MALANG – Kesadaran akan pentingnya keselamatan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat semakin menjadi prioritas utama di berbagai institusi. Tsurayya Islamic School Malang (Tisma) menunjukkan langkah proaktif dalam melindungi para santrinya dengan menggelar sosialisasi dan pelatihan penanganan kebakaran. Dalam rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berjalan lancar, Tisma menggandeng langsung Mako Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Malang untuk memberikan edukasi yang komprehensif. Sinergi antara lembaga pendidikan dan instansi penegak keselamatan ini menjadi contoh nyata komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tangguh.
Edukasi Pencegahan Dini dari Petugas Profesional
Antusiasme para santri Tisma sangat terlihat jelas saat Syaiful A. dan Ely Efendi, dua pemateri dari Pemadam Kebakaran Kabupaten Malang, memulai sesi edukasi. Mereka menjelaskan betapa pentingnya kewaspadaan dalam penggunaan barang-barang yang berpotensi memicu kebakaran. Dalam pemaparannya, Syaiful dan Ely menjelaskan bahwa kebakaran adalah awal munculnya api yang tidak dikehendaki atau tidak diketahui asal-usulnya, yang kemudian menyambar benda-benda di sekitarnya.
Untuk mencegah hal tersebut, mereka menekankan pentingnya menghilangkan salah satu dari tiga unsur pemicu api, yaitu bahan bakar, oksigen, dan panas. Pemateri juga mengenalkan berbagai jenis Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang umum digunakan, seperti jenis powder, jenis gas, dan jenis cair. Santri-santri Tisma terlihat sangat penasaran dan aktif bertanya secara terperinci, menunjukkan tingkat pemahaman mereka yang tinggi terhadap materi yang disampaikan.
Sesi edukasi ini tidak hanya fokus pada teori. Para pemateri juga memaparkan peran luas Damkar dalam kehidupan sehari-hari. Tugas mereka bukan hanya sebagai pemadam kebakaran, tetapi juga sebagai penanganan insiden berbahaya, membantu dalam kecelakaan, serta pemeriksa keselamatan. Wawasan ini membuka mata para santri bahwa peran petugas Damkar sangat vital dan multidimensional.
Latihan Praktik Penggunaan APAR yang Terstruktur
Salah satu materi paling krusial yang disampaikan adalah pentingnya APAR sebagai alat penanganan dini sebelum api membesar. APAR sangat efektif untuk memadamkan kebakaran kecil, terutama yang disebabkan oleh kesalahan arus listrik atau penggunaan bahan bakar yang tidak tepat. Para santri Tisma tidak hanya mendengarkan, tetapi juga diberi wawasan tentang bagaimana langkah-langkah penggunaan APAR yang baik dan benar untuk meminimalisir kecelakaan.
Baca Juga:Pemkot Malang Bantu Pendidikan 877 Siswa melalui Program Beasiswa
Langkah-langkah tersebut dijelaskan secara detail dan terstruktur, mulai dari menarik pin pengaman (dalam posisi jongkok dan menjaga jarak aman), mengarahkan selang ke sumber api, hingga menekan tuas untuk menyemprotkan isi APAR. Meskipun sinar matahari sangat terik pada siang itu, hal tersebut tidak sedikit pun mengurangi semangat para santri dalam menimba ilmu. Mereka dengan antusias mengikuti setiap instruksi yang diberikan, siap untuk menerapkan pengetahuan tersebut jika suatu saat dibutuhkan.
Puncak dari kegiatan ini adalah sesi praktik langsung penggunaan APAR. Para santri dan asatidz Tisma diberi kesempatan untuk memadamkan api yang sengaja dibuat dalam sebuah wadah. Dengan bimbingan langsung dari petugas Pemadam Kebakaran, mereka mempraktikkan langkah-langkah yang telah diajarkan, mulai dari menarik pin hingga menyemprotkan APAR. Pengalaman langsung ini tidak hanya memperkuat pemahaman teoretis, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kesigapan mereka dalam situasi darurat.
Investasi Jangka Panjang untuk Kemandirian dan Keselamatan
Kegiatan ini adalah bentuk nyata dari proses kemandirian yang dapat digunakan dalam aspek kehidupan sehari-hari dan sebagai persiapan di masa depan. Sosialisasi dan praktik langsung ini mengungkap bahwa APAR bukan hanya sebatas alat pemadaman api, tetapi juga mencakup berbagai upaya pencegahan, penanggulangan, dan penyelamatan dalam situasi darurat.
Sinergi antara Tsurayya Islamic School Malang dan Damkar Kabupaten Malang ini menjadi model yang patut dicontoh oleh lembaga pendidikan lainnya. Dengan mengintegrasikan pendidikan keselamatan ke dalam kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler, sekolah tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga siswa yang tanggap, sigap, dan bertanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri dan orang lain. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi muda yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang vital dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Baca Juga:Langkah Strategis Pemkab Malang, 49 SD Negeri Bersiap Disatukan














