Kurikulum Merdeka adalah kerangka kurikulum yang dirancang untuk memberikan fleksibilitas lebih besar dalam proses pembelajaran dengan menekankan pengembangan kompetensi, karakter, dan minat peserta didik.
Kurikulum ini dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sebagai bagian dari kebijakan Merdeka Belajar yang bertujuan menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Menurut Kemendikbudristek, Kurikulum Merdeka memberi keleluasaan kepada satuan pendidikan dan pendidik untuk menyesuaikan pembelajaran sesuai kemampuan dan kebutuhan peserta didik.
Pembelajaran tidak lagi berfokus pada penuntasan materi yang padat, tetapi pada pendalaman konsep esensial sehingga siswa benar-benar memahami apa yang dipelajari.
Secara umum, Kurikulum Merdeka dirancang agar proses belajar menjadi lebih menyenangkan, kontekstual, dan berpusat pada siswa.
Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar, melainkan fasilitator yang mendampingi siswa dalam mengembangkan potensi dan kompetensinya.
Latar Belakang Penerapan Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka lahir dari evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya serta tantangan pendidikan nasional, terutama setelah pandemi COVID-19.
Pandemi menyebabkan terjadinya learning loss, yaitu penurunan capaian belajar siswa akibat keterbatasan pembelajaran tatap muka. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk menghadirkan kurikulum yang lebih adaptif dan fleksibel.
Selain itu, perubahan dunia kerja, perkembangan teknologi, serta tuntutan kompetensi abad ke-21 juga menjadi latar belakang penting diterapkannya Kurikulum Merdeka.
Sistem pendidikan dituntut untuk tidak hanya menghasilkan siswa yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan berpikir kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, dan berkarakter kuat.
Melalui Kurikulum Merdeka, pemerintah berharap proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kondisi riil sekolah dan peserta didik, sehingga tidak ada lagi pendekatan satu metode untuk semua.
Tujuan Kurikulum Merdeka
Tujuan utama Kurikulum Merdeka adalah meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih relevan, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Kurikulum ini bertujuan memberi waktu yang cukup bagi siswa untuk memahami konsep penting secara mendalam.
Selain itu, Kurikulum Merdeka juga bertujuan mengembangkan karakter siswa sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup beriman dan bertakwa, berkebinekaan global, mandiri, gotong royong, bernalar kritis, dan kreatif.
Penguatan karakter ini diharapkan dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan bertanggung jawab.
Bagi guru, Kurikulum Merdeka bertujuan memberikan ruang inovasi dalam mengajar, sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan konteks lokal, budaya, dan kebutuhan siswa.
Ciri-Ciri Utama Kurikulum Merdeka
Salah satu ciri utama Kurikulum Merdeka adalah fokus pada materi esensial. Materi pembelajaran disederhanakan agar siswa tidak terbebani terlalu banyak konten, sehingga pembelajaran menjadi lebih mendalam dan bermakna.
Ciri berikutnya adalah pembelajaran terdiferensiasi. Guru dapat menyesuaikan metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran berdasarkan kemampuan, minat, dan gaya belajar siswa. Hal ini memungkinkan setiap siswa berkembang sesuai potensinya.
Kurikulum Merdeka juga menggunakan capaian pembelajaran berbasis fase, bukan lagi target per kelas atau per semester. Dengan pendekatan ini, siswa diberi waktu yang lebih fleksibel untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan.
Selain itu, Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran berbasis proyek melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Projek ini bertujuan mengembangkan soft skills, kerja sama, dan kepedulian siswa terhadap isu nyata di lingkungan sekitarnya.
Baca Juga : Pengertian Pendidikan: Makna, Tujuan, dan Perannya dalam Kehidupan
Perbedaan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013
Perbedaan mendasar antara Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013 terletak pada pendekatan pembelajaran. Kurikulum 2013 cenderung berorientasi pada penuntasan materi, sedangkan Kurikulum Merdeka lebih menekankan pada penguasaan kompetensi dan pemahaman konsep.
Dalam Kurikulum Merdeka, guru memiliki kebebasan lebih besar dalam memilih perangkat ajar dan metode pembelajaran. Penilaian juga lebih menekankan pada asesmen formatif yang bertujuan membantu perkembangan belajar siswa, bukan sekadar menentukan nilai akhir.
Selain itu, Kurikulum Merdeka memberi porsi khusus pada pembelajaran berbasis proyek untuk penguatan karakter, yang sebelumnya belum menjadi fokus utama dalam Kurikulum 2013.
Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah
Kurikulum Merdeka mulai diterapkan secara bertahap sejak tahun ajaran 2021/2022. Sekolah diberikan kebebasan untuk memilih tingkat penerapan sesuai kesiapan masing-masing. Pendekatan ini dikenal dengan istilah mandiri belajar, mandiri berubah, dan mandiri berbagi.
Dalam implementasinya, pemerintah juga menyediakan berbagai dukungan, seperti platform Merdeka Mengajar yang berisi perangkat ajar, modul pembelajaran, dan pelatihan bagi guru. Dukungan ini bertujuan membantu sekolah dalam menerapkan Kurikulum Merdeka secara optimal.
Meskipun demikian, penerapan Kurikulum Merdeka masih menghadapi tantangan, seperti kesiapan guru, keterbatasan sarana prasarana, serta perbedaan kondisi antarwilayah.
Kesimpulan
Kurikulum Merdeka adalah upaya transformasi pendidikan di Indonesia yang bertujuan menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel, bermakna, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi serta karakter siswa.
Dengan fokus pada materi esensial, pembelajaran terdiferensiasi, dan penguatan Profil Pelajar Pancasila, Kurikulum Merdeka diharapkan mampu menjawab tantangan pendidikan masa kini dan masa depan.
Keberhasilan Kurikulum Merdeka sangat bergantung pada kesiapan semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, hingga peserta didik, untuk bersama-sama menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih baik.
Baca Juga : Masih Banyak yang Salah Paham, Ini Penjelasan Lengkap Apa Itu Kurikulum














