Breaking

Kabar Baik! Rupiah Menguat Signifikan dan Dolar AS Turun ke Rp17.875

Kabar Baik! Rupiah Menguat Signifikan dan Dolar AS Turun ke Rp17.875
Infomalangcom - Angin segar akhirnya berhembus di pasar valuta asing Indonesia. Setelah berminggu-minggu tertekan dan sempat terperosok menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, rupiah akhirnya bangkit dengan penguatan yang signifikan pada Rabu, 10 Juni 2026.

Infomalangcom – Angin segar akhirnya berhembus di pasar valuta asing Indonesia. Setelah berminggu-minggu tertekan dan sempat terperosok menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, rupiah akhirnya bangkit dengan penguatan yang signifikan pada Rabu, 10 Juni 2026.

Momentum pemulihan ini ditopang oleh dua katalis besar sekaligus, yakni keputusan mengejutkan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal, serta melemahnya dolar AS akibat sinyal meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Rupiah Dibuka Kuat di Level Rp17.875

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka di posisi Rp17.875 per dolar AS atau terapresiasi sebesar 0,97% pada Rabu, 10 Juni 2026. Posisi ini membuat rupiah kembali turun ke bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS, setelah dalam beberapa hari terakhir terus berada di area tersebut.

Penguatan ini melanjutkan tren positif dari hari sebelumnya. Pada Selasa, 9 Juni 2026, rupiah ditutup menguat 0,55% ke posisi Rp17.950 per dolar AS, menandai pemulihan setelah sempat berada di atas level Rp18.000 sejak 4 Juni 2026.

Dengan demikian, rupiah berhasil mencatat penguatan beruntun selama dua hari perdagangan berturut-turut, sebuah capaian yang cukup berarti di tengah kondisi pasar global yang masih bergejolak.

Baca Juga : Rupiah Melemah Bikin Harga Bahan Bangunan Naik di Seluruh Indonesia

BI Kejutkan Pasar dengan Kenaikan BI Rate Darurat

Pemicu utama penguatan rupiah ini adalah keputusan Bank Indonesia yang menggelar Rapat Dewan Gubernur di luar jadwal. Keputusan ini di luar jadwal yang telah ditetapkan BI sebelumnya.

Berdasarkan kalender rapat BI, pembahasan suku bunga biasanya dilakukan dalam RDG bulanan yang dijadwalkan pada pertengahan Juni 2026. Namun BI secara mendadak menggelar RDG mingguan dan mengumumkan kenaikan suku bunga lebih cepat dari jadwal.

Dalam RDG Mingguan yang digelar pada Selasa, 9 Juni 2026, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Selain itu, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,50% dan Lending Facility menjadi 6,25%.

Ekonom Ibrahim Assuaibi mengungkapkan alasan di balik percepatan rapat tersebut. “Hari ini Bank Indonesia melakukan pertemuan yang dipercepat. Kenapa dipercepat? Karena pelemahan mata uang rupiah yang begitu tinggi hingga menyentuh Rp18.200 per dolar AS. Kondisi ini juga mendapatkan kritik terhadap langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia dari berbagai pihak,” ujarnya.

Alasan BI Menaikkan Suku Bunga Acuan

Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan penjelasan resmi atas langkah agresif ini. “Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah,” ujar Perry Warjiyo pada Selasa, 9 Juni 2026.

Perry menambahkan, sejak RDG Bulanan pada 19 hingga 20 Mei 2026, nilai tukar rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari perkiraan.

Selain dipengaruhi gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri, tekanan rupiah juga didorong oleh aliran keluar investasi portofolio asing dari Indonesia.

Kebijakan ini sekaligus ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil demi menarik kembali aliran masuk modal asing ke Indonesia.

Faktor Eksternal Turut Mendukung Penguatan Rupiah

Selain kebijakan moneter dalam negeri, faktor global juga memberikan angin segar bagi rupiah. Dolar AS melemah setelah harga minyak mentah turun tajam, seiring pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali memberi sinyal bahwa kesepakatan AS-Iran dapat tercapai dalam beberapa hari ke depan.

Trump juga menyebut Selat Hormuz dapat kembali dibuka segera setelah kesepakatan tersebut tercapai.

Indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau berada di zona merah dengan pelemahan tipis 0,03% ke level 99,882 hingga pukul 15.00 WIB.

Pelemahan DXY ini membuka ruang yang lebih lebar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat secara bersamaan.

Dampak ke IHSG dan Penutupan Pasar

Penguatan rupiah tidak hanya berdampak pada pasar valuta asing. Imbas dari kenaikan BI Rate tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada periode yang sama ditutup dengan lonjakan tajam.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG naik 404,51 poin atau melonjak 7,57% dan berada di level 5.746,65. Lonjakan IHSG ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir dan mencerminkan respons positif investor atas langkah tegas BI.

Hingga penutupan perdagangan, rupiah melesat 114 poin atau tumbuh 0,63 persen ke posisi Rp17.944 per dolar AS. Tren positif ini berjalan selaras dengan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia yang bergerak menguat ke Rp17.971 per dolar AS, memperbaiki catatan sebelumnya yang sempat melemah di Rp18.141 per dolar AS.

Analis Muhammad Amru Syifa dari ICDX mengingatkan adanya potensi volatilitas lanjutan pada pergerakan rupiah, mengingat kewaspadaan investor dalam mengamati dinamika faktor eksternal maupun internal di pasar keuangan global.

Fokus para pelaku pasar saat ini masih tersita oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang sangat memengaruhi selera investasi terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang dari negara berkembang.

Baca Juga : Rupiah Sentuh Rp.18.026,00 per Dolar AS, Terlemah dalam Beberapa Tahun Terakhir