Infomalangcom – Bulan Ramadhan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Di berbagai masjid dan rumah, umat Islam menghidupkan malam dengan membaca dan menyimak ayat-ayat suci.
Tradisi ini dikenal dengan tadarus Al-Qur’an. Namun, tadarus bukan sekadar aktivitas membaca bersama, melainkan ibadah yang memiliki makna, adab, dan keutamaan yang mendalam.
Memahami konsep dan landasannya penting agar praktiknya tidak berhenti pada rutinitas tahunan, tetapi benar-benar memberi dampak spiritual dan sosial.
Pengertian Tadarus Al-Qur’an
Secara bahasa, tadarus berasal dari akar kata darasa yang berarti mempelajari atau menelaah. Dalam praktiknya, tadarus merujuk pada kegiatan membaca Al-Qur’an secara bergantian, disertai dengan saling menyimak dan memperbaiki bacaan.
Berbeda dengan membaca sendiri, tadarus mengandung unsur interaksi dan evaluasi bersama. Dalam tradisi umat Islam, tadarus dilakukan untuk menjaga kualitas bacaan sesuai kaidah tajwid.
Unsur membaca, mendengarkan, dan mengoreksi menjadi bagian penting agar ayat-ayat yang dibaca tidak sekadar dilafalkan, tetapi juga diperhatikan ketepatannya.
Penelitian mengenai praktik tadarus di masjid selama Ramadhan menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya memperkuat kemampuan membaca, tetapi juga membangun kebersamaan di tengah masyarakat.
Di Indonesia, tadarus umum dilakukan setelah salat tarawih atau menjelang waktu sahur. Kegiatan ini bisa berlangsung di masjid, musala, sekolah, bahkan secara daring.
Praktik tersebut menunjukkan bahwa tadarus telah menjadi bagian dari budaya keagamaan yang hidup dan terus berkembang.
Ramadhan sebagai Bulan Al-Qur’an
Ramadhan memiliki kedudukan istimewa karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan ini, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185.
Ayat tersebut menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Landasan inilah yang membuat interaksi dengan Al-Qur’an meningkat secara signifikan selama Ramadhan.
Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ memperbanyak tilawah dan bertadarus bersama Malaikat Jibril setiap Ramadhan.
Riwayat ini menjadi dasar kuat bahwa meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an pada bulan ini memiliki teladan langsung dari Nabi.
Momentum Ramadhan juga identik dengan suasana ibadah yang lebih intens. Umat Islam cenderung lebih disiplin dalam beribadah, termasuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
Tradisi tadarus yang dilakukan secara berjamaah memperkuat identitas Ramadhan sebagai bulan pembinaan spiritual melalui wahyu.
Baca Juga: Bolehkah Ngaji Lewat HP? Ini Hukum dan Adab Membaca Al-Qur’an Digital
Keutamaan Tadarus Al-Qur’an di Bulan Ramadhan
a. Mendapat Pahala Berlipat
Membaca Al-Qur’an pada dasarnya sudah bernilai ibadah. Dalam hadis riwayat at-Tirmidzi disebutkan bahwa setiap huruf yang dibaca bernilai pahala.
Ketika dilakukan pada bulan Ramadhan, para ulama menjelaskan bahwa amal kebaikan dilipatgandakan, sehingga tadarus menjadi amalan yang sangat dianjurkan.
b. Mendekatkan Diri kepada Allah
Tadarus bukan hanya aktivitas lisan, tetapi juga ibadah hati. Kegiatan membaca dan menyimak ayat-ayat Al-Qur’an membantu memperkuat kesadaran spiritual.
Sejumlah penelitian pendidikan Islam menunjukkan bahwa pembiasaan tadarus berbasis tadabbur dapat membentuk karakter dan meningkatkan kedisiplinan religius peserta didik.
c. Menghidupkan Suasana Ibadah
Tadarus berjamaah mempererat ukhuwah atau persaudaraan. Studi tentang living Qur’an di berbagai daerah menunjukkan bahwa tradisi tadarusan keliling dan tadarus daring menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial. Masjid yang aktif dengan tadarus biasanya juga lebih hidup dalam kegiatan keagamaan lainnya.
Adab dalam Melaksanakan Tadarus
Agar tadarus memberi manfaat maksimal, niat menjadi hal utama. Tujuannya bukan sekadar mengejar target khatam, melainkan memperdalam hubungan dengan Al-Qur’an.
Membaca dengan tartil dan tidak tergesa-gesa juga penting agar makna ayat dapat direnungkan. Saling menyimak dan memperbaiki bacaan harus dilakukan dengan cara yang santun.
Koreksi yang baik membantu meningkatkan kualitas bacaan tanpa menimbulkan rasa malu. Selain itu, menjaga kebersihan dan kesucian ketika membaca Al-Qur’an merupakan bagian dari penghormatan terhadap kitab suci.
Strategi pembelajaran tadarus dalam konteks pendidikan menunjukkan bahwa bimbingan yang sistematis dan suasana yang kondusif dapat meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap pentingnya membaca Al-Qur’an secara benar.
Tantangan dan Kesalahan yang Sering Terjadi
Salah satu tantangan utama adalah kecenderungan fokus pada kuantitas, bukan kualitas. Target mengkhatamkan Al-Qur’an sering membuat sebagian orang membaca terlalu cepat tanpa memperhatikan tajwid atau makna.
Padahal, tujuan utama tadarus adalah pembelajaran dan perenungan. Kesalahan lain adalah menjadikan tadarus sekadar tradisi tahunan.
Setelah Ramadhan berakhir, interaksi dengan Al-Qur’an kembali menurun. Penelitian tentang pembiasaan tadarus dalam pendidikan menunjukkan bahwa konsistensi menjadi faktor penting dalam membentuk karakter dan kemampuan membaca.
Dengan memahami makna, keutamaan, serta adabnya, tadarus Al-Qur’an di bulan Ramadhan dapat menjadi sarana pembinaan spiritual yang berkelanjutan, bukan hanya aktivitas musiman.
Baca Juga: Perbedaan Tadarus dan Tilawah Saat Ramadan yang Perlu Kamu Ketahui










