Infomalangcom – Ngabuburit adalah tradisi menunggu waktu berbuka puasa yang telah mengakar kuat dalam budaya Ramadan di Indonesia.
Dulu aktivitas ini identik dengan berkumpul di masjid, berjalan di alun-alun, atau mengunjungi pasar Ramadan. Kini, ruang tersebut perlahan meluas ke layar ponsel.
Perubahan ini bukan sekadar tren, melainkan refleksi transformasi sosial yang dipengaruhi teknologi digital dan media sosial.
Makna Ngabuburit Secara Historis dan Kultural
Istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, dari kata burit yang berarti sore hari. Secara kultural, ngabuburit merujuk pada aktivitas mengisi waktu menjelang magrib selama bulan Ramadan.
Tradisi ini berkembang di berbagai daerah Indonesia, meski istilahnya berbeda. Sebelum era digital, ngabuburit berfungsi sebagai ruang interaksi sosial.
Masjid menjadi pusat kegiatan seperti tadarus dan kajian. Alun-alun dan ruang publik menjadi tempat berkumpul keluarga dan komunitas.
Pasar Ramadan menghadirkan dimensi ekonomi sekaligus sosial, mempertemukan pedagang dan pembeli dalam suasana khas bulan suci.
Nilai kebersamaan dan spiritualitas menjadi inti dari aktivitas tersebut. Interaksi berlangsung langsung, percakapan terjadi tanpa perantara layar, dan waktu menjelang berbuka terasa sebagai momen refleksi kolektif.
Transformasi Ruang Ngabuburit di Era Digital
Perkembangan internet dan penetrasi smartphone mengubah pola interaksi masyarakat. Data dari Statista menunjukkan adanya peningkatan aktivitas online pada jam-jam menjelang berbuka selama Ramadan di Indonesia. Media sosial menjadi ruang baru untuk mengisi waktu menunggu azan.
Survei lain dari Statista tentang alasan penggunaan media sosial selama Ramadan di Asia menunjukkan bahwa banyak pengguna memanfaatkan platform digital untuk berbagi ucapan, mencari informasi keagamaan, dan mengikuti tren tertentu. Artinya, fungsi sosial ngabuburit tidak hilang, tetapi bergeser bentuk.
Laporan M+C Saatchi Performance tentang tren digital Ramadan di Indonesia juga mencatat peningkatan konsumsi video, live streaming, dan aktivitas e-commerce selama bulan puasa.
Algoritma platform mendorong munculnya konten Ramadan seperti kajian daring, vlog puasa, hingga tantangan viral.
Di sisi lain, budaya FOMO membuat sebagian orang merasa perlu terus terhubung agar tidak tertinggal tren.
Baca Juga: Ramadhan Berkah, 5 Masjid di Lowokwaru Konsisten Sediakan Takjil Gratis
Ngabuburit Virtual: Antara Dakwah dan Hiburan
Ngabuburit virtual kini menghadirkan beragam pilihan. Kajian online, podcast religi, serta siaran langsung dari masjid dapat diakses tanpa harus hadir secara fisik.
Fenomena ini memperluas jangkauan dakwah dan memudahkan masyarakat mendapatkan materi keagamaan. Namun, konten Ramadan tidak hanya bersifat reflektif.
Banyak kreator memproduksi video hiburan bertema puasa, rekomendasi kuliner berbuka, hingga konten komedi.
Liputan6 melaporkan adanya kegiatan ngabuburit digital yang mendorong remaja untuk membuat konten kreatif selama Ramadan.
Di sisi lain, riset dalam Jurnal Asketik membahas hubungan budaya ngabuburit dengan perilaku konsumtif. Ketika ruang fisik berpindah ke ruang digital, peluang komodifikasi meningkat.
Jurnal ADMAN juga menyoroti bagaimana media sosial dimanfaatkan sebagai strategi pemasaran selama Ramadan. Batas antara dakwah dan promosi komersial menjadi semakin tipis.
Dampak Sosial dan Psikologis
Perubahan ruang ini berdampak pada kualitas interaksi sosial. Komunikasi digital memungkinkan konektivitas luas, tetapi tidak selalu menggantikan kedekatan tatap muka.
Kompasiana menyoroti bahwa pergeseran ini mengubah dinamika kebersamaan dalam tradisi ngabuburit. Konsumsi konten yang berlebihan juga berpotensi memicu distraksi.
Laporan TGM Research menunjukkan tingginya penggunaan perangkat mobile selama Ramadan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari informasi agama hingga belanja daring.
Intensitas ini dapat menyebabkan kelelahan digital jika tidak dikelola dengan bijak. Pertanyaannya kemudian, apakah esensi menunggu berbuka ikut berubah.
Jika dulu waktu sore identik dengan refleksi dan kebersamaan langsung, kini sebagian orang menghabiskannya dengan menggulir layar. Transformasi ini tidak sepenuhnya negatif, tetapi memerlukan kesadaran dalam penggunaannya.
Peran Generasi Muda dalam Membentuk Tren Ngabuburit
Generasi muda berperan sebagai produsen sekaligus konsumen konten Ramadan. Media Indonesia mencatat bahwa Gen Z banyak mengisi ngabuburit dengan aktivitas digital, termasuk berbagi rekomendasi kuliner dan mengikuti tren media sosial.
Kreativitas digital seperti desain grafis, video pendek, dan kampanye sosial turut memperkaya warna Ramadan. Bahkan, peluang ekonomi kreatif musiman muncul dari aktivitas ini, mulai dari promosi UMKM hingga monetisasi konten.
Remaja tidak lagi sekadar penonton, tetapi aktor utama dalam membentuk wajah ngabuburit modern.
Menjaga Esensi Ngabuburit di Tengah Gempuran Digital
Transformasi digital bukan sesuatu yang bisa dihindari. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan. Menggunakan media sosial secara sadar berarti memilih konten yang bermanfaat dan membatasi konsumsi berlebihan.
Menyeimbangkan ruang fisik dan digital juga penting. Menghadiri kajian di masjid, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar berbincang tanpa gawai dapat mengembalikan dimensi kebersamaan.
Pada akhirnya, esensi ngabuburit terletak pada refleksi, kebersamaan, dan persiapan spiritual menuju waktu berbuka.
Media sosial hanyalah medium. Nilai dasarnya tetap bergantung pada bagaimana individu memaknainya.
Baca Juga: Ngabuburit di Alun-Alun Kota Malang, Spot Favorit Selama Ramadhan 2026












