Breaking

Jelang Ramadan 2026, Antusiasme Ibu-Ibu Malang Padati Pasar Murah

Fahrezi

14 February 2026

Jelang Ramadan 2026, Antusiasme Ibu-Ibu Malang Padati Pasar Murah
Jelang Ramadan 2026, Antusiasme Ibu-Ibu Malang Padati Pasar Murah

Infomalangcom – Lonjakan harga bahan pokok menjelang bulan suci Ramadan seolah menjadi siklus tahunan yang tak terhindarkan bagi masyarakat.

Namun, memasuki Februari 2026, fenomena ini terasa lebih menantang akibat faktor cuaca ekstrem yang mengganggu produktivitas lahan pertanian di Jawa Timur.

Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Kota Malang bergerak cepat dengan menginisiasi program intervensi harga yang sangat dinantikan.

Tingginya tensi ekonomi di tingkat rumah tangga membuat keberadaan pasar murah menjadi oase bagi warga, terutama kalangan ibu rumah tangga yang harus memutar otak demi menjaga dapur tetap mengepul tanpa menguras kantong terlalu dalam.

Operasi Gerakan Pangan Murah di Kelurahan Arjowinangun

Pada pertengahan Februari 2026, tepatnya Jumat tanggal 13, suasana di halaman Kantor Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang, tampak berbeda dari hari biasanya.

Ratusan warga, didominasi oleh ibu-ibu, sudah terlihat memadati area tersebut bahkan sebelum petugas selesai menata stok barang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang.

Program ini dirancang khusus untuk mendekatkan akses pangan berkualitas dengan harga terjangkau langsung ke titik pemukiman warga.

Antrean yang mengular sejak pukul 08.00 WIB menjadi bukti nyata bahwa daya beli masyarakat sedang tertekan. Di lokasi ini, komoditas yang paling diburu adalah beras dan minyak goreng.

Pihak penyelenggara menerapkan sistem kuota untuk memastikan distribusi yang merata, mencegah adanya upaya borong oleh oknum tertentu yang dapat merugikan warga lainnya.

Kesuksesan di Arjowinangun ini hanyalah awal dari rangkaian panjang operasi pasar yang telah dijadwalkan oleh pemerintah daerah untuk menyambut bulan puasa.

Baca Juga : Terminal Singosari Malang sebagai Penggerak Ekonomi Lokal

Strategi Distribusi Mobile di 57 Kelurahan Kota Malang

Pemerintah Kota Malang menyadari bahwa satu atau dua titik lokasi saja tidak akan cukup untuk meredam gejolak harga secara signifikan.

Oleh karena itu, Dispangtan telah menyusun peta jalan distribusi yang ambisius. Sebanyak 20 kali pelaksanaan GPM direncanakan akan menyisir 57 kelurahan di seluruh wilayah Kota Malang secara bergantian.

Strategi yang diterapkan tidak hanya terpaku pada lokasi statis di kantor pemerintahan, tetapi juga melalui metode mobile atau pasar keliling menggunakan armada khusus.

Langkah mobile ini bertujuan menjangkau kawasan padat penduduk yang jauh dari pasar induk. Dengan mendatangi langsung titik-titik keramaian warga di 5 kecamatan, diharapkan tidak ada warga yang tertinggal dalam mendapatkan akses pangan murah.

Kehadiran pasar murah keliling ini juga berfungsi sebagai instrumen psikologi pasar untuk memberikan sinyal kepada para pedagang spekulan bahwa pemerintah memiliki stok yang melimpah dan siap melakukan intervensi kapan saja jika harga di pasar tradisional terus merangkak naik secara tidak wajar.

Analisis Harga: Selisih Signifikan yang Membantu Dompet Warga

Mengapa pasar murah begitu diminati? Jawabannya terletak pada disparitas harga yang cukup lebar dibandingkan harga eceran di pasar tradisional.

Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, komoditas beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) ukuran 5kg dijual seharga Rp57.000 di lokasi GPM.

Padahal, di pasar-pasar besar seperti Pasar Besar Malang atau Pasar Kepanjen, harga beras serupa sudah menyentuh angka Rp65.000 hingga Rp68.000 per kantong. Selisih hampir sepuluh ribu rupiah ini tentu sangat berarti bagi anggaran rumah tangga bulanan.

Selain beras, cabai rawit menjadi sorotan utama. Akibat tingginya curah hujan di wilayah sentra produksi seperti Nganjuk dan wilayah Malang coret, harga cabai di pasar tradisional sempat melambung hingga Rp100.000 per kilogram.

Melalui program pasar murah ini, pemerintah mampu menekan harga jual ke angka Rp75.000 per kilogram melalui subsidi ongkos angkut dan distribusi langsung dari petani.

Komoditas lain seperti Minyak Kita juga dipatok pada harga Rp15.700 per liter, tetap stabil di bawah harga rata-rata toko retail modern saat ini.

Jaminan Stok dan Pengawasan Ketat Satgas Pangan

Meskipun terdapat tren kenaikan harga pada bumbu dapur, masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan panic buying.

Satgas Pangan Polres Malang bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) secara rutin melakukan pemantauan di gudang-gudang distributor.

Hasil koordinasi memastikan bahwa stok pangan pokok seperti gula pasir, telur ayam, dan tepung terigu berada pada level aman untuk memenuhi kebutuhan selama bulan Ramadan hingga Idul Fitri 2026 mendatang.

Pengawasan ketat dilakukan untuk mengantisipasi adanya praktik penimbunan barang yang sering kali memanfaatkan momen tingginya permintaan.

Sejauh ini, rantai distribusi dari produsen ke pasar-pasar di Malang Raya terpantau lancar tanpa kendala teknis yang berarti.

Masyarakat dapat memantau perkembangan jadwal pasar murah selanjutnya melalui kanal informasi resmi Pemerintah Kota Malang atau mengikuti liputan terkini melalui kanal berita visual seperti YouTube Pemerintah Kota Malang atau portal berita Antara News Jatim untuk memastikan keakuratan jadwal di wilayah masing-masing.

Baca Juga : Mudik Lebaran 2026, Stasiun Malang Sediakan 45 Ribu Kursi Kereta Diskon 30 Persen

Author Image

Author

Fahrezi