infomalangcom – Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan manusia. Teknologi yang dahulu terasa seperti sesuatu dari masa depan kini sudah digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mencari informasi, membantu pekerjaan, membuat konten, hingga mendukung kegiatan belajar.
Kehadiran AI memang menawarkan banyak kemudahan. Dalam waktu singkat, seseorang dapat memperoleh informasi, menemukan ide, atau menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama. Tidak mengherankan jika penggunaan AI semakin berkembang di berbagai bidang.
Namun, di tengah kemudahan tersebut, ada satu pertanyaan yang menurut saya justru semakin penting untuk dibicarakan: kalau AI semakin pintar, apakah manusia juga menjadi semakin bijak? Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan teknologi, ini juga merupakan persoalan manusia.
Ketika AI Mulai Mengambil Alih Sebagian Proses Berpikir
Salah satu contoh yang paling mudah ditemukan adalah penggunaan AI dalam pendidikan. Mahasiswa dapat menggunakan AI untuk mencari penjelasan mengenai materi yang sulit, menemukan ide tulisan, atau membantu memahami suatu topik.
Penggunaan seperti itu tentu bisa memberikan manfaat. AI dapat menjadi alat bantu yang membuat proses belajar menjadi lebih mudah dan efisien.
Namun, ada perbedaan antara menggunakan AI untuk membantu berpikir dan menggunakan AI agar tidak perlu berpikir. Jika seorang mahasiswa menggunakan AI untuk memahami materi kemudian memeriksa kembali informasi yang diberikan, teknologi tersebut dapat menjadi teman belajar yang bermanfaat.
Sebaliknya, jika semua jawaban langsung disalin tanpa dipahami, proses belajar justru kehilangan maknanya.
Kekhawatiran mengenai hal tersebut bukan tanpa alasan. Pada April 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa penggunaan AI yang terlalu bergantung dapat mulai menggerus kemampuan berpikir kritis, khususnya dalam dunia pendidikan.
Ia juga menekankan bahwa kemampuan manusia untuk mengevaluasi hasil AI tetap diperlukan. Menurut saya, teknologi seharusnya memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya.
Society 5.0: Teknologi Tetap Harus Berpusat pada Manusia
Pembahasan mengenai AI tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Industry 4.0 dan konsep Society 5.0. Jika Industry 4.0 banyak berbicara mengenai otomatisasi, konektivitas, data, dan teknologi cerdas, Society 5.0 membawa perhatian kembali kepada manusia.
Teknologi yang semakin canggih seharusnya digunakan untuk membantu manusia menyelesaikan persoalan dan meningkatkan kualitas kehidupan. Dengan kata lain, manusia bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi tetap menjadi pusat dari pemanfaatannya.
Hal tersebut juga terlihat dari arah tata kelola AI di Indonesia. Pemerintah mendorong pendekatan human-centered AI, yaitu pengembangan AI yang tetap menempatkan manusia sebagai pusat. Pemerintah juga menekankan pentingnya manusia tetap memiliki kendali terhadap keputusan yang dihasilkan teknologi.
Menurut saya, prinsip tersebut sangat penting. Sebab, teknologi boleh memiliki kemampuan yang luar biasa, tetapi teknologi tidak seharusnya menentukan seluruh kehidupan manusia tanpa pengawasan.
Baca Juga: KKN Mahasiswa UMM di Kasembon Malang Sempat Ditolak, Ini Penjelasan Kampus
Manusia Bukan Sekadar Pengguna Teknologi
Kemampuan menggunakan AI memang penting. Namun, menjadi manusia yang mampu menggunakan teknologi belum tentu berarti menjadi manusia yang mampu menggunakannya dengan bijaksana.
Ada beberapa kemampuan yang tetap perlu dimiliki manusia, seperti berpikir kritis, memahami konteks, memiliki empati, mempertimbangkan nilai moral, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.
Misalnya, AI dapat memberikan jawaban dengan cepat. Tetapi manusia tetap perlu bertanya apakah informasi tersebut benar, apakah sumbernya dapat dipercaya, dan apakah jawaban tersebut sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.
Hal ini semakin penting karena AI juga memiliki risiko. Pemerintah Indonesia dalam pembahasan tata kelola AI menyoroti berbagai persoalan seperti bias, misinformasi, deepfake, privasi data, dan keamanan siber. Artinya, semakin besar kemampuan teknologi, semakin besar pula tanggung jawab manusia dalam menggunakannya.
AI Seharusnya Membantu, Bukan Membuat Manusia Kehilangan Daya Kritis
Menurut saya, kita tidak perlu takut terhadap perkembangan AI. Justru, AI perlu dipelajari agar manusia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mampu memahami cara kerja dan dampaknya. Yang perlu dihindari adalah ketergantungan.
Teknologi dapat membantu kita mencari jawaban, tetapi kita tetap harus belajar memahami jawabannya. Teknologi dapat membantu membuat tulisan, tetapi kita tetap harus memiliki gagasan sendiri. Teknologi dapat memberikan berbagai pilihan, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia.
Di sinilah nilai humanisme menjadi penting. Kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia semakin jauh dari kemampuan untuk memahami dirinya sendiri dan orang lain.
Manusia tidak harus mengalahkan AI dalam hal kecepatan. Manusia hanya perlu memastikan bahwa ketika menggunakan AI, ia tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir dan mempertimbangkan sesuatu secara manusiawi.
Teknologi Boleh Semakin Pintar, Manusia Harus Semakin Bijak
Pada akhirnya, perkembangan AI bukan hanya persoalan tentang seberapa canggih teknologi yang berhasil diciptakan. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan dan siapa yang tetap memegang kendali.
Society 5.0 seharusnya menjadi gambaran masyarakat yang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Karena itu, AI harus digunakan secara bertanggung jawab, dengan tetap memperhatikan etika, privasi, keamanan, dan kepentingan manusia.
Menurut saya, manusia yang unggul di era AI bukanlah manusia yang menyerahkan seluruh pekerjaannya kepada mesin. Manusia yang unggul adalah manusia yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir, merasa, menilai, dan bertanggung jawab.
Jadi, kalau pertanyaannya adalah “AI mempermudah hidup, tetapi siapa yang tetap harus berpikir?”, jawabannya sederhana: tetap manusia. Karena teknologi boleh semakin pintar, tetapi manusia harus semakin bijak.
Oleh: Linah Karlinah
Mahasiswa Universitas Siber Asia













