Breaking

Fenomena War Takjil, Tradisi Sosial atau Konsumerisme Musiman?

Ahnaf muafa

20 February 2026

Fenomena War Takjil, Tradisi Sosial atau Konsumerisme Musiman?
Infomalangcom - Ramadan selalu menghadirkan dinamika unik dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu fenomena yang mencuri perhatian beberapa tahun terakhir adalah “war takjil”.

Infomalangcom – Ramadan selalu menghadirkan dinamika unik dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu fenomena yang mencuri perhatian beberapa tahun terakhir adalah “war takjil”.

Istilah ini menggambarkan suasana berburu makanan berbuka puasa yang ramai, cepat, dan kadang terasa seperti kompetisi.

Pertanyaannya, apakah ini sekadar tradisi sosial yang berkembang, atau justru gejala konsumerisme musiman?

Apa Itu Fenomena War Takjil?

War takjil merujuk pada aktivitas masyarakat yang berburu makanan berbuka di pasar Ramadan dengan antusiasme tinggi.

Istilah “war” dipopulerkan media sosial untuk menggambarkan situasi rebutan atau antrian panjang menjelang waktu berbuka.

Platform seperti TikTok dan Instagram mempercepat penyebaran istilah ini melalui video pendek yang menampilkan keramaian pasar takjil.

Jika dulu berburu takjil sekadar rutinitas menjelang magrib, kini aktivitas tersebut menjadi konten hiburan sekaligus tren digital yang membentuk persepsi publik.

Akar Tradisi Berburu Takjil di Indonesia

Tradisi ngabuburit dan pasar Ramadan telah lama menjadi bagian dari budaya lokal. Studi antropologi tentang penjualan takjil di Jakarta periode 2017–2019 menunjukkan bahwa pasar Ramadan bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang interaksi sosial dan pelestarian kearifan lokal.

Takjil memiliki makna simbolik sebagai pembuka puasa yang sederhana. Dalam banyak komunitas, kegiatan membeli takjil menjadi ajang silaturahmi, memperkuat hubungan sosial, dan berbagi kebahagiaan menjelang berbuka.

Peran Media Sosial dan FOMO dalam War Takjil

Fenomena war takjil tidak bisa dilepaskan dari efek viralitas media sosial. Konten yang memperlihatkan antrean panjang dan makanan yang cepat habis menciptakan kesan kelangkaan.

Riset tentang war takjil sebagai praktik kohesi sosial di era digital menunjukkan bahwa eksposur digital memperkuat partisipasi publik.

Di sisi lain, FOMO atau Fear of Missing Out mendorong orang membeli karena takut tertinggal tren. Konten hiburan yang dramatik

membentuk persepsi bahwa membeli banyak takjil adalah bagian dari pengalaman Ramadan modern.

Baca Juga: 3 Pasar Takjil di Malang yang Wajib Dikunjungi Selama Ramadhan 2026

Antara Kebutuhan dan Keinginan: Analisis Perilaku Konsumtif

Perilaku membeli takjil dapat dibedakan antara kebutuhan berbuka dan dorongan tren. Studi tentang strategi pemasaran takjil selama Ramadan menyoroti adanya peningkatan impulse buying akibat promosi, visual menarik, dan momentum musiman.

Diskon, kemasan menarik, dan sensasi antrean menciptakan pengalaman emosional. Secara psikologis, situasi ramai dapat memicu keputusan cepat tanpa perencanaan, yang berpotensi menghasilkan pembelian berlebihan.

Dampak Ekonomi bagi UMKM dan Pedagang Musiman

Dari sisi ekonomi, war takjil membawa dampak positif. Laporan media mengutip pandangan ekonom bahwa UMKM mengalami peningkatan omzet selama Ramadan.

Momentum ini menjadi peluang bagi pedagang musiman untuk memperoleh tambahan pendapatan. Namun, lonjakan permintaan juga membawa risiko.

Overproduksi dapat menyebabkan kerugian jika dagangan tidak habis. Strategi harga dan pemasaran yang tepat menjadi kunci agar keuntungan tetap optimal tanpa pemborosan.

Perspektif Sosial: Tradisi Kolektif atau Kompetisi Simbolik?

Beberapa penelitian tentang solidaritas sosial lintas agama menunjukkan bahwa war takjil justru memperlihatkan interaksi inklusif antarwarga.

Aktivitas ini dapat memperkuat kohesi sosial, terutama ketika pasar Ramadan menjadi ruang pertemuan berbagai latar belakang.

Namun, ada juga pergeseran makna. Jika fokus utama berubah dari kebersamaan menuju pembelian berlebihan demi konten, maka nilai spiritual Ramadan berisiko tergeser oleh simbol konsumsi.

Dampak Lingkungan dan Pemborosan Makanan

Peningkatan pembelian takjil berpotensi memicu food waste. Data tren konsumsi makanan selama Ramadan menunjukkan adanya kenaikan belanja makanan, yang jika tidak dikelola dapat berujung pada pemborosan.

Selain itu, penggunaan kemasan plastik sekali pakai di pasar takjil memperbesar jejak lingkungan. Tantangan keberlanjutan menjadi relevan dalam diskusi mengenai konsumerisme musiman.

Pandangan Tokoh Agama dan Nilai Moderasi dalam Konsumsi

Dalam ajaran Islam, prinsip kesederhanaan dan larangan berlebihan atau israf menjadi landasan etika konsumsi. Konsep ini menekankan keseimbangan antara kebutuhan dan pengendalian diri.

Beberapa kajian tentang moderasi beragama menegaskan pentingnya menjaga nilai spiritual Ramadan agar tidak tereduksi menjadi sekadar perayaan konsumtif. War takjil dapat tetap bermakna jika dijalankan dalam batas wajar.

War Takjil: Evolusi Tradisi atau Gejala Konsumerisme Musiman?

Argumen yang mendukungnya sebagai tradisi sosial menekankan fungsi kohesi dan ekonomi lokal. Sementara itu, pandangan kritis melihatnya sebagai manifestasi konsumerisme musiman yang dipicu tren digital.

Analisis yang seimbang menunjukkan bahwa fenomena ini berada di antara keduanya. Tradisi dan konsumsi saling berkelindan, dipengaruhi konteks sosial dan teknologi.

Refleksi dan Arah ke Depan

War takjil dapat menjadi cerminan dinamika masyarakat modern. Nilai Ramadan tetap dapat dijaga melalui kesadaran individu dalam mengontrol konsumsi dan menghargai makna kebersamaan.

Jika dikelola secara bijak, fenomena ini berpotensi menjadi ruang pemberdayaan UMKM sekaligus penguatan solidaritas sosial. Kuncinya terletak pada keseimbangan antara kebutuhan, tren, dan nilai spiritual yang mendasarinya.

Baca Juga: Ramadhan Berkah, 5 Masjid di Lowokwaru Konsisten Sediakan Takjil Gratis

Author Image

Author

Ahnaf muafa