Breaking

Gejala Awal Sering Diabaikan, Ini Tiga Penyakit Autoimun yang Terlambat Terdeteksi

Gejala Awal Sering Diabaikan, Ini Tiga Penyakit Autoimun yang Terlambat Terdeteksi
Gejala Awal Sering Diabaikan, Ini Tiga Penyakit Autoimun yang Terlambat Terdeteksi

Infomalangcom – Penyakit autoimun sering kali datang tanpa tanda yang jelas. Banyak penderitanya baru menyadari ada gangguan serius setelah kondisi berkembang cukup jauh.

Keluhan yang muncul di tahap awal umumnya tampak ringan dan tidak khas, sehingga kerap disalahartikan sebagai kelelahan biasa, stres, atau gangguan kesehatan sementara.

Sejumlah laporan kesehatan dan wawancara dengan dokter spesialis yang dimuat dalam pemberitaan kesehatan nasional menyoroti bahwa rendahnya kewaspadaan terhadap gejala awal menjadi salah satu penyebab utama keterlambatan diagnosis penyakit autoimun.

Padahal, semakin cepat kondisi ini dikenali, semakin besar peluang untuk mengendalikan peradangannya dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Secara medis, autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali jaringan sehat sebagai ancaman. Akibatnya, antibodi yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang organ dan sel normal.

Dampaknya bisa mengenai berbagai bagian tubuh, mulai dari sendi, kulit, darah, hingga organ dalam seperti ginjal dan kelenjar tiroid. Variasi gejala inilah yang membuat penyakit autoimun sering tidak langsung terdeteksi.

Lupus: Gejalanya Sering Dianggap Penyakit Biasa

Salah satu penyakit autoimun yang kerap terlambat didiagnosis adalah Lupus. Penyakit ini bersifat sistemik, artinya dapat menyerang banyak organ sekaligus.

Pada fase awal, penderita biasanya mengalami kelelahan berkepanjangan, demam ringan, nyeri sendi, serta ruam kemerahan di area pipi dan hidung yang kerap disebut ruam kupu-kupu.

Masalahnya, gejala tersebut sangat mirip dengan infeksi virus atau kondisi kelelahan akibat aktivitas padat. Banyak pasien hanya mengonsumsi obat pereda nyeri atau vitamin tanpa pemeriksaan lanjutan.

Padahal, lupus dapat berkembang dan memicu peradangan serius pada ginjal, paru-paru, bahkan jantung jika tidak segera ditangani.

Diagnosis lupus membutuhkan evaluasi menyeluruh, termasuk pemeriksaan antibodi spesifik melalui tes darah. Dokter biasanya juga mempertimbangkan riwayat keluhan yang berlangsung lama dan berulang.

Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya memeriksakan diri ketika mengalami gejala sistemik yang tidak membaik menjadi langkah penting untuk mencegah keterlambatan penanganan.

Baca Juga : Cara Mengatasi Rasa Ngantuk Saat Belajar di Bulan Puasa

Rheumatoid Arthritis: Nyeri Sendi yang Tak Boleh Diremehkan

Penyakit autoimun berikutnya adalah Rheumatoid arthritis. Berbeda dengan nyeri sendi akibat penuaan atau cedera, rheumatoid arthritis disebabkan oleh peradangan kronis pada lapisan sendi.

Pada tahap awal, gejalanya berupa kaku sendi di pagi hari yang berlangsung lebih dari 30 menit, pembengkakan ringan, dan rasa hangat di sekitar sendi.

Karena sering dianggap sebagai pegal biasa atau efek kelelahan setelah bekerja, banyak orang menunda pemeriksaan ke dokter.

Padahal, peradangan yang berlangsung terus-menerus dapat merusak struktur sendi secara permanen. Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan dapat memengaruhi organ lain seperti paru-paru dan pembuluh darah.

Pemeriksaan darah untuk mendeteksi faktor reumatoid serta tes pencitraan seperti rontgen atau USG sendi biasanya dilakukan untuk memastikan diagnosis.

Terapi yang diberikan bertujuan mengontrol peradangan dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Semakin cepat terapi dimulai, semakin baik kualitas hidup pasien dapat dipertahankan.

Hashimoto: Gangguan Tiroid yang Datang Perlahan

Selain menyerang sendi dan organ vital, penyakit autoimun juga dapat mengenai kelenjar tiroid, seperti pada kasus Hashimoto’s thyroiditis.

Kondisi ini terjadi ketika sistem imun merusak jaringan tiroid sehingga produksi hormon menjadi menurun. Akibatnya, tubuh mengalami hipotiroidisme.

Gejala Hashimoto berkembang secara perlahan dan sering kali tidak disadari. Penderita dapat mengalami mudah lelah, kenaikan berat badan tanpa perubahan pola makan, kulit kering, rambut menipis, sembelit, hingga gangguan suasana hati. Karena muncul bertahap, banyak orang mengaitkannya dengan faktor usia atau stres.

Tanpa pemeriksaan kadar hormon tiroid melalui tes darah, gangguan ini bisa berlangsung lama tanpa penanganan yang tepat.

Jika tidak diobati, hipotiroidisme dapat memengaruhi metabolisme tubuh secara menyeluruh dan meningkatkan risiko komplikasi kesehatan lainnya. Terapi pengganti hormon tiroid biasanya diperlukan untuk menjaga keseimbangan fungsi tubuh.

Meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala yang tidak biasa merupakan langkah awal yang sangat penting. Keluhan yang berlangsung berminggu-minggu, berulang, atau disertai gangguan pada lebih dari satu sistem tubuh sebaiknya segera dikonsultasikan ke tenaga medis.

Dengan pemeriksaan yang tepat dan diagnosis dini, penyakit autoimun dapat dikendalikan sehingga risiko komplikasi jangka panjang bisa diminimalkan dan kualitas hidup penderita tetap terjaga.

Baca Juga : Ascent Hotel & Café Malang Hadirkan Harmoni Rasa Tiga Budaya dalam “A Symphony of Flavors”