Breaking

Rupiah Tertekan, Nilai Tukar Mendekati Rp17.000 per Dolar AS

Rupiah Tertekan, Nilai Tukar Mendekati Rp17.000 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan pada awal 2026. Pergerakan rupiah bahkan sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS sehingga menjadi perhatian pelaku pasar dan pemerintah.

Infomalangcom – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan pada awal 2026. Pergerakan rupiah bahkan sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS sehingga menjadi perhatian pelaku pasar dan pemerintah.

Pada 10 Maret 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa posisi rupiah berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS.

Ia menilai kondisi tersebut masih dapat dikendalikan selama fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.

Pergerakan nilai tukar merupakan salah satu indikator yang terus diperhatikan karena perubahan kurs dapat memberikan pengaruh terhadap aktivitas ekonomi, terutama transaksi yang berkaitan dengan perdagangan internasional.

Kondisi Global Memengaruhi Pergerakan Rupiah

Nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi dalam negeri. Perkembangan ekonomi global juga memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan mata uang.

Ketika dolar AS menguat, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dapat menghadapi tekanan. Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga AS juga dapat memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dananya.

Situasi geopolitik turut menjadi faktor yang diperhatikan pasar. Ketidakpastian global dapat membuat investor lebih berhati-hati dan meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman.

Bank IndonesiaLaporan Kebijakan Moneter Triwulan I 2026

Harga Minyak Ikut Menjadi Perhatian

Pergerakan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi rupiah. Pada Juli 2026, ANTARA melaporkan rupiah kembali tertekan seiring kenaikan harga minyak mentah dan ketidakpastian geopolitik.

Kenaikan harga minyak dapat memberikan dampak terhadap perekonomian negara pengimpor energi. Kebutuhan pembayaran dalam valuta asing dapat meningkat apabila biaya impor energi mengalami kenaikan.

Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam melihat perkembangan nilai tukar rupiah.

Rupiah Sempat Menembus Rp17.900

Tekanan terhadap rupiah berlanjut dalam beberapa bulan berikutnya. Pada 3 Juni 2026, rupiah dilaporkan menembus level Rp17.926 per dolar AS.

ANTARA melaporkan pelemahan tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, serta penguatan dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak berhenti pada kisaran Rp17.000. Faktor eksternal yang berkembang di pasar global dapat menyebabkan nilai tukar bergerak lebih jauh.

Bank Indonesia Perkuat Stabilisasi Rupiah

Bank Indonesia terus menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Salah satunya melalui intervensi di pasar valuta asing.

Dalam laporan kebijakan moneter, Bank Indonesia menyebut peningkatan intervensi dilakukan melalui pasar Non-Deliverable Forward atau NDF di luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas rupiah sekaligus menghadapi meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

BI-Rate Turut Diperkuat

Kebijakan suku bunga juga menjadi bagian dari strategi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Pada 17–18 Juni 2026, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Keputusan tersebut disebut sebagai langkah untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Pada saat yang sama, Bank Indonesia menyebut rupiah pada 17 Juni 2026 berada di level Rp17.730 per dolar AS atau menguat 0,76 persen dibandingkan posisi akhir Mei.

Artinya, meskipun rupiah sempat mengalami tekanan besar, terdapat periode ketika nilai tukar kembali mengalami penguatan.

Cadangan Devisa Tetap Menjadi Penyangga

Kondisi cadangan devisa juga menjadi salah satu indikator yang diperhatikan ketika melihat ketahanan eksternal Indonesia.

Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Cadangan devisa yang memadai memberikan ruang bagi otoritas untuk menjaga stabilitas sektor eksternal ketika terjadi tekanan terhadap pasar valuta asing.

Dampak Rupiah terhadap Perekonomian

Perubahan nilai tukar rupiah dapat memberikan dampak terhadap berbagai aktivitas ekonomi. Bagi perusahaan yang melakukan impor, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya pembelian barang atau bahan baku dari luar negeri.

Sebaliknya, eksportir dapat memperoleh dampak berbeda karena pendapatan dalam dolar AS ketika dikonversikan ke rupiah memiliki nilai yang lebih tinggi.

Dampak terhadap masyarakat juga bergantung pada jenis barang dan jasa yang dikonsumsi. Produk yang memiliki komponen impor dapat mengalami perubahan biaya apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Inflasi Tetap Menjadi Perhatian

Selain stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia juga memperhatikan perkembangan inflasi. Kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran yang telah ditetapkan.

Bank Indonesia mencatat inflasi IHK pada Juni 2026 sebesar 3,34 persen secara tahunan. Sasaran inflasi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa stabilitas harga tetap menjadi bagian penting dalam kebijakan ekonomi ketika rupiah menghadapi tekanan.

Pergerakan Rupiah Masih Dinamis

Pergerakan rupiah sepanjang 2026 menunjukkan bahwa nilai tukar sangat dipengaruhi berbagai faktor. Kondisi geopolitik, harga komoditas, kebijakan suku bunga, aliran modal, serta permintaan valuta asing dapat memengaruhi arah pergerakannya.

Karena itu, satu angka kurs tidak dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi rupiah secara keseluruhan. Nilai tukar berubah mengikuti perkembangan pasar dan kebijakan yang diterapkan oleh otoritas moneter.

Pelaku usaha juga perlu memperhatikan perkembangan tersebut karena perubahan kurs dapat memengaruhi biaya produksi, perdagangan, hingga perencanaan keuangan.

Pemerintah dan BI Terus Menjaga Stabilitas

Pemerintah bersama Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Kebijakan tersebut diperlukan agar tekanan eksternal tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih besar terhadap perekonomian.

Bank Indonesia menilai prospek rupiah tetap dapat dijaga melalui komitmen stabilisasi, kebijakan moneter, serta dukungan terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.

Dengan koordinasi kebijakan yang konsisten, stabilitas nilai tukar diharapkan tetap terjaga meskipun kondisi pasar global masih penuh ketidakpastian.

baca juga: Faktor-Faktor yang Memengaruhi Harga Karpet di Pasaran

Rupiah Perlu Terus Dipantau

Rupiah memang sempat mendekati level Rp17.000 dan kemudian bergerak melewati level tersebut dalam perkembangan berikutnya.

Data Bank Indonesia menunjukkan pada 20 Juli 2026 JISDOR berada di Rp17.976 per dolar AS.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih menjadi perhatian. Namun, kondisi nilai tukar perlu dilihat bersama indikator ekonomi lainnya, seperti inflasi, cadangan devisa, kebijakan suku bunga, dan kondisi ekonomi global.

baca juga: 21.588 UMKM Kota Malang Telah Kantongi Sertifikat Halal, Pemkot Terus Dorong Daya Saing Usaha