia spiritual dalam tradisi etnis Tionghoa.
Puncak Rangkaian Ibadah Menjelang Imlek
Rangkaian ritual yang dimulai dengan Song Shen Jie dan pembersihan rupang ini akan mencapai puncaknya pada malam pergantian Tahun Baru Imlek.
Usai itu, umat kembali berkumpul untuk mengikuti ritual lanjutan yang disebut Jie Shen Jie, di mana para dewa yang telah diantar kembali disambut di klenteng beberapa hari setelah perayaan.
Ini menjadi tanda bahwa hubungan antara umat dan alam spiritual terus dijaga dalam rangkaian ibadah.
Baca Juga: Mudik Lebaran 2026, Stasiun Malang Sediakan 45 Ribu Kursi Kereta Diskon 30 Persen










