infomalangcom – Kerumunan massa yang masih bertahan di sekitar kompleks DPR/MPR Jakarta hingga Jumat dini hari, 28 Agustus 2026, berdampak pada pengaturan lalu lintas di ruas Tol Dalam Kota. Sejumlah akses gerbang tol ditutup sementara untuk mengantisipasi pergerakan massa dan menjaga kelancaran serta keselamatan pengguna jalan.
Jasa Marga melalui Senior General Manager Jasamarga Metropolitan Tollroad Widiyatmiko Nursejati menyampaikan bahwa penutupan transaksi sejumlah gerbang dilakukan atas diskresi kepolisian. Kebijakan tersebut diterapkan setelah massa aksi mulai memasuki ruas tol sehingga akses tertentu perlu dibatasi sementara.
Dalam perkembangan pada Jumat pagi, terdapat lima akses yang tercatat ditutup pada arah Grogol. Kelima akses tersebut terdiri atas akses keluar Pejompongan serta akses masuk Gerbang Tol Cawang, Gerbang Tol Tebet 1, Gerbang Tol Kuningan 1, dan Gerbang Tol Senayan.
Kondisi tersebut berkaitan dengan situasi di sekitar DPR/MPR yang masih ramai. ANTARA melaporkan hingga sekitar pukul 03.00 WIB, kerumunan masih terlihat di kawasan Jalan Jenderal Gatot Subroto, termasuk sekitar Halte Petamburan dan Flyover Slipi. Jalan di depan kompleks DPR/MPR juga masih ditutup.
5 Gerbang Tol Ditutup dan Rekayasa Lalu Lintas
Penutupan akses dilakukan sebagai bagian dari rekayasa lalu lintas sementara. Pengendara yang hendak menggunakan Tol Dalam Kota diarahkan mempertimbangkan jalur lain sesuai kondisi lapangan. Dalam laporan detikNews, pengguna jalan diarahkan menggunakan Jalan Tol Layang Ir. Wiyoto Wiyono atau jaringan Jakarta Outer Ring Road sebagai alternatif.
Selain lima akses pada arah Grogol, terdapat pula sejumlah akses lain yang ditutup pada arah Cawang. Jasa Marga mencatat Gerbang Tol Angke 2, Gerbang Tol Jelambar 2, dan akses Pejompongan termasuk dalam pengaturan tersebut.
Karena itu, angka lima pada judul merujuk pada lima akses yang disebut dalam pengaturan arah Grogol, bukan keseluruhan akses yang terdampak.
Situasi ini menunjukkan bahwa penutupan gerbang tol bersifat situasional dan menyesuaikan perkembangan keamanan di sekitar lokasi aksi. Langkah tersebut tidak serta-merta berarti seluruh ruas Tol Dalam Kota berhenti beroperasi.
Pengaturan dilakukan pada akses tertentu agar arus kendaraan dapat disesuaikan dengan kondisi sekitar.
Bagi pengguna jalan, informasi mengenai pembukaan atau penutupan akses menjadi penting sebelum melakukan perjalanan. Perubahan rekayasa lalu lintas dapat terjadi sewaktu-waktu mengikuti kondisi kerumunan, sehingga pengendara perlu memperhatikan informasi resmi dari pengelola jalan tol dan kepolisian.
Penutupan sementara juga terjadi sehari sebelumnya pada akses keluar Slipi arah Grogol di kilometer 09+650. Jasa Marga menerapkan kebijakan tersebut secara situasional untuk mengantisipasi kepadatan di sekitar kawasan MPR/DPR.
Pengguna jalan kemudian diarahkan melalui sejumlah akses alternatif seperti Semanggi, Grogol, atau Tanjung Duren.
Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa pengaturan tersebut tidak berlangsung permanen. Berdasarkan informasi Jasa Marga yang diberitakan Liputan6, akses kendaraan menuju Tol Dalam Kota kembali dibuka pada pukul 06.01 WIB. Setelah pembukaan, kondisi lalu lintas dilaporkan kembali normal.
Keterangan tersebut penting untuk memberikan gambaran bahwa kondisi jalan berubah mengikuti perkembangan di lapangan. Pengguna jalan yang sempat terdampak penutupan perlu tetap memperhatikan pemberitahuan terbaru agar tidak masuk ke akses yang masih mengalami pembatasan.
Dari sisi pengelolaan transportasi, koordinasi antara kepolisian, Jasa Marga, dan pihak terkait menjadi bagian penting dalam menghadapi situasi kerumunan di sekitar kawasan strategis Jakarta. Rekayasa akses dapat membantu mengurangi potensi konflik antara arus kendaraan dan pergerakan massa.
Masyarakat juga diimbau tidak hanya mengandalkan informasi dari media sosial ketika mencari informasi mengenai kondisi jalan. Pembaruan dari pihak berwenang lebih dapat dijadikan acuan karena status akses tol dapat berubah dalam hitungan waktu.
Kewaspadaan tersebut diperlukan terutama pada jam sibuk ketika volume kendaraan meningkat tajam.
Dengan demikian, lima akses yang menjadi fokus pemberitaan merupakan bagian dari pengaturan lalu lintas sementara akibat kondisi massa di sekitar DPR/MPR. Penutupan dilakukan secara situasional, sementara akses lainnya juga mengalami penyesuaian sesuai arah dan keadaan lapangan.
Pengendara sebaiknya merencanakan perjalanan dengan mempertimbangkan informasi terbaru sebelum memasuki kawasan tersebut.
Baca juga: Demo 27 Agustus di DPR, Empat Kelompok Bawa Tuntutan Berbeda












