Breaking

BI Gelontorkan 10 Miliar Dollar AS dari Cadangan Devisa demi Selamatkan Rupiah yang Terus Melemah

BI Gelontorkan 10 Miliar Dollar AS dari Cadangan Devisa demi Selamatkan Rupiah yang Terus Melemah
BI Gelontorkan 10 Miliar Dollar AS dari Cadangan Devisa demi Selamatkan Rupiah yang Terus Melemah

Infomalangcom – Bank Indonesia tidak tinggal diam menyaksikan rupiah terus tergerus. Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin, 18 Mei 2026, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan fakta mengejutkan: bank sentral telah menghabiskan sekitar 10 miliar dollar AS dari cadangan devisa nasional semata-mata untuk menjaga nilai tukar rupiah agar tidak jatuh lebih dalam.

Pengakuan blak-blakan ini menegaskan betapa seriusnya tekanan yang sedang dihadapi mata uang Garuda saat ini.

Pengakuan Perry Warjiyo di Hadapan DPR

“Karena itu cadangan devisa kami juga turun. Jangan kaget, turun sekitar 10 miliar dollar AS. Tapi jumlah intervensi ini baru spot, baru tunai,” ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI saat rapat kerja dengan Komisi XI di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin 19 Mei 2026.

Pernyataan itu bukan sekadar laporan rutin. Ini adalah sinyal bahwa BI sedang berjuang keras di garis depan pasar valuta asing.

Perry mengatakan cadangan devisa yang digunakan itu untuk intervensi kurs rupiah yang diperdagangkan di pasar spot, baik di dalam maupun luar negeri. Artinya, 10 miliar dollar AS yang sudah terpakai baru mencerminkan sebagian kecil dari total upaya intervensi yang sesungguhnya.

Baca Juga : Berita Indonesia Terkini, Rupiah Tembus Rp17.688 dan DPR Mulai Soroti Pernyataan Gubernur BI

Cadangan Devisa Menyusut dari Bulan ke Bulan

Data menunjukkan tren penurunan cadangan devisa yang konsisten dan mengkhawatirkan. Posisi cadangan devisa Indonesia menyusut menjadi 146,2 miliar dollar AS per akhir April 2026, dibandingkan posisi pada akhir Desember 2025 yang mencatatkan jumlah 156,5 miliar dollar AS.

Jika dirinci per bulan, gambarannya semakin jelas. Cadangan devisa Indonesia turun menjadi 148,2 miliar dollar AS pada Maret 2026 dari 151,9 miliar dollar AS pada bulan sebelumnya, menandai level terendah sejak Juli 2024, terutama didorong oleh upaya Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah di tengah meningkatnya volatilitas pasar global. Kemudian pada April, angka itu kembali merosot menjadi 146,2 miliar dollar AS.

Meski demikian, BI menegaskan posisi tersebut masih dalam kategori aman. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa posisi cadangan devisa setara dengan sekitar 114 persen dari ukuran kecukupan cadangan devisa berdasarkan standar internasional yang ditetapkan oleh IMF dan mencerminkan kuatnya ketahanan eksternal Indonesia.

Cadangan devisa yang tersisa masih cukup untuk menutupi 5,8 bulan impor, jauh di atas tolok ukur kecukupan internasional sekitar tiga bulan.

Strategi Berlapis BI untuk Tahan Rupiah

BI tidak hanya mengandalkan intervensi tunai di pasar spot. Guna mencegah pengurasan cadangan devisa yang lebih besar, Bank Indonesia mengombinasikan kebijakan tersebut dengan instrumen intervensi lain seperti hedging, swap, forward, serta menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.

“Penurunan cadangan devisa yang sekitar 10 miliar dollar AS itu baru sebagian saja intervensi yang tunai ini. Karena yang sebagian besar lebih dari dua per tiga itu adalah untuk secara swap sama hedging. Karena ini adalah supaya tidak semuanya menguras cadangan devisa,” jelas Perry Warjiyo.

Langkah menaikkan imbal hasil SRBI terbukti mulai membuahkan hasil. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pihaknya telah menaikkan imbal hasil SRBI untuk tenor 6 bulan menjadi 6,21 persen, tenor 9 bulan menjadi 6,31 persen, dan 12 bulan menjadi 6,45 persen per 13 Mei 2026.

Total inflow SRBI secara kumulatif sepanjang tahun berjalan mencapai Rp105,16 triliun, yang membantu memperkuat pasokan valas domestik di tengah tingginya permintaan dolar AS akibat faktor global dan musiman.

Tekanan Eksternal dan Musiman Jadi Biang Kerok

Mengapa rupiah sedemikian tertekan sehingga BI harus bekerja sekeras ini? Faktor eksternal seperti tingginya suku bunga di Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil US Treasury, serta ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama hengkangnya modal dari negara berkembang.

“Artinya terjadi suatu pelarian modal dari emerging market ke negara maju, khususnya Amerika Serikat,” jelas Perry Warjiyo.

Di sisi domestik, ada faktor musiman yang memperparah keadaan. Tekanan terhadap rupiah diproyeksikan masih tinggi pada periode April hingga Juni akibat faktor musiman seperti pembayaran dividen, kebutuhan haji, dan pelunasan utang luar negeri.

Kombinasi antara tekanan eksternal global dan kebutuhan dolar musiman inilah yang membuat intervensi BI harus dilakukan dalam skala besar.

Rupiah terdepresiasi ke level Rp17.700 per dolar AS per 19 Mei 2026, melemah 2,20 persen dibanding akhir April. Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia mengambil langkah agresif dengan menaikkan BI-Rate ke level 5,25 persen guna membentengi perekonomian domestik dari rambatan guncangan geopolitik global.

BI optimis tekanan ini tidak akan berlangsung selamanya. Perry memperkirakan kebutuhan intervensi akan menurun mulai Juli hingga Agustus seiring meredanya permintaan valas musiman. Namun hingga saat itu tiba, cadangan devisa masih akan menjadi tameng utama yang terus diuji ketahanannya setiap hari di pasar keuangan global.

Baca Juga : Sejauh Mana Rupiah Bisa Melemah dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?