infomalangcom – Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan video penumpang wanita viral yang memaksa untuk masuk ke gerbong KRL yang sudah penuh.
Kejadian tersebut terjadi di gerbong KRL yang saat itu akan berangkat dari Stasiun Manggarai. Penumpang wanita yang memaksa masuk tersebut mendorong tubuhnya agar bisa masuk, namun ditarik petugas demi keselamatannya.
Namun, penumpang wanita tersebut mengamuk dan sedikit berdebat dengan petugas ketika diminta jangan memaksa naik, bahkan sampai menarik topi petugas.
Kejadian tersebut menunjukkan bagaimana situasi yang berawal dari keinginan untuk memaksa tetap naik di sebuah KRL yang sudah dipenuhi penumpang dapat berkembang menjadi konflik ketika respons emosional tidak terkendali. Lantas, mengapa seseorang dapat bereaksi emosi berlebihan atas masalah sederhana yang sedang dihadapi?
Kejadian seperti peristiwa tersebut tidak hanya terjadi pada saat kondisi berebut masuk di sebuah KRL. Namun juga sering ditemukan dalam keseharian lainnya yang berawal hanya karena masalah kecil.
Namun karena adanya rasa kesal, seseorang bisa bereaksi sangat berlebihan dalam menanggapi suatu hal yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Hal sederhana yang terjadi seperti mengantre terlalu lama, mendapat komentar yang tidak sesuai harapan, keinginan yang ditolak begitu saja, bahkan internet yang terasa lemot saja dapat memicu respons emosional seseorang dengan sangat berlebihan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rasa kesal dapat muncul ketika keadaan tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Perasaan dalam menghadapi rasa tidak nyaman, merasa terhambat, maupun kekecewaan berkaitan dengan konsep Low Frustration Tolerance (LFT).
Peristiwa KRL yang viral tersebut ditanggapi oleh Manajer Corporate Communication KAI Services, yang menegaskan bahwa keselamatan penumpang menjadi prioritas dalam layanan KRL.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berpotensi mengganggu operasional, namun juga membahayakan penumpang yang memaksa masuk tersebut.
Ketika Hal Kecil Begitu Mengganggu
Kita semua harus tahu bahwa segala sesuatu pasti adakalanya tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Namun setiap orang mempunyai respons yang berbeda dalam menghadapi masalah yang membuat dirinya menjadi kesal.
Ada yang mampu menerima keadaan dan melanjutkan aktivitas, tetapi ada pula yang sulit menerima sehingga rasa kesal tersebut menimbulkan respons yang lebih besar daripada persoalan awalnya.
Rasa kesal atau marah bukanlah suatu hal yang dianggap salah. Marah merupakan salah satu emosi manusia yang wajar.
Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana seseorang merespons rasa kesal tersebut. Dalam anger management, kemampuan mengelola emosi merupakan hal yang penting bagi seseorang, karena seseorang tidak selalu bisa mengendalikan keadaan yang membuatnya kesal.
Pengelolaan amarah yang dilakukan setiap individu berbeda, ada yang memilih untuk melampiaskan segala amarahnya dengan cara yang agresif, bahkan ada yang memilih untuk mengontrol dan meredam emosi dengan tenang.
Terkadang cara tiap individu menghadapi rasa frustrasi tersebut justru ikut menentukan seberapa besar masalah tersebut berkembang.
Anger management bukan berarti mencegah seseorang untuk merasa marah, melainkan menuntut seseorang untuk bisa terbiasa mengenali tanda-tanda kemarahan dan memilih cara yang lebih baik dalam merespons suatu hal.
Ketika menerima komentar yang tidak menyenangkan, misalnya, seseorang mungkin langsung memaknainya sebagai serangan personal.
Pemaknaan tersebut dapat membuat emosi semakin meningkat. Namun, dengan mencoba melihat situasi dari sudut pandang lain, seseorang memiliki kesempatan untuk memberi jeda antara emosi yang terjadi dan respons yang akan diberikan.
Marah Bukan Masalahnya, Respons Kita yang Perlu Dikelola
Regulasi emosi merupakan proses ketika seseorang memengaruhi bagaimana emosi muncul, dirasakan, dan diekspresikan.
Salah satu strategi yang digunakan adalah cognitive reappraisal, yaitu mengubah cara seseorang memaknai suatu situasi sehingga respons emosional yang muncul juga dapat berubah.
Ketika mendapatkan sebuah komentar yang tidak sesuai keinginan, seseorang bisa saja langsung menganggapnya sebagai serangan personal.
Pemaknaan tersebut dapat membuat emosi semakin meningkat. Padahal, jika mencoba menyikapi dari sudut pandang lain, seseorang masih berkesempatan untuk menentukan respons sebelum bertindak.
Hal ini bukan berarti perasaan marah tidak diperbolehkan. Semua orang berhak merasa kecewa, kesal, atau marah karena itu respons manusiawi.
Baca Juga: Cara Membagi Waktu Ibadah dan Tugas Sekolah agar Tetap Produktif Selama Ramadan
Namun, perlu digarisbawahi bahwa perbedaan antara merasakan emosi dan membiarkan emosi itu dapat menentukan tindakan. Kita tidak selalu dapat memilih apa yang terjadi kepada kita. Tetapi kita masih dapat belajar memilih bagaimana kita meresponsnya.
Dalam perspektif human literacy, kemampuan mengelola emosi tidak hanya berkaitan dengan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, tetapi juga dengan bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Ketika sedang marah, seseorang mungkin hanya melihat situasi dari sudut pandangnya sendiri. Padahal, orang lain juga memiliki perasaan, alasan, dan perspektif yang perlu dipertimbangkan.
Dalam Estetika Humanisme, pengelolaan emosi tidak diarahkan untuk memendam kemarahan, melainkan bisa mengendalikan diri agar tindakan dari respons yang dilakukan tidak merugikan pihak manapun.
Karena itu, kemampuan mengenali emosi, memberikan jeda sebelum menanggapi dan bereaksi, serta mempertimbangkan dampak tindakan merupakan bagian dari kemampuan manusia untuk hidup dan berinteraksi secara lebih sadar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa setiap individu tidak selalu bisa mengendalikan keadaannya. Kita tidak dapat menentukan apakah orang lain akan melakukan hal yang membuat kita kesal. Namun, kita masih memiliki ruang untuk menentukan bagaimana merespons situasi tersebut.
Belajar Berdamai dengan Rasa Kesal
Toleransi terhadap rasa kesal bukan sesuatu yang harus langsung sempurna. Kemampuan tersebut dapat dikembangkan secara bertahap melalui beberapa kebiasaan:
- Mengenali pemicu frustrasi. Kita harus mengetahui situasi yang biasanya membuat kita menjadi mudah kesal.
- Memberi ruang untuk menghadapi ketidaknyamanan. Tidak selalu menghindari keadaan yang membuat frustrasi, tetapi belajar menghadapinya secara bertahap.
- Mengevaluasi pola pikir. Tidak membiarkan pikiran negatif atau keyakinan yang dapat memperburuk respons emosional.
- Meminta bantuan ketika diperlukan. Berbicara dengan orang yang dipercaya atau mencari bantuan profesional ketika kesulitan mengelola emosi dan mulai mengganggu keseharian.
Mengelola amarah bukan berarti menekan emosi, melainkan mengharuskan kita untuk belajar memahami, memberi jeda, dan memilah respons agar masalah tidak berkembang menjadi konflik yang besar.
Oleh: Kasihani Sukarno Putri
Mahasiswa Universitas Siber Asia













