Breaking

5 Fakta Menarik Kota Malang yang Jarang Diketahui Wisatawan

5 Fakta Menarik Kota Malang yang Jarang Diketahui Wisatawan
Di balik popularitasnya sebagai destinasi wisata kuliner dan alam, Kota Malang sebenarnya menyimpan banyak fakta menarik yang jarang diketahui wisatawan pada umumnya.

infomalangcom – Di balik popularitasnya sebagai destinasi wisata kuliner dan alam, Kota Malang sebenarnya menyimpan banyak fakta menarik yang jarang diketahui wisatawan pada umumnya.

Mulai dari sejarah tata kota hingga kondisi geografis yang membentuk karakter kota ini, berikut lima fakta menarik seputar Kota Malang yang layak diketahui sebelum berkunjung.

Pengetahuan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membantu wisatawan merencanakan kunjungan lebih bermakna, terutama bagi yang tertarik menelusuri sisi sejarah kota di luar destinasi populer.

Kota Malang Berada di Dataran Tinggi dengan Suhu Sejuk

Kota Malang terletak pada ketinggian sekitar 440 hingga 667 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu kota di Jawa Timur dengan udara yang relatif lebih sejuk dibanding daerah pesisir.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Pemerintah Kota Malang, suhu udara rata-rata harian di kota ini berkisar antara 22,7 hingga 25,1 derajat Celsius, dengan suhu maksimum dapat mencapai sekitar 32,7 derajat Celsius pada musim kemarau.

Letak geografis yang berada di dataran tinggi dan dikelilingi pegunungan, seperti Gunung Semeru di sisi timur serta Gunung Kawi dan Panderman di sisi barat, turut memengaruhi kenyamanan suhu udara yang dirasakan wisatawan selama berada di kota ini.

Kondisi udara sejuk ini pula yang membuat aktivitas berjalan kaki menyusuri kota atau menikmati kuliner di ruang terbuka terasa lebih nyaman dibanding kota-kota dataran rendah pada umumnya.

Malang Dirancang dengan Konsep Garden City Sejak Zaman Belanda

Tidak banyak wisatawan yang menyadari bahwa tata kota Malang saat ini merupakan warisan perencanaan matang dari era kolonial Belanda.

Arsitek dan perencana kota Herman Thomas Karsten dipercaya merancang tata kota Malang pada periode 1930 hingga 1935, dengan menerapkan konsep garden city atau kota taman yang saat itu tergolong modern.

Konsep ini menekankan keseimbangan antara kawasan permukiman, fasilitas umum, dan ruang terbuka hijau, yang diwujudkan lewat pembangunan boulevard lebar dengan median taman di tengah jalan serta penataan taman-taman kota di berbagai sudut.

Warisan perencanaan inilah yang membuat Malang terasa lebih tertata dan hijau dibandingkan banyak kota lain di Indonesia hingga saat ini.

Banyak Bangunan Kolonial Masih Berdiri dan Berfungsi

Salah satu jejak paling nyata dari perencanaan kota era Karsten adalah kawasan Ijen Boulevard, yang hingga kini masih mempertahankan karakter arsitektur kolonial-hijau khas rancangan awalnya.

Kawasan ini dahulu dirancang sebagai permukiman vila mewah bagi warga Eropa, lengkap dengan barisan pohon palem yang membentuk boulevard simetris di sepanjang jalan.

Selain rumah-rumah tua bergaya kolonial, sejumlah bangunan seperti gedung sekolah dan tempat ibadah peninggalan Belanda juga masih berdiri kokoh dan tetap difungsikan hingga sekarang.

Sayangnya, potensi wisata heritage semacam ini belum banyak dieksplorasi wisatawan yang umumnya lebih akrab dengan destinasi kuliner dan alam Malang, meski berbagai pihak, termasuk pemerintah kota dan komunitas pemerhati sejarah, terus mendorong upaya pelestarian bangunan-bangunan bersejarah tersebut sebagai bagian dari identitas kota.

Baca Juga: 4 Rekomendasi Mille Crepes di Malang dengan Lapisan Lembut dan Rasa yang Memanjakan Lidah

Kota Malang Dijuluki Kota Pendidikan

Julukan Kota Pendidikan melekat kuat pada Malang berkat keberadaan sejumlah perguruan tinggi besar, seperti Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia setiap tahun memilih menempuh pendidikan di kota ini, menciptakan populasi penduduk yang dinamis sekaligus beragam secara budaya.

Kehadiran para mahasiswa ini turut memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian lokal, mulai dari sektor kuliner, kos-kosan, hingga usaha kreatif yang tumbuh di sekitar kampus.

Meski suasana kota terasa ramai dan dinamis, Malang tetap dikenal sebagai tempat yang nyaman untuk ditinggali dalam jangka panjang, dengan perpaduan budaya lokal Arek Malang yang khas dan keberagaman pendatang dari berbagai penjuru Nusantara.

Malang Memiliki Curah Hujan Tinggi yang Menjaga Kota Tetap Hijau

Curah hujan rata-rata di Kota Malang tercatat cukup tinggi, yakni sekitar 1.883 milimeter per tahun berdasarkan data yang pernah dipublikasikan dalam kajian ilmiah terkait iklim kota ini.

Tingginya curah hujan tersebut berkontribusi terhadap kesuburan tanah, sehingga mendukung keberadaan banyak taman kota dan pepohonan rindang yang tersebar di berbagai sudut Malang.

Kondisi ini turut menjadikan kualitas udara di kota ini relatif lebih segar dibandingkan sejumlah kota besar lain di Jawa Timur yang lebih padat dan minim ruang hijau.

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung tanpa terganggu hujan, informasi resmi mengenai kondisi geografis dan iklim Kota Malang dapat menjadi acuan sebelum merencanakan waktu kunjungan, mengingat musim hujan di kota ini umumnya berlangsung antara Oktober hingga Februari setiap tahunnya, sehingga periode kemarau menjadi waktu yang lebih ideal bagi wisatawan yang ingin leluasa menjelajahi berbagai sudut kota.

Baca Juga: Upaya Pencegahan Kecelakaan Lalu Lintas di Kawasan Lawang dan Ruas Tol

Author Image

Author

Bima Yoga