Breaking

Apa Anjuran Rasulullah pada Malam Lailatul Qadar? Penjelasan Lengkap dan Dalilnya

Ahnaf muafa

28 February 2026

Apa Anjuran Rasulullah pada Malam Lailatul Qadar? Penjelasan Lengkap dan Dalilnya
Infomalangcom - Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Qadr.

Infomalangcom – Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Qadr.

Pada malam istimewa ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Pertanyaannya, apa saja anjuran Rasulullah terkait malam tersebut?

Artikel ini membahas amalan yang dicontohkan langsung oleh Muhammad berdasarkan hadis sahih dan penjelasan ulama.

Menghidupkan Malam dengan Ibadah

Dalam hadis riwayat Aisyah disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sarungnya.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Makna menghidupkan malam adalah memperbanyak qiyamul lail, dzikir, doa, dan membaca Al-Qur’an.

Frasa mengencangkan sarung dipahami para ulama sebagai simbol kesungguhan dalam beribadah dan menjauhi hal-hal yang mengurangi fokus spiritual.

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah tidak menjalani malam tersebut secara biasa, melainkan dengan keseriusan penuh.

Implementasi praktis bagi umat Islam adalah memperbanyak salat malam, memperpanjang sujud, dan memperbanyak istighfar.

Tidak harus sepanjang malam jika tidak mampu, tetapi konsisten dan dilakukan dengan niat yang tulus.

Memperbanyak Doa yang Diajarkan Rasulullah

Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah tentang doa yang sebaiknya dibaca jika bertemu Lailatul Qadar. Beliau mengajarkan doa: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Kata Al-‘Afuww berarti Allah Maha Pemaaf yang menghapus dosa tanpa menyisakan bekas. Doa ini menjadi inti anjuran Rasulullah karena Lailatul Qadar adalah malam penuh ampunan.

Fokus utamanya bukan sekadar permintaan duniawi, melainkan memohon penghapusan dosa. Relevansi doa ini sangat kuat bagi setiap Muslim, sebab manusia tidak luput dari kesalahan.

Dengan memperbanyak doa tersebut, seorang hamba menunjukkan kerendahan hati dan harapan akan rahmat Allah.

Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Ramadhan Terasa Berbeda di Hati

Melakukan I’tikaf di Masjid

Rasulullah senantiasa beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan untuk mencari Lailatul Qadar. Riwayat ini terdapat dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan niat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Tujuan i’tikaf dalam konteks Lailatul Qadar adalah memaksimalkan fokus spiritual dan menjauh dari kesibukan dunia. Dengan berada di masjid, seseorang lebih mudah menjaga konsistensi ibadah.

Secara hukum, i’tikaf pada sepuluh malam terakhir bersifat sunnah muakkadah. Praktiknya meliputi memperbanyak salat, membaca Al-Qur’an, dan berzikir tanpa menyibukkan diri dengan aktivitas yang tidak perlu.

Mencari Lailatul Qadar di Malam-Malam Ganjil

Rasulullah menganjurkan umatnya untuk mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Anjuran tersebut menunjukkan bahwa malam tersebut dirahasiakan waktunya.

Hikmah dirahasiakannya tanggal pasti adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir, bukan hanya satu malam tertentu.

Jika tanggalnya pasti, kemungkinan besar banyak orang hanya fokus pada satu malam saja. Secara logis, usaha konsisten lebih bernilai daripada menebak-nebak waktu pasti.

Semangat mencari dengan ibadah rutin mencerminkan kesungguhan iman.

Memperbanyak Tilawah dan Dzikir

Lailatul Qadar memiliki hubungan erat dengan turunnya Al-Qur’an. Karena itu, memperbanyak tilawah menjadi amalan yang sangat dianjurkan.

Rasulullah dikenal memperbanyak ibadah pada akhir Ramadan, termasuk membaca Al-Qur’an. Dalil umum tentang keutamaan dzikir dan membaca Al-Qur’an menunjukkan bahwa keduanya mendatangkan pahala besar.

Membaca dengan tadabbur dan menghadirkan hati lebih utama daripada sekadar mengejar jumlah.

Amalan konkret yang dapat dilakukan adalah menambah target bacaan harian, memperbanyak istighfar, tasbih, dan tahmid, serta memperdalam makna ayat yang dibaca.

Meningkatkan Kesungguhan dan Mengajak Keluarga

Hadis sahih menyebutkan bahwa Rasulullah membangunkan keluarganya pada sepuluh malam terakhir. Riwayat ini terdapat dalam Sahih Bukhari dan Muslim.

Hal ini menunjukkan bahwa ibadah Lailatul Qadar tidak hanya bersifat personal, tetapi juga kolektif dalam keluarga.

Nilai pendidikan spiritual dalam keluarga sangat penting. Dengan membiasakan anak dan pasangan untuk menghidupkan malam, tercipta lingkungan yang mendukung pertumbuhan iman.

Dalam konteks modern, ajakan ini bisa diwujudkan dengan salat berjamaah di rumah, membaca Al-Qur’an bersama, atau saling mengingatkan untuk berdoa.

Kesungguhan bersama akan memperkuat kualitas ibadah dan mempererat hubungan keluarga dalam bingkai spiritual.

Baca Juga: Tadarus Al-Qur’an di Bulan Ramadhan dan Keutamaannya

Author Image

Author

Ahnaf muafa