Breaking

Gunung Semeru Kembali Erupsi, 3 Letusan Terjadi pada Pagi Hari

nathanael gihon

14 September 2026

infomalangcom – Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Kamis pagi, 18 Juni 2026. Dalam rentang waktu yang berdekatan, gunung api yang berada di Jawa Timur tersebut tercatat mengalami tiga kali letusan, berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang dikutip detikNews.

Rangkaian erupsi tersebut terjadi pada pukul 05.26 WIB, 06.36 WIB, dan 06.39 WIB. Kolom abu yang teramati memiliki ketinggian berbeda, dengan letusan terakhir menjadi yang paling tinggi, yakni mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak.

Gunung Semeru Tiga Kali Erupsi Pagi Hari

Erupsi pertama tercatat pada pukul 05.26 WIB. PVMBG melaporkan kolom abu teramati sekitar 900 meter di atas puncak. Informasi tersebut menjadi catatan awal aktivitas erupsi Gunung Semeru pada pagi itu.

Tidak berselang lama, erupsi kedua terjadi pada pukul 06.36 WIB. Kali ini, tinggi kolom abu yang teramati mencapai sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu terlihat berwarna putih hingga kelabu.

Tiga menit kemudian, Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada pukul 06.39 WIB. Erupsi ketiga menghasilkan kolom abu sekitar 1.000 meter di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dan bergerak ke arah utara.

Baca juga: Harga Pertamax Terancam Naik ke Rp20 Ribu Imbas Minyak Dunia

Data tersebut menunjukkan rangkaian aktivitas erupsi berlangsung dalam waktu berdekatan pada pagi hari. Keterangan mengenai setiap kejadian bersumber dari laporan pengamatan PVMBG melalui sistem informasi kebencanaan gunung api.

Pada kejadian tersebut, tidak semua erupsi memiliki ketinggian kolom abu yang sama. Perbedaan tinggi letusan menjadi bagian dari hasil pengamatan visual yang dicatat petugas pada masing-masing waktu kejadian tersebut.

Pada hari yang sama, Gunung Semeru juga kembali mengalami erupsi pada sore hari. ANTARA melaporkan letusan terjadi pukul 17.15 WIB dengan tinggi kolom letusan sekitar 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Mukdas Sofian menyampaikan bahwa kolom abu pada erupsi sore tersebut berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 165 detik.

Baca juga: Mie Djoetek Malang, Sajian Mie dengan Cita Rasa yang Menggugah Selera

Aktivitas Gunung Semeru pada 18 Juni 2026 berlangsung dalam kondisi status Level III atau Siaga. Data pengamatan yang dikutip Katadata/Databoks dari MAGMA Indonesia juga mencatat 15 gempa letusan atau erupsi pada periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.

Selain gempa letusan atau erupsi, pengamatan tersebut mencatat adanya gempa guguran dan gempa hembusan. Data kegempaan menjadi bagian dari pemantauan aktivitas Gunung Semeru yang dilakukan oleh otoritas terkait.

PVMBG juga memberikan rekomendasi mengenai aktivitas masyarakat di kawasan gunung. Salah satunya adalah pembatasan kegiatan pada sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sesuai ketentuan keselamatan yang berlaku.

Informasi aktivitas vulkanik tersebut penting bagi masyarakat dan pihak terkait untuk memahami perkembangan Gunung Semeru. Setiap perubahan aktivitas perlu dipantau melalui laporan resmi karena kondisi gunung api dapat berubah dari waktu ke waktu.

Bagi warga dan pengunjung kawasan sekitar Gunung Semeru, informasi mengenai status aktivitas menjadi rujukan penting sebelum melakukan kegiatan. Masyarakat juga perlu memperhatikan arahan dari petugas dan pemerintah daerah ketika terdapat perubahan rekomendasi keselamatan.

Tiga erupsi yang terjadi pada pagi 18 Juni 2026 menunjukkan aktivitas vulkanik Semeru masih berlangsung. Letusan tertinggi pada rangkaian pagi tersebut mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak.

Laporan tersebut menjadi bagian dari catatan pemantauan PVMBG terhadap aktivitas Gunung Semeru. Data pengamatan, keterangan petugas, dan rekomendasi keselamatan perlu terus diperhatikan untuk memastikan informasi yang diterima masyarakat tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Peristiwa ini sekaligus menegaskan pentingnya mengikuti informasi dari lembaga berwenang ketika Gunung Semeru mengalami erupsi. Masyarakat tidak perlu mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama terkait arah abu, tingkat aktivitas, maupun potensi bahaya.

Dengan pemantauan berkelanjutan, perkembangan aktivitas Gunung Semeru dapat diketahui berdasarkan data pengamatan. Informasi resmi juga membantu masyarakat menyesuaikan kegiatan sesuai rekomendasi keselamatan yang berlaku.