Infomalangcom – Kondisi pasar keuangan dalam negeri kembali dikejutkan oleh pergerakan nilai tukar mata uang garuda yang mengalami tekanan sangat hebat terhadap mata uang global.
Pada pergerakan pasar terbaru, nilai mata uang Rupiah sentuh Rp.18.026,00 per Dolar AS, sebuah angka dramatis yang mencatatkan rekor koreksi paling dalam sepanjang sejarah keuangan modern Indonesia.
Berdasarkan pantaun data riil melalui Google Finance, pergerakan fluktuasi sempat menembus level psikologis Rp18.022 hingga menyentuh angka perdagangan Rp18.026 per dolar AS pada perdagangan dini hari.
Penurunan tajam mata uang tanah air ini memicu kekhawatiran meluas di kalangan pelaku usaha nasional, mengingat posisi tersebut menjadi yang terlemah dalam beberapa tahun terakhir sejak krisis pandemi global beberapa waktu silam.
Badai Sentimen Global Memicu Kejatuhan Rupiah
Melonjaknya nilai tukar greenback di pasar spot global dipicu oleh kompilasi sentimen negatif luar negeri yang memojokkan posisi mata uang negara berkembang.
Ketegangan geopolitik internasional, khususnya eskalasi diplomatik dan militer antara Amerika Serikat dan Iran terkait kepastian nota kesepahaman gencatan senjata, memaksa arus modal global keluar secara masif menuju aset aman (safe haven).
Investor institusi cenderung melepas kepemilikan aset berisiko tinggi di pasar berkembang dan memindahkan likuiditas mereka ke dalam instrumen dolar AS, yang memicu fenomena gap up atau penguatan indeks dolar secara mendadak.
Hambatan logistik akibat blokade di Selat Hormuz oleh pasukan Garda Revolusi Iran kian memperparah ketidakpastian rantai pasok energi dunia. Akibatnya, sentimen pasar uang domestik memburuk secara drastis dalam hitungan hari.
Baca Juga : Jadwal KA Penataran Surabaya-Malang 2026 Terbaru, Tarif Tiket Mulai Rp10 Ribu
Tekanan Inflasi Domestik dan Respons Perbankan Nasional
Bukan hanya faktor eksternal, pelemahan nilai tukar ini juga diperberat oleh rilis data ekonomi domestik yang menunjukkan kenaikan inflasi bulanan di Indonesia menjadi sebesar 0,28 persen.
Angka ini naik signifikan dibanding bulan sebelumnya, didorong oleh gejolak harga pangan (volatile food) dan peningkatan harga energi global.
Tekanan berlapis ini memaksa perbankan nasional segera menyesuaikan kurs transaksi harian mereka. Berdasarkan laporan data resmi perbankan, sejumlah bank konvensional raksasa seperti Bank Tabungan Negara (BTN) bahkan sempat mematok harga jual dolar AS kepada nasabah di angka Rp18.010 hingga Rp18.026 per dolar AS.
Pergerakan yang sangat liar di pasar spot harian ini mencerminkan tingginya risiko volatilitas likuiditas valas di dalam negeri saat ini.
Dampak Berantai Terhadap IHSG dan Langkah Bank Indonesia
Anjloknya nilai mata uang garuda ini langsung memberikan dampak berantai yang signifikan pada sektor pasar modal Indonesia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan ikut terjun bebas sebesar 2,31 persen menuju level 6.051 akibat aksi jual massal oleh investor asing yang menghindari risiko kerugian nilai tukar (currency risk).
Menghadapi situasi darurat pergerakan instrumen keuangan ini, Bank Indonesia (BI) segera mengintensifkan langkah intervensi di pasar valuta asing, baik melalui mekanisme Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun pasar spot langsung.
Otoritas moneter menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar nasional memerlukan sinergi ketat seluruh pemangku kebijakan ekonomi guna menahan laju pelemahan agar tidak merusak pondasi sektor manufaktur dan industri impor nasional yang sangat bergantung pada bahan baku luar negeri.
Informasi mendalam mengenai perkembangan dinamika pasar keuangan global serta analisis dampaknya terhadap perekonomian nasional dapat disaksikan secara langsung melalui tayangan laporan Video Kompas Terkait Analisis Pelemahan Rupiah atau mengikuti pembaruan berita ekonomi terkini yang disajikan secara kredibel pada halaman Berita Kurs Rupiah Kompas.
Baca Juga : Pengusaha Malang Ditahan Terkait Dugaan Kredit Fiktif KoinWorks, Kerugian Capai Miliaran














