Di halaman belakang Museum Brawijaya, Jalan Ijen 25A, Klojen, Kota Malang, berdiri sebuah gerbong barang tua berwarna abu-abu. Panjangnya hanya 5,27 meter, lebarnya 2,82 meter, dengan dinding dan atap dari pelat besi. Di bagian rodanya tertera kode SS 1920, tanda bahwa gerbong ini dibuat oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api pemerintah Hindia Belanda, pada 1920. Di badannya tertulis nomor GR10152.
Sekilas tak ada yang istimewa. Namun gerbong ini menyimpan salah satu kisah paling kelam masa revolusi di Jawa Timur.
Penjara yang Penuh
Setelah Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947, Belanda menduduki Bondowoso. Pasukan Republik mundur ke pegunungan dan bergerilya. Untuk menekan perlawanan, Belanda menangkapi siapa saja yang dicurigai membantu gerilyawan, termasuk warga desa yang sekadar memberi makan atau tempat bermalam.
Penjara Bondowoso pun sesak hingga menampung 637 tahanan, menurut kajian Universitas Jember yang merujuk dokumen Pemkab Bondowoso. Belanda lalu memutuskan memindahkan tahanan yang dianggap paling berbahaya ke Surabaya.
Enam Belas Jam Tanpa Udara
Pada Minggu, 23 November 1947, sekitar pukul 04.00, para tahanan dibangunkan dan digiring ke Stasiun Bondowoso. Seratus orang dijejalkan ke tiga gerbong barang bernomor GR5769, GR4416, dan GR10152. Pintu dikunci rapat. Mereka berangkat tanpa diberi makan.
Kereta melintasi Kalisat, Jember, dan Probolinggo. Di Kalisat, gerbong sempat tertahan sekitar dua jam di bawah terik matahari. Begitu siang tiba, udara di dalam gerbong berpelat besi itu menjadi panas luar biasa. Para tahanan berteriak dan menggedor dinding, tetapi tak digubris.
Menjelang Jatiroto, hujan turun. Tahanan di dua gerbong pertama bisa menjilat tetesan air yang merembes dari lubang-lubang kecil di atap, sekaligus menghirup udara dari celah itu. Gerbong ketiga, GR10152, berbeda. Pihak museum dan kajian Universitas Jember sama-sama mencatat bahwa gerbong ini paling baru dan tanpa celah sama sekali, sehingga udara dan air tak bisa masuk.
Sekitar pukul 20.00, kereta tiba di Stasiun Wonokromo, Surabaya. Ketika pintu dibuka, 46 tahanan telah meninggal. Seluruh penghuni gerbong ketiga, yang menurut catatan paling banyak dirujuk berjumlah 38 orang, tidak ada yang selamat.
Ditemukan di Yogyakarta
Lantas bagaimana gerbong ini bisa sampai di Malang, ratusan kilometer dari Bondowoso?
Suryo Atmojo, pemandu yang telah bertugas di Museum Brawijaya sejak 1985, menuturkan kepada detikcom bahwa gerbong ini ditemukan di Yogyakarta sekitar 1967. Tiga warga Bondowoso, yaitu Singgih, Abdul Jaman, dan Slamet, mengenalinya dari nomor yang tertera di badan gerbong. Gerbong itu kemudian dibawa ke Malang dan menjadi koleksi museum yang saat itu sedang dibangun atas gagasan Brigjen TNI Soerachman, mantan Pangdam Brawijaya.
Museum Brawijaya sendiri diresmikan pada 4 Mei 1968. Gerbong GR10152 juga tercatat sebagai cagar budaya melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto.
Satu-Satunya yang Tersisa
Bondowoso kini memiliki monumen dan replika gerbong di dekat alun-alun, sedangkan Surabaya mengenang tragedi ini lewat Stasiun Wonokromo. Namun menurut pihak museum, keduanya hanyalah replika atau monumen.
Kepala Museum Brawijaya saat itu, Kapten Caj (K) Luluk Lutmiarti, kepada Liputan6 pada 2019 menyebut dua gerbong lain tidak diketahui keberadaannya. Artinya, gerbong di Jalan Ijen inilah satu-satunya bukti fisik yang tersisa dari tragedi tersebut.
Nilai sejarah itu membuat gerbong ini sempat diinginkan kembali oleh daerah asalnya. Pada 2021, Pemkab Bondowoso mewacanakan pemulangan gerbong asli ke Museum Kereta Api Bondowoso, meski diakui prosesnya tidak mudah.
Selama ini gerbong GR10152 lebih sering dibicarakan karena kisah mistisnya. Padahal yang tersimpan di sana jauh lebih nyata: catatan tentang puluhan orang yang meninggal dalam satu hari perjalanan, di dalam kotak besi yang kini bisa disentuh siapa saja yang berkunjung.
Baca Juga: Sejarah Berdirinya Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Malang
Editor: Handoyo Tejo Wasito
Pariwisata
News
Malang Daily
Malang In Depth
Malang Daily
Enlight News