Infomalang.com – Sebuah video amatir yang beredar luas di berbagai platform media sosial memicu perhatian tajam publik terkait pengerjaan proyek drainase di kawasan vital Jalan Soekarno-Hatta (Suhat), Kota Malang.
Rekaman tersebut memperlihatkan kondisi saluran air yang dinilai sangat jauh dari harapan masyarakat. Proyek yang seharusnya menjadi solusi bagi penanganan banjir tahunan justru dikritik karena diduga dikerjakan tanpa ketelitian, meninggalkan sisa material yang berpotensi menjadi bumerang saat musim hujan tiba.
Kondisi Fisik Drainase: Sampah Konstruksi yang Mengeras
Berdasarkan visual mendalam dalam video tersebut, terlihat beberapa lubang kontrol drainase telah dipenuhi oleh sisa material bangunan yang terbengkalai. Material tersebut meliputi bongkahan semen yang sudah mengeras secara permanen, tumpukan pasir, batu kerikil, hingga potongan kayu bekas bekisting cor.
Padahal, secara fisik saluran itu tampak baru saja diselesaikan atau masih dalam tahap akhir pengerjaan. Kondisi ini memicu kemarahan warganet karena endapan pasir dan semen sisa konstruksi terlihat cukup tinggi, sehingga mempersempit ruang bebas (clearance) aliran air.
Hal ini memunculkan pertanyaan besar mengenai standar operasional dan kebersihan akhir pengerjaan proyek yang didanai oleh anggaran publik. Infrastruktur baru yang seharusnya bersih dan siap menampung debit air justru tampak seperti tempat pembuangan limbah konstruksi.
Saluran Baru yang Sudah Tersumbat Sejak Awal
Selain material bangunan, video tersebut juga memperlihatkan akumulasi sampah domestik seperti plastik dan dedaunan yang terjebak di dalam saluran. Warga sekitar menyebut beberapa bagian drainase sudah terlihat mampet total meski intensitas hujan belum mencapai puncaknya.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius; saluran yang seharusnya menjadi solusi justru berisiko menjadi titik genangan baru yang lebih parah. Penyumbatan awal ini dianggap sebagai ancaman nyata.
Jika material semen yang mengeras tidak segera dibersihkan, ia akan berfungsi sebagai magnet bagi sampah-sampah lainnya untuk tersangkut. Hal ini akan mempercepat proses pendangkalan drainase dalam waktu yang sangat singkat, bahkan sebelum proyek tersebut secara resmi diserahterimakan kepada pemerintah kota.
Baca Juga:
DPRD Kota Malang Angkat Isu Drainase 2026, Fokus pada Penanganan Bangunan Penyebab Banjir
Kritik Keras terhadap Kualitas Pengerjaan
Perekam video secara terbuka mengkritik pengerjaan proyek yang dinilai terkesan asal-asalan dan kurang pengawasan. Sorotan utama tertuju pada sisa cor-coran yang dibiarkan mengeras di dasar saluran air.
Menurut para pengamat tata kota, hal tersebut bukan sekadar kelalaian kecil, melainkan kesalahan fatal dalam manajemen proyek infrastruktur air. Sindiran tajam juga diarahkan pada asumsi keliru bahwa material pasir dan sisa kayu akan hanyut dengan sendirinya saat diterjang banjir.
Secara teknis, material berat seperti semen yang sudah membatu justru akan menjadi penghalang permanen yang memperparah sedimentasi. Ketelitian dalam pembersihan akhir (cleaning) seharusnya menjadi bagian tidak terpisahkan dari kontrak pengerjaan infrastruktur publik.
Risiko Banjir dan Dampak bagi Mobilitas Warga
Kawasan Jalan Soekarno-Hatta (Suhat) dikenal sebagai urat nadi ekonomi dan pendidikan di Kota Malang dengan kepadatan lalu lintas yang luar biasa. Drainase di wilayah ini adalah elemen vital untuk mencegah genangan air yang sering kali melumpuhkan mobilitas warga.
Apabila infrastruktur baru sudah tersumbat sejak awal, efektivitasnya dalam menampung debit air hujan akan menurun drastis hingga di bawah 50 persen dari kapasitas rencana. Dalam kondisi hujan lebat, sisa material yang mengeras berpotensi memicu luapan air ke badan jalan.
Dampaknya tidak hanya terbatas pada genangan, tetapi juga potensi kerusakan aspal akibat rendaman air yang tidak segera surut. Biaya perbaikan aspal dan pembersihan saluran di masa depan tentu akan membebani keuangan daerah kembali, yang sebenarnya bisa dihindari dengan pengawasan pengerjaan yang lebih disiplin.
Urgensi Akuntabilitas dan Evaluasi Menyeluruh
Kasus ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur di Kota Malang tidak boleh berhenti pada penyelesaian fisik semata. Evaluasi pascapengerjaan dan inspeksi mendalam (commissioning) menjadi faktor penentu apakah manfaat proyek dapat dirasakan warga atau justru menjadi kerugian negara.
Pemerintah daerah diharapkan segera menindaklanjuti temuan lapangan ini dengan memerintahkan kontraktor pelaksana untuk melakukan pembersihan total. Warga Suhat dan masyarakat Kota Malang pada umumnya menuntut transparansi dan pertanggungjawaban dari pelaksana proyek.
Proyek drainase bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan investasi keselamatan masyarakat. Oleh karena itu, keluhan warga melalui media sosial ini harus dipandang sebagai alarm bagi pihak berwenang untuk meningkatkan kualitas pengawasan agar setiap dana publik yang dikeluarkan benar-benar menghasilkan fasilitas yang fungsional dan berkualitas tinggi.
Baca Juga:














