Infomalangcom – Ramadan selalu identik dengan suasana yang hidup. Masjid penuh, kajian ramai, media sosial dipenuhi konten religius, dan ajakan berbagi bermunculan di mana-mana.
Atmosfer ini membentuk kesan bahwa semangat Ramadan tumbuh bersama keramaian. Namun pertanyaannya sederhana sekaligus menantang: apakah spirit Ramadan tetap bertahan ketika sorotan sosial menghilang?
Ramadan dalam Keramaian Sosial
Secara historis dan sosiologis, Ramadan memang bukan hanya praktik individual, tetapi juga pengalaman kolektif.
Studi berjudul Ramadan: the month of fasting for muslim and social cohesion—mapping the unexplored effect menunjukkan bahwa puasa memperkuat kohesi sosial melalui aktivitas bersama, solidaritas, dan amal kolektif.
Kebersamaan menciptakan rasa identitas bersama yang memperkuat komitmen ibadah. Keramaian masjid, buka puasa bersama, dan kegiatan berbagi membentuk energi sosial yang saling menguatkan.
Atmosfer ini membuat seseorang merasa menjadi bagian dari gerakan besar. Dalam konteks psikologi sosial, dukungan lingkungan memperbesar peluang seseorang mempertahankan perilaku disiplin, meskipun sering kali hanya sementara.
Efek Psikologi Kolektif
Manusia cenderung menyesuaikan diri dengan norma lingkungan. Ketika mayoritas orang berpuasa, memperbanyak ibadah, dan berbagi, individu terdorong untuk melakukan hal serupa.
Fenomena ini bukan sekadar spiritual, tetapi juga psikologis. Artikel Ramadan in Lockdown: has the community spirit been lost? menggambarkan bagaimana ketika pembatasan sosial terjadi saat pandemi, umat Muslim berusaha mengganti kebersamaan fisik dengan interaksi digital.
Ini menunjukkan bahwa dorongan kolektif sangat kuat sehingga ketika keramaian fisik hilang, orang tetap mencari bentuk kebersamaan lain.
Rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar menciptakan motivasi tambahan. Validasi sosial, meskipun tidak selalu disadari, ikut memperkuat konsistensi ibadah selama Ramadan.
Baca Juga: Masjid sebagai Ruang Sosial, Bukan Sekadar Tempat Ibadah
Spirit yang Situasional
Namun ada fakta yang tidak bisa diabaikan. Lonjakan ibadah selama Ramadan sering kali diikuti penurunan setelah bulan tersebut berakhir. Ini menunjukkan bahwa sebagian semangat bersifat situasional.
Momentum tahunan, atmosfer khusus, dan pengaruh sosial membentuk dorongan emosional yang kuat. Tetapi dorongan emosional berbeda dengan kebiasaan yang terbangun secara sistematis. Ketika struktur lingkungan berubah, perilaku pun ikut berubah.
Laporan Ramadan in Indonesia: Memories of 2020 mencatat bahwa saat kegiatan kolektif dibatasi, masyarakat tetap berusaha mempertahankan nilai Ramadan melalui cara baru.
Ini memperlihatkan bahwa spirit bisa bertahan, tetapi bentuknya berubah dan memerlukan kesadaran yang lebih personal.
Ketika Euforia Dihilangkan
Bayangkan Ramadan tanpa promosi besar, tanpa acara massal, tanpa bukber, dan tanpa sorotan media sosial. Tidak ada tekanan sosial untuk terlihat religius. Tidak ada euforia kolektif.
Dalam kondisi seperti itu, kualitas ibadah benar-benar diuji. Tanpa validasi sosial, motivasi harus berasal dari dalam diri. Tantangan terbesarnya adalah mempertahankan disiplin ketika tidak ada yang melihat.
Artikel dari Kementerian Agama RI tentang spirit kepedulian Ramadan menekankan bahwa inti Ramadan adalah empati dan kepedulian, bukan sekadar aktivitas seremonial.
Artinya, keramaian bukan esensi utama, melainkan sarana yang membantu memperkuat nilai tersebut.
Spirit Individual dan Disiplin Pribadi
Di titik inilah perbedaan antara semangat kolektif dan kesadaran pribadi menjadi jelas. Konsistensi tanpa tekanan lingkungan membutuhkan disiplin dan sistem.
Kegiatan berbagi yang dilaporkan dalam artikel Kompas tentang penyebaran semangat kebaikan dari masjid menunjukkan bahwa inti Ramadan terletak pada praktik nyata, seperti zakat dan bantuan sosial. Praktik ini bisa tetap berjalan meskipun tanpa kemeriahan besar.
Spirit yang bertahan bukan yang bergantung pada suasana, tetapi yang berakar pada pemahaman makna ibadah. Ketika seseorang membangun rutinitas, refleksi, dan kesadaran diri, semangat tidak lagi tergantung pada atmosfer.
Ujian Keberlanjutan
Pertanyaan terakhir bukan apakah keramaian penting, tetapi apakah perubahan mampu bertahan setelah atmosfer kembali normal. Jika semangat hanya muncul karena momentum, maka ia akan menghilang bersama euforia.
Perubahan yang bertahan biasanya lahir dari sistem dan kebiasaan, bukan dari momen emosional tahunan. Ramadan dapat menjadi katalis, tetapi keberlanjutan ditentukan oleh komitmen individu.
Maka, spirit Ramadan memang diperkuat oleh keramaian sosial, tetapi tidak sepenuhnya bergantung padanya. Ketika keramaian hilang, yang tersisa adalah kualitas hubungan seseorang dengan nilai yang ia yakini. Di situlah jawaban sebenarnya berada.
Baca Juga: Perut Terlalu Kenyang Saat Buka? Ini Solusi Agar Tetap Nyaman Salat Tarawih










