Infomalangcom – Ramadan mengubah pola makan, minum, tidur, dan aktivitas sehari-hari.
Ginjal membutuhkan cairan yang cukup untuk membantu membuang sisa metabolisme melalui urine.
Kekurangan cairan dapat menyebabkan dehidrasi dan, pada kondisi tertentu, meningkatkan risiko gangguan ginjal.
Karena itu, kebiasaan selama sahur hingga berbuka perlu diperhatikan dengan bijak.
Kebiasaan Saat Ramadan yang Perlu Diperhatikan untuk Kesehatan Ginjal
Saat berpuasa, tubuh tidak memperoleh asupan makanan dan minuman selama beberapa jam.
Kondisi ini membuat waktu berbuka sampai sahur menjadi kesempatan penting untuk memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi.
Kebiasaan makan terlalu asin, terlalu banyak minuman manis, atau mengabaikan kebutuhan cairan dapat membuat pola hidup menjadi kurang seimbang.
National Kidney Foundation menjelaskan bahwa kebutuhan cairan setiap orang berbeda, bergantung pada usia, aktivitas, kondisi kesehatan, dan faktor lainnya.
Artinya, tidak ada satu angka kebutuhan air yang berlaku untuk semua orang.
Orang dengan penyakit ginjal tertentu bahkan dapat memiliki pembatasan cairan khusus dari dokter.
Kurang Minum dari Berbuka hingga Sahur
Kurang minum merupakan kebiasaan yang perlu diwaspadai selama Ramadan.
Dehidrasi membuat tubuh kekurangan cairan yang dibutuhkan berbagai fungsi, termasuk proses pembentukan urine.
National Kidney Foundation mencatat bahwa dehidrasi berat dapat menyebabkan kerusakan ginjal, sementara tanda dehidrasi dapat berupa rasa haus, mulut kering, urine berwarna kuning gelap, lelah, dan frekuensi buang air kecil yang menurun.
Karena itu, jangan menunggu hingga menjelang sahur untuk memenuhi seluruh kebutuhan cairan.
Minum dapat dibagi secara bertahap sejak berbuka sampai sahur.
Air putih dapat menjadi pilihan utama.
Namun, orang dengan kondisi medis tertentu sebaiknya mengikuti anjuran tenaga kesehatan mengenai jumlah cairan yang sesuai.
Terlalu Banyak Mengonsumsi Makanan Asin
Makanan tinggi garam juga perlu dibatasi. Garam mengandung natrium, dan konsumsi natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah.
Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor penting yang dapat berhubungan dengan kerusakan ginjal.
Saat Ramadan, makanan instan, makanan olahan, camilan asin, saus, serta makanan siap saji dapat muncul dalam menu sahur atau berbuka.
Membaca label kandungan natrium dan memilih makanan yang lebih segar dapat membantu mengendalikan asupan garam.
Pola makan yang lebih seimbang juga mendukung kesehatan secara keseluruhan.
Berlebihan Mengonsumsi Minuman Manis
Minuman manis sering menjadi pilihan ketika berbuka.
Rasanya memang menyegarkan, tetapi konsumsi gula tambahan sebaiknya tetap dibatasi.
National Kidney Foundation menyebut pengelolaan gula darah penting bagi kesehatan ginjal, terutama pada orang dengan diabetes, karena kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak ginjal.
Air putih tetap dapat dijadikan pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan. Minuman manis sebaiknya tidak menggantikan air secara terus-menerus.
Mengurangi tambahan gula juga membantu menjaga pola makan tetap seimbang selama Ramadan.
Baca juga: Tips Ramadan Tanpa Drama untuk Mengelola Emosi dan Menjaga Diri Saat Berpuasa
Mengabaikan Sahur dan Pola Makan Tidak Teratur
Melewatkan sahur dapat membuat kesempatan memenuhi kebutuhan energi dan cairan menjadi lebih terbatas.
Sebaliknya, makan berlebihan ketika berbuka juga bukan pilihan ideal.
Pola makan sebaiknya disusun dengan memperhatikan keseimbangan antara sumber karbohidrat, protein, sayuran, buah, dan cairan.
Makan secara perlahan dan mengatur porsi dapat membantu tubuh beradaptasi setelah berpuasa.
Kebiasaan tersebut juga membuat asupan dari berbuka hingga sahur lebih terencana, bukan menumpuk pada satu waktu.
Sembarangan Mengonsumsi Obat atau Suplemen
Obat dan suplemen tidak sebaiknya dikonsumsi sembarangan, terlebih bagi orang yang memiliki penyakit ginjal.
Beberapa obat dapat memengaruhi fungsi ginjal, sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.
Jika sedang menjalani pengobatan, konsultasikan perubahan waktu minum obat selama Ramadan kepada dokter atau apoteker.
Jangan menghentikan, menggandakan, atau mengubah dosis sendiri.
Pasien dengan penyakit ginjal juga membutuhkan saran individual karena kebutuhan cairan, makanan, dan obat dapat berbeda.
Tanda Kondisi Tubuh yang Perlu Diwaspadai
Perubahan kondisi tubuh selama puasa perlu diperhatikan.
Urine yang sangat gelap, frekuensi buang air kecil yang berkurang, rasa haus berlebihan, pusing, atau kelelahan dapat menjadi tanda dehidrasi.
Pembengkakan atau perubahan buang air kecil yang menetap juga sebaiknya tidak diabaikan.
Jika muncul gejala berat, memburuk, atau tidak membaik, segera cari bantuan medis.
Orang dengan penyakit ginjal, diabetes, tekanan darah tinggi, atau kondisi medis lainnya sebaiknya berkonsultasi sebelum menentukan pola puasa yang aman.
Cara Menjaga Kesehatan Ginjal Selama Ramadan
Menjaga ginjal selama Ramadan dapat dimulai dengan memenuhi kebutuhan cairan sesuai kondisi tubuh, memilih makanan bergizi seimbang, serta membatasi makanan tinggi garam dan gula.
Hindari penggunaan obat atau suplemen tanpa arahan tenaga kesehatan.
Yang tidak kalah penting, kenali kondisi tubuh sendiri.
Orang sehat dan orang dengan penyakit ginjal tidak selalu memiliki kebutuhan cairan atau aturan puasa yang sama.
Jika memiliki kondisi medis, rencana puasa sebaiknya dibicarakan bersama dokter.
Baca juga: Rekomendasi Kegiatan Seru Rayakan HUT RI di Malang, Bisa Bareng Keluarga dan Teman











